Wisata dan Budaya Program Berkualitas, Perlu Sinergi Promosi di Media

14

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis mengungkapkan masa pandemi sangat memberikan dampak yang kurang baik di beberapa sektor, terutama hiburan dan pariwisata.

Kenyataan yang dihadapi oleh para pengusaha yang bergerak di bidang wisata tentu harus berpikir berkali-kali lipat untuk bekerja dengan strategi yang cermat untuk menyiasati kehidupan yang ditopang oleh para wisatawan yang datang ke daerahnya.

Merujuk data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, hingga akhir 2020 total kerugian sektor pariwisata di Indonesia akibat pandemi Covid-19 dibarengi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar mencapai lebih dari Rp10 triliun.

“Di tahap awal pandemi tahun 2020, terlihat penurunan drastis wisatawan. Meskipun sekarang secara perlahan sektor pariwisata sudah mulai dibuka kembali, butuh waktu dan proses agar kenaikan wisatawan bisa seperti sedia kala,” ungkap Yuliandre saat menjadi pemateri dalam kegiatan Diseminasi Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Tahun 2020 dengan tema “Peran Penyiaran untuk Kebangkitan Pariwisata Bali” di Westin Hotel, Bali, Kamis (22/4/2021).

Dalam ranah media, kata Yuliandre, salah satu hal yang dapat dimanfaatkan untuk membantu kenaikan ekonomi pariwisata adalah pemanfaatan media penyiaran.

Peranan media sebagai wadah untuk melakukan aktivitas promosi dari obyek wisata dirasa sangat tepat sasaran. Beberapa program yang ada di lembaga penyiaran  harus terus dikembangkan dengan tujuan untuk mempromosikan wisata budaya di Indonesia.

Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Program wisata budaya menjadi salah satu program yang dinilai KPI dalam Riset Indeks Kualitas Program Siaran TV. Kualitas program televisi di Indonesia cenderung mengalami kenaikan. Kategori program wsata budaya adalah salah satu program yang berkualitas dengan angka indeks 3,44.

Baca Juga:  Baru Diluncurkan, Lagu "Pambangkik Batang Tarandam" Langsung Viral!

Indeks program wisata dan budaya di seluruh stasiun TV telah mencapai standar yang ditetapkan KPI. Yuliandre mencontohkan stasiun TV memiliki indeks tertinggi adalah TVRI dengan indeks sebesar 3.77, kemudian diikuti dengan Metro TV dengan indeks sebesar 3.66.

“Pemanfaatan lain untuk meningkatkan pariwisata adalah iklan layanan masyarakat yang ditayangkan di media penyiaran khususnya TV. Setiap tahunnya angka indeks program wisata budaya dari tahun ke tahun, selalu konsisten dengan indeks berkualitas,” tutur Yuliandre.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali, Pande Agus Permana Widura mengatakan pandemi ini membuat penuruan pendapatan para pengusaha di Bali.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, pertumbuhan ekonomi Bali pada 2020 menjadi yang terendah. Pada 2020, laju pertumbuhan ekonomi kumulatif Bali berada pada level minus 9,31 persen.

Pandemi yang memukul sektor Pariwisata menjadi bahan evaluasi untuk menggenjot sektor alternatif. Salah satu yang harus digarap lebih serius adalah pertanian.

Untuk menggairahkan sektor pertanian, Pemerintah Provinsi Bali mendorong pemanfaatan teknologi. Pelaku usaha di Bali juga mengalami penurunan permintaan. Tiga pelaku usaha di sektor yang paling terdampak antara lain, pelaku usaha sektor akomodasi dan makanan-minuman turun sebesar 87 persen.

Pelaku usaha sektor transportasi dan pergudangan sebesar 85 persen dan pelaku usaha sektor jasa sebesar 85 persen.

“Saat bertahan, kita juga perlu

melakukan inovasi dengan produk jasa yang bisa cepat beradaptasi. Kondisi seperti ini diharapkan dapat menyeimbangkan sektor ekonomi. Kini Bali harus mengembangkan industri alternatif untuk pemulihan ekonomi dan nilai produk Bali,” kata Pande.(rel)

Previous articleHanung Garap Film Sang Guru Pamong, Kisah Pegawai Negeri Teladan
Next articlePredikat B, Pemkab Pessel Dapat Penghargaan SAKIP dari KemenPAN-RB