Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

185 Kelas Kontes Batu Akik Piala Gubernur Sumbar, Peserta Datang dari Luar Daerah

Hendra Efison
Penulis: Hendra Efison❯
Pameran dan Kontes Batu Akik Piala Gubernur bertajuk Kearifan Lokal Tanah Minang di Kota Padang, Sabtu (31/10/2026).
Pameran dan Kontes Batu Akik Piala Gubernur bertajuk Kearifan Lokal Tanah Minang di Kota Padang, Sabtu (31/10/2026).

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM— Sebanyak 185 kelas dipertandingkan dalam Pameran dan Kontes Batu Akik Piala Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) di Food Court Rajo Corner, Kota Padang, Sabtu (31/10/2026). Pesertanya datang dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar hingga sejumlah daerah di luar provinsi.

Kontes bertajuk Kearifan Lokal Tanah Minang itu menjadi salah satu upaya mengangkat kembali tradisi batu akik yang pernah populer pada 2014–2015. Namun, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang adu koleksi dan keindahan batu alam. Penyelenggara juga ingin memperkenalkan nilai seni dan filosofi batu akik Minangkabau kepada masyarakat.

Ketua Pelaksana kegiatan, Ilham Agung Saputra, mengatakan peserta berasal dari Payakumbuh, Agam, Padang, Pasaman, Pesisir Selatan, dan Pariaman. Selain itu, kontestan dari luar Sumbar juga ikut berpartisipasi, di antaranya dari Riau, Jambi, dan Pulau Jawa.

Advertisement

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah yang membuka kegiatan tersebut mengapresiasi Gamestone Minang Saiyo dan panitia karena telah menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal warisan budaya batu akik.

Menurut Mahyeldi, batu cincin dalam tradisi Minangkabau tidak hanya berfungsi sebagai perhiasan. Benda tersebut juga memiliki keterkaitan dengan nilai kedewasaan, kebesaran, dan cita rasa seni masyarakat.

Bukan Sekadar Batu Perhiasan

Advertisement

Mahyeldi menjelaskan, nilai budaya batu akik terlihat dari proses pemilihan bahan, pengolahan, hingga pembuatan ikek atau cincin. Beragam bentuk dan ukiran pada ikek mencerminkan keterampilan serta kehalusan seni yang diwariskan generasi terdahulu.

“Keindahannya tidak hanya secara visual, namun ada makna yang terkandung di dalamnya,” ungkap Mahyeldi.

Karena itu, ia menilai tradisi batu akik perlu terus diperkenalkan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Generasi muda juga perlu mengenal nilai sejarah dan filosofi yang melekat pada kerajinan tersebut.

Mahyeldi mengingatkan, geliat batu akik yang berkembang luas pada 2014–2015 merupakan bagian dari sejarah ketertarikan masyarakat terhadap kekayaan batu alam Nusantara. Perhatian terhadap tradisi itu diharapkan kembali tumbuh melalui kegiatan pameran dan kontes.

Berpeluang Menjadi Ruang Pelestarian Budaya

Pemerintah Provinsi Sumbar mendukung upaya mengangkat kembali batu akik sebagai bagian dari khazanah seni dan budaya Minangkabau. Pameran dan kontes diharapkan tidak hanya menjadi ruang bagi penghobi dan kolektor, tetapi juga sarana mengenalkan keterampilan pengolahan batu alam.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer