Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

7 Ciri Halus Orang yang Selalu Mengejar Validasi di Media Sosial, Apakah Kamu Salah Satunya?

Suci Kurnia Putri • Senin, 3 Februari 2025 | 12:42 WIB

Ilustrasi individu sedang bermain media sosial.
Ilustrasi individu sedang bermain media sosial.
PADEK.JAWAPOS.COM—Di era digital seperti sekarang, media sosial bukan hanya tempat berbagi cerita, tetapi juga menjadi ajang pencarian validasi.

Sadar atau tidak, banyak orang yang menggantungkan rasa percaya diri mereka pada jumlah like, komentar, dan share yang mereka dapatkan.

Meskipun berbagi momen di media sosial bukanlah hal yang salah, ada garis tipis antara berbagi secara natural dan mencari pengakuan secara berlebihan.

Dikutip dari website Geediting pada Senin (3/2/25), Berikut 7 ciri orang yang butuh validasi di media sosial.

  1. Selalu Mengukur Diri dari Jumlah Like dan Komentar

Bagi sebagian orang, jumlah like dan komentar bisa menjadi tolok ukur kebahagiaan. Jika unggahan mereka mendapatkan banyak respons, mereka merasa dihargai. Sebaliknya, jika minim interaksi, mereka mulai merasa tidak cukup baik.

Jika kamu sering menghapus postingan yang engagementnya rendah atau merasa kecewa hanya karena unggahanmu tidak viral, bisa jadi kamu tanpa sadar mengejar validasi di media sosial.

  1. Sering Membandingkan Kehidupan dengan Orang Lain

Pernah merasa minder setelah melihat postingan seseorang tentang liburan mewah, pencapaian besar, atau kehidupan yang tampak sempurna?

Orang yang haus validasi cenderung terjebak dalam lingkaran perbandingan. Mereka merasa harus selalu menunjukkan versi terbaik dari hidup mereka, bahkan jika itu berarti sedikit ”mempercantik” kenyataan agar terlihat lebih menarik.

  1. Tidak Bisa Melewati Sehari tanpa Posting

Apakah kamu merasa gelisah jika dalam sehari tidak mengunggah sesuatu di media sosial? Jika iya, ini bisa menjadi tanda bahwa kamu sangat bergantung pada perhatian online.

Berbagi momen hidup memang wajar, tetapi jika setiap aktivitas kecil harus diposting agar mendapatkan reaksi, mungkin sudah saatnya kamu mengevaluasi kembali alasan di balik kebiasaan tersebut.

  1. Menampilkan Kehidupan yang Tampak Sempurna

Foto-foto yang selalu estetik, caption yang selalu inspiratif, dan kehidupan yang tampak tanpa cela bisa menjadi tanda bahwa seseorang ingin menciptakan citra ideal di dunia maya.

Masalahnya, upaya untuk selalu terlihat sempurna bisa berujung pada tekanan emosional. Tidak ada kehidupan yang benar-benar tanpa cela, dan media sosial hanya menampilkan potongan kecil dari realitas yang sering kali sudah disaring.

  1. Reaksi Emosional Berlebihan pada Engagement

Pernah merasa sangat bahagia saat unggahanmu viral? Atau sebaliknya, merasa kecewa saat interaksi yang didapat lebih sedikit dari ekspektasi?

Reaksi emosional yang berlebihan terhadap engagement bisa menjadi tanda bahwa kamu terlalu menggantungkan harga dirimu pada media sosial. Seharusnya, keberhargaan diri tidak ditentukan oleh jumlah like atau komentar dari orang lain.

  1. Sering Membuat Status atau Postingan Misterius

Suka membuat status yang samar-samar seperti "Aduh, kenapa harus terjadi begini?" atau "Kadang hidup itu lucu ya..." tanpa penjelasan lebih lanjut?

Ini adalah salah satu cara halus untuk menarik perhatian dan mendapatkan reaksi dari orang lain. Biasanya, tujuannya adalah agar orang bertanya dan memberikan perhatian lebih, yang pada akhirnya memberikan rasa validasi bagi si pembuat unggahan.

  1. Merasa Gelisah Jika tidak Mendapat Respons

Apakah kamu sering mengecek ponsel berulang kali setelah mengunggah sesuatu? Jika tidak ada yang memberi like atau komentar dalam beberapa menit, apakah kamu mulai merasa gelisah?

Kecemasan semacam ini bisa menjadi tanda bahwa kamu terlalu mengandalkan media sosial untuk mendapatkan pengakuan.

Semakin sering kamu membiarkan dirimu terjebak dalam pola ini, semakin sulit untuk lepas dari kebutuhan akan validasi eksternal.

Mengejar validasi di media sosial adalah hal yang lumrah, tetapi jika dibiarkan, bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.

Jika kamu merasa memiliki beberapa ciri di atas, jangan khawatir! Coba mulai kurangi kebiasaan membandingkan diri, lebih banyak menikmati momen tanpa harus selalu membagikannya, dan temukan validasi dari dalam diri sendiri, bukan dari jumlah like atau komentar. (*)

Editor : Adetio Purtama
#media sosial #Validasi di Media Sosial #era digital