PADEK.JAWAPOS.COM—Hubungan antara orangtua dan anak tidak berhenti berkembang ketika anak beranjak dewasa. Sebuah refleksi mendalam tentang dinamika keluarga modern mengungkap bahwa rasa hormat dari anak bukanlah sesuatu yang otomatis hadir karena faktor usia atau status sebagai orangtua.
Berangkat dari pengalaman personal seorang ayah serta pengamatannya terhadap perbedaan budaya antar generasi, muncul satu kesimpulan penting: rasa hormat harus dibangun, bukan diminta. Terutama ketika anak telah memiliki kehidupan, pemikiran, dan pilihan sendiri.
Dikutip dari laman Geediting, Rabu (4/2/2026) berikut delapan perilaku orang tua yang dinilai justru menjadi penghambat munculnya rasa hormat dari anak-anak yang telah dewasa:
- Memperlakukan Anak Dewasa seperti Anak Kecil
Mengatur berlebihan, memberi nasihat tanpa diminta, hingga mencampuri keputusan pribadi menciptakan kesan kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan anak.
- Selalu Ingin Terlihat Paling Benar
Sikap defensif dan enggan mendengar pandangan anak membuat hubungan menjadi kaku. Dialog sehat hanya bisa terwujud jika kedua pihak saling menghargai perspektif.
- Menggunakan Rasa Bersalah sebagai Alat Kedekatan
Menyindir anak karena jarang menelepon atau berkunjung tidak akan mempererat hubungan, justru menciptakan jarak emosional.
- Meremehkan Masalah yang Dihadapi Anak
Tantangan generasi saat ini—mulai dari tekanan kerja hingga dinamika sosial—berbeda dengan masa lalu. Mengakui kesulitan mereka adalah bentuk empati, bukan kelemahan.
- Menjadikan Pencapaian Anak sebagai Cermin Diri
Keberhasilan anak perlu dirayakan, tetapi tetap harus dihormati sebagai hasil perjuangan mereka sendiri.
- Terjebak Pada Standar Hidup Lama
Ekspektasi tentang pernikahan, karier, atau memiliki anak sering kali tidak relevan dengan kondisi zaman. Menghargai pilihan hidup anak adalah fondasi hubungan jangka panjang.
- Terus Mengungkit Kesalahan Lama
Menghidupkan kembali kesalahan masa lalu hanya akan merusak kepercayaan dan menunjukkan bahwa luka belum benar-benar sembuh.
- Enggan Mengakui Kesalahan Pribadi
Permintaan maaf yang tulus dari orangtua justru menjadi teladan kedewasaan emosional dan membangun rasa hormat yang mendalam.
Pada akhirnya, hubungan orangtua dan anak dewasa menuntut transformasi. Bukan lagi relasi kuasa, melainkan kemitraan emosional yang dilandasi empati, penerimaan, dan kejujuran. (*)
Editor : Adetio Purtama