Namun, riset psikologi justru menunjukkan kebiasaan tersebut menjadi sinyal kuat adanya ikatan persahabatan yang solid dan penuh kejujuran.
Fenomena ini muncul dalam interaksi sehari-hari sahabat yang merasa nyaman menunjukkan sisi apa adanya tanpa takut dihakimi.
Alih-alih melukai, ejekan ringan berfungsi sebagai bahasa emosional yang hanya dipahami oleh mereka yang memiliki kedekatan mendalam.
Ejekan sebagai Bentuk Kepercayaan
Dalam hubungan pertemanan yang sehat, candaan sarkas mencerminkan rasa saling percaya yang telah terbangun kuat.
Struktur interaksi ini memungkinkan setiap individu mengekspresikan pikiran secara jujur tanpa perlu menjaga citra berlebihan.
Psikolog Peter Gray, Ph.D., menjelaskan bahwa candaan timbal balik dapat memperkuat ikatan emosional selama dilakukan dengan niat baik.
Menurutnya, ejekan bukan untuk mempermalukan, melainkan menjadi sarana membangun kedekatan yang lebih otentik.
Unggahan akun kulonprogospotlight pada Minggu (8/2/2026) turut menegaskan bahwa sarkasme menandakan hubungan yang aman secara emosional.
“Candaan atau ejekan ringan antar teman dekat mencerminkan kepercayaan, kenyamanan, dan kedekatan emosional,” tulis akun tersebut.
Kondisi ini hanya dapat tercapai ketika kedua pihak memahami batasan masing-masing secara tidak tertulis.
Batas Sehat dalam Candaan
Meski demikian, psikolog menekankan bahwa ejekan harus tetap berada dalam koridor saling menghormati.
Peter Gray mengingatkan bahwa candaan yang sehat bersifat timbal balik dan tidak menyasar kelemahan sensitif salah satu pihak.
Ketika batas ini dilanggar, humor berpotensi berubah menjadi perundungan yang merusak kesehatan mental.
Dalam persahabatan yang kuat, empati tetap menjadi fondasi utama di balik setiap lelucon.
Teman yang berani jujur melalui ejekan ringan umumnya lebih setia saat menghadapi persoalan serius.
Mereka telah terbiasa menerima sisi kurang sempurna satu sama lain tanpa kepura-puraan.
Bahasa Kasih dalam Pertemanan
Setiap hubungan memiliki cara unik dalam mengekspresikan kedekatan emosional.
Bagi sebagian orang, ejekan sayang menjadi bentuk perhatian yang justru mempererat ikatan persahabatan.
Namun, kepekaan tetap diperlukan agar candaan tidak menimbulkan ketidaknyamanan tersembunyi.
Jika salah satu pihak merasa tersinggung, komunikasi terbuka menjadi kunci menjaga hubungan tetap sehat.
Riset ini menegaskan bahwa persahabatan tidak selalu diukur dari kelembutan kata, tetapi dari kejujuran dan rasa aman yang terbangun.
Dalam konteks tersebut, saling ejek bisa menjadi simbol kesetiaan yang telah teruji oleh waktu dan kepercayaan.(cr3)
Editor : Hendra Efison