Gunawan Maryanto, Susutkan 5 Kilogram demi Wiji Tukul

Gunawan Maryanto. (JawaPos.com)

Gunawan Maryanto menyabet penghargaan kategori Pemeran Utama Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2020. Berikut wawancara wartawan Jawa Pos (Grup Padang Ekspres) Diar Candra dengan pemeran Siman di film The Science of Fictions itu tentang observasi karakter, pengalamannya berperan sebagai Wiji Thukul, dan tip di dunia keaktoran.

Selamat untuk kemenangan di FFI 2020 ini. Bagaimana Anda melihat penghargaan itu?
Aku menganggapnya sebagai apresiasi atas kerja keaktoranku selama ini. Maksudku, ini bukan sebuah kompetisi meski ada yang menang di sana. Bukan berarti aku lebih baik daripada yang lain. Aku juga tidak menduga akan sampai ke sana. Dari kerja keaktoran yang kulakukan selama ini, aku juga tidak berpikiran harus dapat (Piala) Citra. Atau, saat menulis, (berpikir) harus dapat Khatulistiwa Award, nggak sama sekali.

Mulai kapan merambah dunia keaktoran dan pentas pertama?
Aku kali pertama berteater dan menjadi aktor saat duduk di kelas VI di SDN Caturtunggal 7. Saat itu aku bergabung dengan Teater Rambutan yang disutradarai Rudi Corens. Seorang sutradara Belgia yang tinggal di Yogyakarta.

Langsung menjadi pemeran utama atau figuran?
Aku tidak pernah menganggap peran itu harus dikategorikan figuran atau peran utama. Aktor ya aktor. Entah peran besar, entah peran kecil.

Masih ingat judulnya?
Bawang Merah dan Bawang Putih kalau gak salah. Itu kan teater anak-anak. Kami main keliling kampung-kampung dan (beberapa) sekolah dasar setiap akhir pekan. Dari Rudi Corens ini, aku mengenal dasar-dasar teater modern. Setelah itu, Teater Emwe saat SMA, sempat gabung dengan Sanggar Anom bersama Hanung Bramantyo. Kemudian, kuliah Fisipol UGM pada 1994 dan masuk Teater Garasi. Singkatnya Teater Rambutan, Teater Emwe, Sanggar Anom, kemudian Teater Garasi sampai sekarang.

Mengapa ketagihan dengan dunia teater?
Aku tertarik dengan seni pertunjukan sejak kecil. Sering nonton ketoprak dan wayang. Kebetulan, simbahku nyungging wayang dan gambar wayang. Bapakku sering main ketoprak kampung. Di rumah ada gamelan. Jadi, aku kayak akrab dengan seni tradisional sejak kecil. Dari ibu, aku dapat buku-buku perihal wayang, dongeng-dongeng. Terus, nonton pertunjukan di Purna Budaya UGM. Jadi, lingkungan kecilku, bapakku, simbah, dan ibu seneng seni.

Apakah observasi sebelum memainkan peran itu cuma reading atau ada metode lain?
Reading saja jelas tak akan cukup. Aktor itu menyeluruh. Peran itu harus benar-benar menubuh dalam dirinya. Jadi, harus tahu perannya apa. Kemudian, tahu beberapa hal yang mesti dikejar untuk pijakan awal. Misalnya, secara fisik akan seperti apa atau fisiologisnya seperti apa. Bagaimana cara dia jalan, duduk, harus ada gambaran yang kuat secara visual.

Pendalaman fisiologis paling ekstrem?
Opo yo. Nggak ada yang ekstrem rasanya. Tapi, untuk memerankan Wiji Thukul, aku menguruskan badan sekitar 5 kilogram. Sebab, waktu tes kamera, aku terlalu gemuk. Waktunya sangat pendek, hanya sekitar 1,5 bulan.

Berapa lama periode observasinya?
Bergantung peran. Aktor dan peran kan ada jarak. Jarak semakin jauh, semakin lama menempuhnya untuk mendekati peran ini. Kalau perannya dekat dengan keseharian aktor, dengan kebiasaan aktor, barangkali tidak butuh waktu lama. Kalau perannya bertolak belakang dengan keseharian si aktor, artinya butuh waktu. Memasuki aspek fisiologis, kemudian lingkungannya atau sosiologisnya. Kemudian, masuk ke aspek psikologis. Nah, ini yang nggak nampak. Kalau psikologis ada di dalam. Dia menyimpan trauma apa, punya ketakutan apa, kecemasan apa, kesedihan apa.

Baca Juga:  Buka Peluang Talenta-talenta Baru, Resso Adakan Coaching Clinic

Di film Istirahatlah Kata-Kata, apa Mas Gunawan wawancara keluarga Wiji Thukul, lalu observasi tempat dia tinggal?
Kalau (peran) Wiji Thukul beda lagi. Pendekatanku berbeda. Pertama, aku sengaja mengambil jarak dari lingkungan Wiji Thukul karena ada banyak ketegangan. Aku nggak mau membebani Mbak Pon (istri Wiji Thukul, red) dan yang penting mereka percaya. Itu satu hal. Kemudian, riset dilakukan orang lain, bukan aku sendiri. Aku tidak melakukan wawancara. Sebab kalau itu dilakukan malah tidak memberikan jarak dan tidak ada keobjektifan. Kalau aku bicara dengan Mbak Pon, justru tidak ada jarak, secara emosional juga beda. Aku sengaja tidak bertemu dengan mereka sampai filmnya rampung. Aku tidak mau terganggu dengan ikatan-ikatan emosi yang barangkali berlebihan.

Adakah korelasi proses kreatif menulis cerpen, puisi, dan naskah teater? Karena Anda sudah punya lima buku kumcer, lima buku puisi, dan sekitar enam naskah penyutradaraan.
Iya. Ketiganya berhubungan. Itu memang medium yang berbeda, disiplin yang berbeda, dan gak bisa campur-campur. Nalar puisi dengan prosa berbeda. Aku kenal dengan kata, mencintai kata, kemudian menjadi penulis juga karena teater. Kemudian aku serius belajar nulis pada 2000 di Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) yang didirikan Insist. Di AKY ini bareng Puthut EA dan Eka Kurniawan.

Peran Teater Garasi dalam karir keaktoran?
(Teater) Garasi berdiri sejak 1993 di Fisipol UGM. Aku masuk 1994 dan sampai sekarang. Artinya, sudah 26 tahun di Teater Garasi. Bisa dibilang (Teater) Garasi yang mematangkan. Belajar produksi karya, tradisi keaktoran, disiplin training, hingga banyak pemahaman teater.

Tip buat yang memulai keaktoran?
Harus membangun disiplin. Disiplin latihan itu harus ada. Jangan dipikirnya aktor itu tinggal main karena itu kerjaan sehari-hari terus simsalabim begitu saja. Di keaktoran, jalan atau duduk bisa fals kok sebagaimana nyanyi yang juga bisa fals. Keaktoran itu sangat berbeda dengan kegiatan sehari-hari meski rujukannya aktivitas harian.

Di dunia keaktoran di Indonesia, Mas Gunawan mengidolakan siapa?

Ada banyak panutan yang coba aku ”curi” ilmunya. Di keaktoran, misalnya. Aku nonton W.S. Rendra, Putu Wijaya, Mas Landung Simatupang, Mas Slamet Gundono. Aku menonton banyak aktor untuk kemudian mencari apa yang istimewa dari mereka. Apa saja yang bisa dipelajari dari mereka. Kalau seniman mengidolakan itu susah. Sebab, kalau demikian, dia akan sekadar epigon. Nah, kalau penggemar rapopo. Seniman harus belajar banyak.
Saat menang di FFI, Eka Kurniawan sempat mencuit, ”Selamat ya, Ndhil”.
Oh, itu paraban (panggilan, red). Panggilan cindhil itu sejak aku SMA. Kawan-kawan memanggilku pakai nama itu, bahkan sampai sekarang. (*/c14/dra/jpg)

Previous articleBahagian karena Teriakkan “SII”
Next articlePengedar Melawan, Kepala BNNK Terluka