Zaki ”Gunjingan” Guru

10
Oktawelia, S.Pd (Guru SMPN 1 Kecamatan Guguak

Setelah menuntaskan beberapa pekerjaan, Bu Yani pun beranjak keluar ruangannya. Di ruang guru sudah mulai terdengar senda gurau.

“Siswa kita yang satu itu memang aneh, setiap pagi selalu lewat di depan ruang guru dan selalu menyapa kita satu persatu, seperti mengabsen saja,” kata Bu Sandra.

“Tapi pakaiannya tak pernah rapi,” kata Bu Widya.

“Sama saya tugasnya belum ada yang masuk,” kata Pak Edi.

Bu Yani hanya mendengarkan seloroh guru pagi ini. Tampaknya para guru sedang membicarakan salah seorang siswa. Bu Yani pun berlalu ke ruang piket, sambil melihat daftar pelajaran.

“Ada guru kita yang tidak hadir Bu?” tanya Bu Yani kepada Bu Yanti yang piket hari ini.

“Tidak Bu, semua guru kita hadir,” kata Bu Yanti.

Tidak lama setelah itu, Bu Yani kembali ke ruangannya. Tetapi Bu Yani masih penasaran dengan siswa yang dibicarakan oleh guru-guru pagi ini. Bu Yani ingin tahu siapa siswa tersebut.

Setelah bel istirahat berbunyi Bu Yani memanggil Bu Sandra ke ruangannya. Bu Yani menanyakan siapa siswa yang dibicarakan tadi pagi.

“Namanya Zaki Bu, dia pergi ke sekolah tidak pernah rapi, bajunya jarang disetrika, kalau belajar pemalas, dan sering tidur, padahal dia sudah kelas Sembilan,” kata Bu Sandra panjang lebar.

Bu Yani mulai memahami apa yang diceritakan oleh guru pagi tadi. “Tugasnya banyak yang belum masuk, ulangan pun banyak yang tidak tuntas,” tambah Bu Sandra.

“Terimakasih ya Bu Sandra, atas informasinya,” kata Bu Yani.

“Satu lagi Bu, anak ini setiap pagi pasti lewat ke kantor kita dan pasti menyapa guru. Seakan akan dia mengabsen kita Bu,” kata Bu Sandra lagi sambil tersenyum.

Bu Yani pun tersenyum mendengar penjelasan Bu Sandra.
***

“ Namanya siapa nak?” Bu Yani mulai interogasi.

“Zaki Bu,” katanya sambil memainkan ujung bajunya.

“Bajunya tolong dimasukkan ya nak, supaya rapi,” kata Bu Yani lagi.

“ Iya Bu,” kata Zaki sambil berlalu.

Bu Yani terus memandang Zaki yang mulai berlalu.

Dalam hati Bu Yani mulai berkata pantasan guru-guru membicarakan Zaki, memang kayaknya anaknya tidak terurus. Bu Yani pun menghela napas yang dalam.

Siang ini Bu Fitri sebagai wali kelas Zaki dipanggil oleh Bu Yani. Bu Yani ingin tahu bagaimana latar belakang Zaki dan apa permasalahan yang terjadi pada Zaki. Bu Fitri pun menceritakan bahwasanya Zaki berasal dari keluarga kurang mampu.

Kehidupan keluarganya sangat memprihatinkan. Rumahnya tidak layak huni. Sedangkan Zaki sepulang sekolah menggembala sapi. Dan Zaki pagi sebelum ke sekolah membantu pedagang ikan menangkap ikan di kolam untuk dijual kembali.

Dan kalau ada mobil semen yang akan membongkar muatannya Zaki pun ikut. Zaki mencari uang jajan sendiri, dan bahkan dia membantu kehidupan keluarganya.

“Saya sebagai wali kelasnya sudah berkunjung ke rumah Zaki, dan sudah bertemu dengan orang tuanya Bu,” kata Bu Fitri.

“Terimakasih atas informasinya ya Bu, mudah-mudahan anak kita ini bisa berubah,” kata Bu Yani.

Cerita Bu Fitri seakan mengingatkan Bu Yani akan masa lalunya. Bu Yani pun terlahir dari keluarga yang kurang mampu, bahkan bisa dibilang miskin. Untuk makan saja mereka harus berbagi. Mulai hari itu, hati Bu Yani mulai tergerak untuk mendekati Zaki. Bu Yani yakin Zaki pasti akan bisa melewati semuanya.

Seperti biasa, Zaki tetap menjadi buah bibir bagi guru-guru. Bu Yani tak pernah ikut dengan pembicaraan teman-temannya. Dia hanya mendengarkan saja. Bu Yani sudah bertekad akan merubah Zaki.

Zaki saat ini butuh motivasi agar dia tetap semangat menjalani hidup dan rajin belajar. Karena sebentar lagi ujian akhir akan dilaksanakan. Setelah jam pelajaran selesai Bu Yani berdiri di teras sekolah. Satu persatu siswa mulai meninggalkan sekolah.

Tak ketinggalan dengan Zaki. Tapi kali ini Bu Yani langsung mencegat Zaki. Bu Yani langsung memanggil Zaki dan mengajak Zaki ke ruangannya. Guru-guru memandangi Bu Yani dan Zaki. Mereka pun berlalu ke ruangan sebelah.

“Maaf ya Zaki, terpaksa Zaki terlambat pulang karena ibu perlu dengan Zaki,” kata Bu Yani memulai pembicaraannya.

“Tidak apa-apa Bu,” kata Zaki sambil duduk di depan Bu Yani.

“Zaki tinggal dimana?” tanya Bu Yani.

“Di simpang empat Bu,” jawab Zaki dengan santainya.

Bu Yani pun memulai pembicaraan dengan santai. Bu Yani tidak ingin Zaki merasa tertekan karena di ruangan itu hanya ada Bu Yani dan Zaki. Bu Yani mulai menanyakan jumlah saudara dan pekerjaan orang tuanya. Bu Yani pun sangat hati-hati sekali. Satu persatu Zaki mulai menjawab pertanyaan dari Bu Yani.

Mata Bu Yani tak pernah lepas dari wajah Zaki dan caranya menjawab pertanyaan dari Bu Yani. Terkadang Zaki tidak mau menatap wajah Bu Yani. Zaki mulai menampakkan raut wajah sedih.

“Pulang sekolah saya menggembala sapi Bu. Paginya saya membantu tetangga yang menangkap ikan di kolam untuk di jual ke pasar. Jam empat subuh saya sudah ke sana Bu. Pulang kerja baru saya ke sekolah,” kata Zaki yang mulai agak tersedak.

Air mata Zaki mulai berlinang. Namun Zaki tetap tenang menjawab pertanyaan Bu Yani. Dada Bu Yani pun mulai sesak mendengar cerita Zaki.

“Kata Bu Guru Zaki sering ke sekolah matanya merah, kenapa ya?” Tanya Bu Yani lagi.

“Maaf ya Bu, bukan saya bergadang tapi kalau ada truk yang membongkar semen saya pun ikut Bu, mungkin mata saya kemasukkan semen Bu,” kata Zaki.

Mendengar cerita Zaki, Bu Yani tidak bisa lagi menahan air matanya. Mereka sama-sama menangis dan hanyut dengan perasaannya masing-masing.

“Saya tidak mau menyusahkan orang tua saya Bu,” kata Zaki lagi sambil terisak.

“Terkadang uang yang saya dapat saya kasih ke ibu saya untuk memenuhi kebutuhan kami Bu,” kata Zaki lagi.

Bu Yani masih diam dengan seribu bahasa. Air mata Bu Yani masih mengalir. Bu Yani mulai menyusun kata-kata untuk memotivasi Zaki. Bu Yani sangat ingin meyakinkan dan menguatkan Zaki.

“Zaki tidak boleh menyerah ya Nak,” kata Bu Yani memulai pembicaraannya.

“Hidup adalah pilihan. Kita mau hidup seperti apa, adalah pilihan kita. Kita ingin kehidupan yang lebih baik, kita harus berusaha dari sekarang. Kita tidak boleh menyerah,” kata Bu Yani menyemangati Zaki.

Zaki hanya menunduk dan terdiam mendengar penjelasan Bu Yani.

“Iya Bu,” kata Zaki sambil menyeka air matanya.

Mulai saat itu Bu Yani mulai nimbrung dengan celotehan guru-guru tentang Zaki. Bu Yani selalu memberikan pandangan tentang hidup yang dijalani Zaki. Bu Yani berharap guru-guru memberikan perhatian lebih pada Zaki.

Keesokan harinya Bu Yani dapat informasi dari Bu Gelfi, kalau Zaki sampai di rumah menangis menceritakan kepada kakaknya atas kebaikan Bu Yani. Bu Yani hanya tersenyum saja mendengarnya.

Pembelajaran kelas sembilan sudah selesai. Semua siswa sudah selesai mengikuti ujian sekolah. Tak terkecuali Zaki. Beberapa hari setelah selesai ujian maka diadakan pengumuman kelulusan.

Biasanya di sekolah Bu Yani, pengumuman kelulusan dengan memberikan amplop per siswa. Di dalam amplop sudah tertulis lulus atau tidak lulus. Pengumuman kelulusan dilakukan pada sore hari. Agar siswa tidak mengadakan kegiatan merayakan kelulusannya.

Ini dilakukan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jam empat sore seluruh siswa kelas sembilan dikumpulkan di halaman sekolah. Diawali dengan pengarahan dari Kepala Sekolah. Setelah itu baru pembagian amplop tanda kelulusan.

“Muhammad Zaki,” terdengar suara Bu Widya yang dari tadi bertugas membagikan amplop.

Terdengar namanya dipanggil, Zaki langsung berlari ke depan. Setelah dia mendapatkan amplopnya Zaki langsung berlari ke belakang. Bu Yani dan guru-guru yang lain semuanya memperhatikan Zaki.

Lama Zaki memegang amplop dan tidak mau membukanya. Beberapa orang siswa yang terlebih dulu terpanggil namanya dan dinyatakan lulus sudah riang gembira. Setelah hampir semua selesai barulah Zaki berani membuka amplopnya. Ternyata Zaki dinyatakan lulus.

Melihat tulisan amplop tersebut, Zaki langsung berlari ke depan, tempat dimana guru-guru masih berdiri. Tak disangka, Zaki langsung memeluk Bu Yani, dan tangis keduanya pun tak terelakkan lagi.

“Terimakasih Bu, terimakasih Bu,” kata Zaki parau.

Guru- guru disana pun tidak dapat membendung air matanya.

“Zaki anak hebat, ibu yakin Zaki pasti bisa. Dan ibu ingin Zaki melanjutkan ke jenjang lebih tinggi,” kata Bu Yani di sela tangisnya. Semua tampak terharu. Akhirnya Zaki yang diragukan selama ini dapat meraih suksesnya.(*)

Oleh : Oktawelia, S.Pd
(Guru SMPN 1 Kecamatan Guguak)