Generasi Muda Jangan Bermental Pengemis

5
Rezi Rahmat, M.Pd (Wakil Kepsek SMPN 32 Solsel)

Generasi muda adalah generasi yang energik. Generasi yang memiliki semangat tinggi, dan berwawasan luas. Disamping itu, generasi muda merupakan harapan bangsa dan agama. Ditangan mereka masa depan bangsa.

Karena merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa dan agama kedepannya. Oleh sebab itu, generasi muda harus memiliki semaangat juang tinggi dan kemadirian di dalam diri mereka.

Ada fenomena yang kurang elok dipandang terjadi di bulan Ramadan. Pasalnya, pada pertengahan sampai akhir Ramadan banyak kita jumpai generasi muda yang turun ke jalan.

Mereka meminta sumbangan atau penggalangan dana kepada orang yang berlalu lalang di jalan raya untuk mengadakan kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dalam rangka peringatan Nuzul al-Qur’an. Kegiatan ini biasa kita jumpai di beberapa daerah di Sumatera Barat. Biasanya kegiatan tersebut mulai dilakukan seminggu sebelum acara MTQ dilaksanakan.

Meminta sumbangan di jalan mengurangi dan mengganggu hak pengguna jalan lain. Hal ini bisa kita lihat di lapangan, bahwa di setiap titik pengumpulan dana, pengendara mesti berhenti atau megurangi kecepatan kendaraan mereka. Lah lebih parahnya jarak antara tempat pengumpulan sumbangan tersebut sangat dekat.

Bahkan setiap 100 meter jalan kita akan temui para pemuda menyodorkan kotak sumbangan mereka. Di sisi lain, kegiatan pengumpulan sumbangan juga bisa membahayakan pengendara dan yang meminta sumbangan itu sendiri. Bukan tidak mungkin terjadi kecelakaan di tempat tersebut.

Meminta sumbangan di jalan sama saja dengan mengemis. Walaupun dengan dalih atau alasan untuk mengadakan acara, kegiatan meminta sumbangan tersebut bisa dikatakan sebagai kegiatan mengemis. Dalam ajaran Islam mengemis adalah perbuatan yang dilarang.

Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Rasulullah Saw dalam hadis Qudsi: “Siapa yang memberikan jaminan kepada-Ku bahwa dia tidak akan meminta sesuatu kepada orang lain. Maka, Aku juga menjamin untuknya surga.” (H.R Abu Daud dan Hakim). Dalam riwayat lain juga Rasullah Saw. sampaikan: “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, maka ia datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Lantas, bagaimana jika keadaannya sangat terpaksa atau darurat? Seandainya keadaan sangat terpaksa, maka dibolehkan untuk meminta-minta dalam tiga keadaan, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Saw: Pertama, orang yang memikul  beban tanggungan yang berat di luar kemmpuannya.

Maka, dia boleh meminta-minta sampai sekadar cukup, lalu berhenti. Kedua, orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan seluruh hartanya. Maka, dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekadar kebutuhan hidupnya. Ketiga, orang yang tertimpa kemiskinan, sehingga tiga orang yang sehat pikiran dari kaumnya menganggap benar-benar dia miskin.

Maka dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekadar kebutuhan hidupnya.
Jelas sudah dari hadis-hadis Rasulullah di atas, bahwa meminta-minta dilarang dalam Islam, kecuali jika dalam keadaan terpaksa.

Hal ini yang perlu dipahami oleh setiap generasi muda. Jangan sampai kita tertipu. Alih-alih ingin mendapatkan kebaikan dari mengumpulkan sumbangan, malah mendapatkan mudharat dan dosa.

Generasi muda jangan bermental pengemis, tapi harus bermenal mandiri dan kreatif. Jika mengadakan kegiatan mereka bisa lakukan sendiri tanpa perlu meminta-minta. Kalaupun seandainya kekurangan dana, mereka bisa membuat proposal permohonan dana atau sponsor kegiatan tanpa harus turun ke jalan.

Bisa juga dengan membuat produk dan menjualnya sebagai modal kegiatan. Hal inilah yang lebih baik dilakukan oleh generasi muda masa sekarang.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Menciptakan generasi muda yang tangguh dan tidak bermental pengemis tentu harus ada peran serta pemerintah dan masyarakat. Sebab, generasi muda masih dalam tahap perkembangan. Apalagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah, mereka butuh arahan dan bimbingan dari orang dewasa.

Pemerintah memiliki peran dalam menjaga generasi muda. Dengan kewenangannya pemerintah memberikan himbauan dan aturan agar tidak ada lagi kegiatan penggalangan dana atau sumbangan di jalan-jalan yang dilakukan generasi muda. Kecuali penggalangan dana yang diperuntukkan untuk kemaslahatan umat, seperti penggalangan dana untuk korban bencana alam.

Disamping itu, tokoh masyarakat dan pengurus masjid juga mesti memberikan edukasi kepada generasi muda. Bukan malah memerintahkan generasi muda mereka untuk meminta sumbangan ke masyarakat dan di jalan raya.

Harusnya pengurus Masjid memberikan bantuan untuk mengadakan kegiatan lomba-lomba di Masjid tersebut. Uang yang terkumpul dari infak dan sadakah untuk Masjid tidak melulu untuk pembangunan fisik masjid, tapi juga bisa digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan kemaslahatan dan pengembangan potensi umat.

Pengurus masjid atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) harus punya pemahaman agama yang baik, dan mengerti kebutuhan umat. Di beberapa daerah, masjid tidak hanya digunakan sebagai sarana ibadah saja, tapi juga sebagai tempat pendidikan dan pusat pengembangan ekonomi masyarakat.

Seperti yang dilakukan oleh Jazir ASP, pengurus Masjid Jogokarian, Yogyakarta. Ia menjadi pengurus yang kreatif dan inovatif. Menjadikan Masjid sebagai pusat peradaban (Republika.com). Semoga gerasi muda Indonesia tidak bermental pengemis, melainkan bermental tangguh dan religius, demi masa depan agama dan bangsa menjadi lebih baik. Wallahu Musta’an.(***)