Pakar Komunikasi Optimistis Boy Rafli Amar Sukses Pimpin BNPT

Pakar Komunikasi Dr. Aqua Dwipayana. (Foto: IST)

Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1377/V/KEP/2020 tertanggal 1 Mei 2020, Irjen Pol Boy Rafli Amar promosi menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Jenderal asal Agam, Provinsi Sumbar itu menggantikan Komjen Pol Suhardi Alius yang menjadi Analis Kebijakan Utama Bareskrim Polri.

Pakar Komunikasi Aqua Dwipayana optimistis Boy Rafli sukses memimpin BNPT. “Sangat tepat Kapolri Jenderal Pol Idham Azis memberikan amanah yang sangat mulia dan strategis itu kepada mantan Kapolda Papua tersebut,” ungkap doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung itu, Sabtu (2/5/2020).

Keyakinan Aqua Dwipayana itu tak hanya isapan jempol. Namun, berdasarkan rekam jejak karir, kepemimpinan dan kemampuan komunikasi Boy Rafli Amar selama ini.

“Rekam jejak dan kemampuan komunikasinya selama ini bagus sekali. Saya kenal dekat dengan Pak Boy Rafli Amar sehingga tahu persis kelebihan-kelebihannya. Beliau termasuk di bidang komunikasi,” jelas mantan wartawan harian Jawa Pos (Grup padek.co) itu.

Aqua menegaskan bahwa senjata utama anggota Polri dalam bertugas, termasuk di BNPT adalah kemampuan di bidang komunikasi.

Boy Rafli menurutnya selama ini di mana pun bertugas komunikasinya baik di internal maupun eksternal sangat bagus.

Dengan kemampuan komunikasi yang bagus itu, Aqua sangat yakin Boy Rafli dapat lebih memajukan BNPT. “Apalagi jika bapak dua putri itu konsisten melanjutkan semua program kerja yang telah dilaksanakan Komjen Pol Suhardi Alius,” imbuhnya.

Sementara itu, Aqua juga memuji kiprah Suhardi Alius yang selama sekitar tiga tahun 10 bulan memimpin BNPT.

“Pak Hardi (panggilan akrab Suhardi Alius, red) yang akan pensiun 10 Mei nanti, telah sukses secara drastis mengubah “wajah” BNPT. Beliau sekaligus mampu memperbaiki dan meningkatkan citra dan reputasi BNPT. Hal itu membuat hubungan BNPT sangat dekat dengan para mantan narapidana terorisme (napiter) dan korban-korban bom teroris yang dikenal dengan sebutan penyintas,” ungkap Aqua yang juga Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat Bidang Komunikasi Publik tersebut.

Aqua menambahkan, selama memimpin BNPT pendekatan yang dilalukan Suhardi Alius sudah bagus. Menghadapi para terorisme dan mantan napiter termasuk keluarganya mengutamakan pendekatan soft power dan smart power. Sedangkan hard power adalah jalan terakhir yang dilakukan. “Program itu agar dilanjutkan terus,” harapnya.

Para teroris, mantan napiter, dan keluarganya, lanjut Aqua adalah manusia yang memiliki hati. Pendekatan yang konsisten menggunakan hati dan selalu hati-hati sangat efektif.

Suhardi Alius, menurut motivator nasional tersebut, telah membuktikan itu terutama di Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara dan Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur.

“Dua wilayah tersebut adalah tempat tinggal para napiter dan keluarganya. Sejak disentuh dengan hati disertai pembangunan masjid dan tempat pendidikan agama buat anak-anak serta fasilitas lainnya di dua desa itu, Pak Hardi berhasil membuat warga di sana terbuka dengan pihak luar. Akhirnya dijadikan tempat percontohan pembinaan napiter dan keluarganya. Wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pejabat dari banyak negara sudah datang ke sana untuk belajar menangani para mantan napiter dan keluarganya,” papar Aqua.(esg)