Aqua Dwipayana Sarankan Suhardi Alius jadi Penasihat BNPT

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (kiri) menyerahkan bantuan tangki air kepada Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Nana Sudjana di Jakarta,14 April 2020 lalu dalam upaya pencegahan Covid-19. (Foto: Twitter BNPT)

Pakar Komunikasi Dr. Aqua Dwipayana optimistis Irjen Pol Boy Rafli Amar sukses memimpin Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Aqua menyampaikan itu setelah pada Jumat lalu (1/5/2020) mengetahui Boy Rafli Amar mendapat promosi bintang tiga sebagai Kepala BNPT, menggantikan Irjen Pol Suhardi Alius yang pada 10 Mei nanti memasuki pensiun.

Saat ini Boy Rafli Amar masih menjabat Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan Polri yang diembannya sejak 2018. Menanti pelantikan dan serah terima jabatan oleh Presiden.

Dengan sepak terjang pengalaman serta komunikasi yang baik antar-keduanya selama ini, Aqua Dwipayana menyarankan agar Komjen Pol Suhardi Alius menjadi penasihat BNPT.

Apalagi, kata Aqua, Suhardi Alius menyatakan siap mendukung penuh Boy Rafli Amar. Bahkan bersedia mendampingi selama Boy Rafli Amar sebagai Kepala BNPT.

“Saran saya agar Pak Boy Rafli Amar memberi amanah kepada Pak Hardi (panggilan akrab Suhardi Alius, red) sebagai Penasihat Kepala BNPT. Dengan begitu, posisinya akan lebih kuat dan semua program kerjanya optimal dilaksanakan,” tegas Aqua, Sabtu (2/5/2020).

Anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) itu menambahkan, hubungan Boy Rafli Amar dan Suhardi Alius selama ini sangat dekat.

“Keduanya seperti adik kakak. Bahkan, pernah bekerja dalam satu divisi. Dan, keduanya juga sama-sama berasal dari Sumatera Barat,” ujar Aqua yang juga motivator nasional itu.

Ketika Suhardi Alius menjabat sebagai Kepala Divisi Humas Polri, Boy Rafli Amar sebagai Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri.

“Pak Boy Rafli bawahan langsung Suhardi Alius, waktu itu,” imbuh Aqua yang pernah berkiprah di Harian Jawa Pos (Grup padek.co) itu.

Ketika itu Suhardi Alius memberi kepercayaan penuh kepada Boy Rafli Amar. Salah satunya saat Divisi Humas Polri menjalin kerja sama dengan Pertamina untuk pelatihan humas di seluruh Indonesia.

“Saya ingin dengan kerja sama ini dapat melahirkan banyak “Boy Rafli” di Polri sehingga citra Polri jadi lebih baik. Saya optimistis sekali itu bisa diwujudkan. Begitu kata Pak Hardi waktu itu,” ungkap Aqua.

Lebih lanjut Aqua menceritakan, pada Jumat lalu (1/5/2020), begitu namanya diumumkan jadi Kepala BNPT, Suhardi Alius langsung kirim ucapan selamat lewat WA ke Boy Rafli Amar.

Suhardi Alius menilai amanah yang diberikan Kapolri Jenderal Idham Azis kepada penggantinya sangat tepat. “Terima kasih Kakanda. Mohon dukungannya,” jawab Boy Rafli Amar.

Suhardi Alius menyatakan siap mendukung penuh Boy Rafli Amar. Bahkan, bersedia mendampingi selama Boy Rafli Amar sebagai Kepala BNPT.

Ke depan, penulis buku super best seller berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” itu menyarankan, agar BNPT tidak lagi mengulangi kesalahan masa lalu dengan melakukan kekerasan terhadap para terorisme, mantan narapidana terorisme (napiter), dan keluarga mereka.

“Itu hanya akan menimbulkan luka batin yang mendalam dan dendam yang berkepanjangan,” tegasnya.

Mereka, lanjut Aqua, adalah warga negara Indonesia dan saudara-saudara kita yang tersesat. Perlu disadarkan dengan pendekatan menggunakan hati dan hati-hati.

“Agar sukses melaksanakan tugas-tugasnya selain mengedepankan komunikasi terutama dialog menggunakan hati, Pak Boy Rafli Amar sebaiknya melanjutkan program-program kerja Pak Hardi,” pungkas Aqua.

Pendekatan Soft Power dan Smart Power
Diberitakan sebelumnya, Aqua menilai, selama sekitar 3 tahun 10 bulan memimpin BNPT, Suhardi Alius sukses secara drastis mengubah “wajah” BNPT.

“Beliau sekaligus mampu memperbaiki dan meningkatkan citra dan reputasi BNPT. Hal itu membuat hubungan BNPT sangat dekat dengan para mantan napiter dan korban-korban bom teroris yang dikenal dengan sebutan penyintas,” ungkap Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat Bidang Komunikasi Publik tersebut.

Aqua menambahkan, selama memimpin BNPT pendekatan yang dilalukan Suhardi Alius sudah bagus sekali.

Menghadapi para terorisme dan mantan napiter termasuk keluarganya mengutamakan pendekatan soft power dan smart power. Sedangkan hard power adalah jalan terakhir yang dilakukan. Program itu agar dilanjutkan terus.

Para teroris, mantan napiter, dan keluarganya, lanjut Aqua, adalah manusia yang memiliki hati. Pendekatan yang konsisten menggunakan hati dan selalu hati-hati sangat efektif.

Suhardi Alius telah membuktikan itu utamanya di Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara dan Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur. “Dua wilayah tersebut adalah tempat tinggal para napiter dan keluarganya,” imbuhnya.

Sejak disentuh dengan hati disertai pembangunan mesjid dan tempat pendidikan agama buat anak-anak serta fasilitas lainnya di dua desa itu, kata Aqua, Suhardi Alius berhasil membuat warga di sana terbuka dengan pihak luar.

“Akhirnya dijadikan tempat percontohan pembinaan napiter dan keluarganya. Wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pejabat dari banyak negara sudah datang ke sana untuk belajar menangani para mantan napiter dan keluarganya,” jelas doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung itu.(esg)