Terdakwa Kasus Pedofil Divonis 20 Tahun

37
Ilustrasi predator anak. (Foto: Jawapos.com)

Terdakwa kasus pedofil Amiruddin, 55, yang mengakibatkan meninggalnya korban TR, 12, divonis hukuman 20 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Padang.

Terdakwa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 81 ayat (2) dan ayat (5) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016, sebagaimana dakwaan primer Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang.

“Terdakwa dijatuhkan hukuman penjara selama 20 tahun. Putusan itu dibacakan melalui sidang virtual Senin (8/6),” ungkap Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Padang Yarnes, didampingi JPU yang menangani perkara Irna, kemarin (10/6).

Sebelumnya, JPU Kejari Padang Irna menuntut terdakwa yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan itu hukuman yang sama dengan putusan majelis hakim yakni 20 tahun penjara.
Terhadap putusan majelis hakim yang diketuai Suratni tersebut, JPU Kejari Padang serta penasihat hukum terdakwa menyatakan sikap menerima putusan.

Kasus ini adalah kasus pedofil yang dilakukan terdakwa Amiruddin, 55, terhadap anak di bawah umur TR, 12. Amiruddin sempat melarikan diri dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak Agustus 2019 lalu.

Namun, Tim Opsnal Satreskrim Polresta Padang akhirnya meringkus pelaku di Sungaipenuh, Provinsi Jambi, Sabtu 30 November 2019 sekitar pukul 11.00. Amiruddin pun langsung menjalani pemeriksaan intensif di unit PPA Satreskrim Polresta Padang dan ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam pemeriksaan tersebut pelaku mengaku sudah lebih dari dua kali melakukan pencabulan terhadap korban TR, 12. Setelah melakukan pencabulan, pelaku kerap mengancam dan membujuk korban dengan memberikan sejumlah uang agar korban tidak malapor kepada orangtuanya.

Kasus ini sempat menarik perhatian publik karena mengakibatkan korban terkena kanker serviks stadium 4. Korban sempat menjalani perawatan medis di RSUP Dr M Djamil Padang, dan bahkan dirujuk ke salah satu rumah sakit kanker di Jakarta.

Namun, nyawa korban tidak bisa diselamatkan dan meninggal dunia di RSUP Dr M Djamil Padang, Senin 30 Desember 2019 lalu sekitar pukul 14.30.

Terdakwa Kasus Prostitusi Dihukum Lima Tahun Penjara
Sementara itu, terdakwa kasus prostitusi berkedok kos-kosan di Jalan Adinegoro, Kecamatan Lubukbuaya, H, 54, dan anaknya D, 30, dijatuhkan hukuman lima tahun penjara.

Selain itu, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA Padang juga menjatuhkan hukuman denda Rp200 juta subsider tiga bulan kurungan kepada kedua terdakwa.

“Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa selama lima tahun kurungan penjara, denda Rp200 juta dan subsider tiga bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Khairuddin, saat membacakan amar putusan melalui sidang virtual, Selasa (10/6).

Majelis hakim berpendapat, terdakwa terbukti melanggar Pasal 76 I jo Pasal 88, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 tentang Perlindungan Anak. “Hal-hal yang memberatkan, terdakwa merusak masa depan korban. Untuk itu, terdakwa segera ditahan,” tegas Khairuddin.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, petugas mengamankan dua orang sebagai otak pelaku dari bisnis prostitusi itu yakni wanita berinisial H dan anaknya berinisial D.

H berperan sebagai mami yang mengendalikan operasional prostitusi tersebut. Sementara anaknya D, berperan mencarikan wanita dewasa maupun anak di bawah umur untuk dipekerjakan melayani lelaki hidung belang.

Dalam penggerebekan, petugas menemukan lima orang di dalam rumah tersebut. Dua orang yakni H dan D ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan tiga orang wanita yang salah satunya anak di bawah umur ditetapkan sebagai korban kasus TPPO.

Aktivitas prostitusi yang dijalankan ibu dan anak ini sudah berjalan sejak lima bulan yang lalu. Kedua pelaku menjual wanita kepada lelaki dengan bayaran rata-rata Rp 300 ribu. Lelaki yang memakai wanita tersebut menyerahkan uang kepada pelaku D dan kemudian diserahkan kepada pelaku H.

Para wanita yang dijual tinggal di rumah itu. Uang dari hasil prostitusi digunakan pelaku H untuk membeli kebutuhan harian mereka dan sebagian diserahkan kepada para korban.
Agar masyarakat setempat tidak curiga dengan aktivitas prostitusi itu, pelaku menggunakan kedok kos-kosan dan menjual makanan. Sementara pelanggan melakukan eksekusi jasa prostitusi di dalam rumah tersebut.

Dari penggerebekan itu, kepolisian menyita barang bukti uang tunai Rp219 ribu, pil KB, pakaian dalam dan tiga KTP elektronik. (i)