Polisi Tahan Pelaku yang Bikin Status Ujaran Kebencian terhadap Tim Medis

Petugas Polres Payakumbuh saat menginterogasi seorang warga DM (kiri) karena mengunggah status ujaran kebencian terhadap tim medis. (foto: dok. Polres Payakumbuh)

Kepolisian Resor Payakumbuh, Sumatera Barat menangkap seorang warga Jorong Indo Baleh Timur, Nagari Mungo, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota, berinisial DM, 41.

Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan menjelaskan, tersangka ditangkap karena diduga membuat status ujaran kebencian lewat media sosial Facebook terhadap tim medis yang menangani pasien terjangkit virus korona (Covid-19).

Status itu diunggah DM lewat akun Facebook milik istrinya pada Jumat (10/4) lalu sekitar pukul 20.00, dan sempat viral di grup Facebook “Info Kesehatan Masyarakat”, Minggu (12/4) dengan 6.600 komentar dan 3.400 kali dibagikan.

AKBP Dony Setiawan mengatakan, penangkapan DM alias AD itu, berawal dari laporan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Payakumbuh dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Payakumbuh.

Dijelaskannya, pada Minggu (12/4) sekitar pukul 16.00, pelapor mendapat kiriman foto screenshot (tangkapan layar) atas percakapan di media sosial Facebook, berupa tulisan dan komentar pelaku yang berisi tentang penghinaan dan ujaran kebencian terhadap profesi dokter dan perawat dalam situasi wabah Covid-19.

“Penghinaan dan ujaran kebencian yang dilakukan tersangka ditujukan agar masyarakat menolak pemakaman dokter dan perawat yang terkena wabah korona,” kata AKBP Dony lewat keterangannya yang diterima, Rabu (15/4).

Setelah postingan tersebut viral, kata Dony, tersangka berusaha mengelabui dengan mendatangi Polsek Luhak, Polres Payakumbuh untuk membuat laporan palsu bahwa akun Facebook milik istrinya yang digunakan untuk memposting ujaran kebencian tersebut, telah di-hack (dibajak) oleh seseorang.

Lalu pria yang berprofesi sebagai pedagang itu, berfoto di Polsek Luhak Polres Payakumbuh dan memposting fotonya di Facebook dengan keterangan “lagi d Polsek, mlaporkan bhwa fb istri saya dbajak, dan saya slaku kluarga (suami) mhon kpada tman fb smua untuk mmaklumi atas kjdian yg mnimpa istri saya, krna itu bukan istri saya yang komentar, tp justru pihak yang tidak bertanggung jawab, trimakasih”.

“Tersangka kemudian kami tangkap Senin kemarin (13/4) dan mengakui perbuatannya menggunakan akun Facebook istrinya memposting ujaran kebencian itu. Tersangka melakukan hal tersebut dengan alasan pernah mendapatkan pelayanan medis yang kurang baik di salah satu rumah sakit di Kabupaten Limapuluh Kota,” ujarnya.

Saat penangkapan, petugas berhasil menyita barang bukti berupa satu unit telepon genggam merk Vivo Y 53 warna gold, satu buah foto screenshot postingan akun Facebook atas nama istrinya, dan akun Facebook dan email atas nama istrinya.

Dony menyatakan, lewat postingan tersebut, DM dinilai telah melakukan tindak pidana UU ITE terkait penyebaran informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik dan menimbulkan ujaran kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA.

Tersangka dijerat dengan Pasal 45A Ayat 2 jo Pasal 28 Ayat (2) Atau Pasal 45 Ayat 3 Jo Pasal 27 Ayat 3 , UU ITE No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman pidana penjara minimal enam tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.

“Tersangka telah kami lakukan penahanan badan. Saat pelapor diperiksa, tersangka meminta dipertemukan untuk meminta maaf kepada perwakilan IDI dan PPNI Payakumbuh. Secara pribadi pelapor mengatakan bahwa mungkin bisa memaafkan, tapi secara profesi dan asosiasi dokter dan perawat tidak bisa memaafkan,” tukas Dony.(idr/esg)