Diduga Kelalaian Bidan, Bayi Meninggal

Ilustrasi bayi meninggal. (Foto: IST)

Bidan di sebuah klinik bersalin di Sijunjung dianggap lalai sehingga menyebabkan bayi baru lahir meninggal dunia pada April lalu. Dinas Kesehatan Sijunjung pun sudah mencabut izin praktik bidan pemilik klinik bersalin tersebut.

Bahkan kasus tersebut kini masuk ke ranah hukum setelah dilaporkan orang tua bayi ke Polres Sijunjung pada 11 Juni lalu. Saat ini kasus sedang dalam penyelidikan.

Ibu bayi, Syahri Rahmadhona, didampingi suami, Nicko Pramonia, Sri Kurniati (adik), Ketua LSM Tipikor, Bayu, dalam keterangan persnya di Muarosijunjung, Jumat (12/6/2020), merasa kecewa dengan penanganan bidan pemilik klinik bersalin tersebut.

Padahal usai proses persalinan sang bayi tampak sehat. Secara fisik pun terlihat normal.

Namun, tambahnya, tak berapa lama kemudian gejala tak wajar mulai terlihat pada bayinya. Bagian tubuh menghitam, kemudian situasi terus memburuk.

Ia berusaha berkonsultasi dengan bidan dan perawat yang menangani. Namun pihak klinik menyebut tidak ada masalah dengan bayinya.

Pada malam harinya ibu korban diperbolehkan pulang, berikut membawa bayinya, untuk selanjutnya disarankan menjalani rawat jalan. Sementara kondisi fisik bayi masih tampak tidak stabil, namun oleh bidan dikatakan tetap tidak ada masalah.

“Sungguh, kami sangat menyesalkan. Dari semula saya berkali-kali mengingatkan bidan agar memastikan betul kondisi fisik anak saya, tapi tidak dihiraukan. Sampai akhirnya bayi saya meninggal dunia,” sebut Syahri Rahmadona.

Secara detail dijelaskannya, proses persalinan dijalaninya secara normal di sebuah klinik tanggal 18 April lalu,  dengan status sesampai di klinik diklaim sudah pembukaan lima. Sekira pukul 06.00 sang bayi terlahir dengan selamat.

Bidan yang menangani proses bersalin dibantu seorang perawat yang sekaligus merupakan pegawai di klinik tersebut.

Setelah lahir, bayi langsung diurus dan ditangani oleh bidan tersebut, kemudian dibaringkan di sebuah tempat tidur kecil, persisnya di samping ibunya.

Bidan itu kemudian pergi ke Muarosijunjung, sementara bayi kemudian diurus oleh seorang perawat.

Dalam proses penanganan, ada sesuatu yang dianggap janggal oleh Syahri Rahmadhona, anaknya yang baru lahir itu diberi susu formula (susu kotak) oleh bidan tersebut, pakai sendok, dibuat dalam wadah gelas berukuran sedang, sebanyak 1/3 gelas.

Padahal menurutnya, secara standar, penanganan bayi baru lahir tidak boleh diberi susu formula. Melainkan yang benar hanya dengan susu eksklusif (air susu ibu). Ketentuan itu diketahuinya karena ia juga merupakan seorang petugas kesehatan.

Merasa waswas, ia sudah mencoba protes ke bidan tersebut. Namun bidan itu menjawab, pemberian susu formula bertujuan supaya badan bayi tidak kuning, hingga tidak ada masalah.

“Dari pengalaman melahirkan anak pertama sampai ke tiga, ASI saya juga baru akan keluar sekitar 2-3 hari pasca melahirkan. Maka saat diberi susu formula, saya jelaskan hal ini, dan dalam keadaan bingung minta agar si bidan mempertimbangkan pemberian susu formula tersebut. Tetapi dijawabnya, supaya badan bayi tidak kuning,” bebernya.

Sampai akhirnya beberapa waktu kemudian bagian tubuh bayi tampak menghitam dan fisik melemah. Cemas, Syahri Rahmadhona pun mengonsultasikan hal itu pada perawat yang bertugas, kenapa badan bayi jadi menghitam. Namun perawat menyebut hal itu tidak masalah.

Malam harinya, Syahri beserta bayi dan keluarga diperbolehkan pulang ke rumah, untuk selanjutnya diminta untuk mengikuti rawat jalan saja.

Sesampai di rumah, sekitar pukul 22.00 atau sekitar beberapa menit kemudian, bayi terus merintih, serta terlihat hitam pada bagian bibir, kepala, ujung-ujung jari tangan dan kaki.

Kemudian ia bersama keluarga memutuskan untuk melarikan bayi ke RSUD Sijunjung guna mendapatkan penanganan secara intensif.

Di RSUD Sijunjung, korban langsung ditangani oleh tim dokter, serta dipasangi sejumlah alat bantu, seperti oksigen, tali infus dan lain sebagainya.

Hasil pemeriksaan, ternyata ditemukan banyak cairan putih menumpuk di bagian paru bayi malang tersebut, dan dengan bantuan peralatan, cairan tersebut terus coba untuk dikeluarkan dan jumlahnya ternyata cukup banyak.

“Tim dokter di bawah koordinasi dokter spesialis, terus berusaha menyelamatkan bayi kami di RSUD Sijunjung,” tambah Sri Kurniati selaku adik ibu korban.

Esok harinya, Minggu (19/4/2020) pagi, situasi dinyatakan sangat memburuk, hingga korban dilarikan dengan ambulan ke Kota Padang menuju RS BMC Padang. Sekitar pukul 11.00 anak keempat dari pasangan Syahri Ramadhona dan Nicko Plamonia dinyatakan meninggal dunia.

Kapolres Sijunjung, AKBP Andry Kurniawan melalui Paur Humas, Iptu Nasrul Nurdin, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Kasus ini sedang penyelidikan. Untuk kepentingan hukum, pihak kepolisian akan melakukan pemanggilan pada sejumlah saksi, setelah menghimpun keterangan dari saksi korban,” jelas Paur Himas, Nasrul Nurdin.

Dinkes Jatuhkan Sanksi
Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sijunjung, Ezwandra, mengaku telah mendapat kabar persoalan tersebut. Pihaknya telah melakukan tindakan sesuai aturan.

”Berdasarkan hasil rembuk dengan berbagi pihak, termasuk melibatkan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Perwakilan Sijunjung, akhirnya diputuskan izin praktik bidan itu dicabut untuk selama 6 bulan oleh Pemkab Sijunjung,” tegas Ezwandra.

Untuk memulai kembali aktivitas praktik bersalinnya, pemilik rumah bersalin beserta bidannya pun harus kembali mengikuti prosedur yang telah diatur.

“Kami selaku institusi berwenang telah merekomendasikan izin tempat praktik tersebut dicabut, dan dinas perizinan penanaman modal Sijunjung membekukan tempat tersebut,” tegas Ezwandra. (atn)