Polres-ESDM Selidiki Ledakan Tambang

Lokasi tambang yang runtuh saat ini sudah dipasangi garis polisi. Aktivitas tambang pun ditutup. (IST)

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar menurunkan  tim untuk menyelidiki insiden runtuhnya lubang tambang menewaskan tiga orang pekerja di Kota Sawahlunto, Sabtu (12/9) lalu. Pasca-kejadian, aktivitas penambangan langsung distop, pihak manajemen dan sejumlah saksi juga diperiksa Satreskrim Polres Sawahlunto.

“Kita telah mengambil langkah tegas. Aktivitas tambang langsung distop, serta pihak ESDM turunkan tim ke lapangan untuk penyelidikan,” tegas Kepala Dinas ESDM Sumbar, Hery Martinus, kepada Padang Ekspres, kemarin.

Ia menegaskan, penyetopan aktivitas tambang batu bara tersebut langsung dilakukan pasca-kejadian. Sejalan dengan berlangsungnya proses olah tempat kejadian perkara (TKP) diikuti proses penyelidikan oleh Polres Sawahlunto. “Bagaimana hasilnya, dalam waktu dekat segera diketahui,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, aktivitas penambangan hampir 80 persen dilakukan secara manual dengan mengerahkan tenaga manusia, bukan mesin. Hingga standar keamanan, keselamatan, serta dampak lingkungannya menjadi syarat yang harus terpenuhi. Meski perusahaan penggarap/pengelola telah mengantongi izin. “Kita telah melakukan pengecekan, kebetulan tambang yang digarap CV Tahiti Coal ini telah memiliki izin,” tukasnya.

Sementara itu Kapolres Sawahlunto, AKBP Junaidi Nur, mengungkapkan, jajarannya hingga kini juga masih terus melakukan proses penyelidikan atas tragedi yang menelan tiga korban jiwa dalam lubang tambang tersebut. Ditambah satu orang lainnya mengalami luka berat dan patah tulang hingga harus dirawat secara intensif di RSUP M.Djamil Padang.

“Lokasi peristiwa kini dipasangi garis polisi, dan segala aktivitas untuk sementara waktu dihentikan dulu. Sejalan dengan berlangsungnya proses penyelidikan oleh Polres Sawahlunto,” tegas Kapolres.

Terkait soal adanya unsur kelalaian,  serta proses kegiatan berlangsung tidak sesuai SOP. Junaidi Nur pun tidak menampik hal tersebut bisa saja terjadi. Kecenderungan, pihak perusahaan terkadang lengah memperhatikan hal-hal yang seharusnya menjadi perhatian tersebut. Ini lantaran sibuk mengurus kegiatan produksi.

Baca Juga:  Polda Sumbar Ungkap 110 Kg Ganja yang Disimpan di Rumah Kosong

“Kalau ada unsur kelalaian, tentu pihak perusahan bisa disanksi sesuai peraturan berlaku. Maka dalam proses penyelidikannya pihak Polres bekerjasama dengan ESDM Sumbar selaku tim ahli,” imbuhnya.

Kasat Reskrim Polres Kota Sawahlunto, Iptu Roy Sinurat, menyebutkan, malapetaka tersebut terjadi persisnya saat sejumlah pekerja lubang (sif malam) sedang melakukan aktivitas dalam lobang tambang, Sabtu (12/9) malam.

Seluruhnya berjumlah 9 orang, bekerja tepatnya pada cabang 2 di kedalaman 15 meter dalam area lubang THC 03 tunel A di kedalaman 150 meter. Di dalam cabang 2 tersebut diantaranya ada empat pekerja berinisial B, A, Y, dan I. Pada saat fokus bekerja, mendadak lubang tersebut ambruk, hingga mengakibatkan keempat pekerja tertimpa dan tertimbun material reruntuhan tambang.

Akibatnya, pekerja berinisial B mengalami luka berat disertai patah kaki. Sementara tiga rekannya yang lain berinisial A, Y,  I justru berujung lebih tragis, meninggal dunia.
Khusus pekerja B dan A berhasil dievakuasi sekitar pukul 07.00, khususnya pekerja B dirujuk ke sebuah rumah sakit di Kota Padang. Disusul pekerja Y berselang beberapa jam kemudian, sekitar pukul 17.15.

Sementara yang terakhir, pekerja I baru bisa dievakuasi pada Minggu (13/9) sekira pukul 05.30 WIB, kondisinya juga telah meninggal dunia. ”Sambil menunggu investigasi dari inspektur tambang Dinas ESDM Sumbar, aktivitas tambang telah dihentikan,” pungkasnya. (atn)