Luar Biasa! YR Pegang Jabatan 3 Bendahara Sekaligus, Kejati Kejar Pemain Lain

Tersangka YR digiring ke Rutan Anak Aia Padang.

YR diduga tidak bermain tunggal dalam ‘memainkan’ empat item dana: infak Masjid Raya Sumbar, UPZ Tuah Sakato tahun 2018, APBD Biro Bina Mental dan Kesra tahun 2019, dan sisa dana PHBI tahun 2018, dengan total nilai Rp2 miliar lebih.

Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sumbar, M Fatria menyebut, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap 22 orang saksi terkait kasus yang sangat menarik perhatian lantaran menyangkut ibadah masyarakat dan dana APBD itu.

Dari hasil penyidikan, ada dugaan keterlibatan pihak lain untuk ‘memuluskan’ upaya YR dalam menyelewengkan empat item dana yang digunakan untuk kepentingan pribadi.

“Untuk sementara masih YR yang ditetapkan sebagai tersangka. Tidak tertutup kemungkinan ada keterlibatan oknum lain. Tim penyidik masih mencari bukti-bukti,” kata Fatria, Sabtu (20/6/2020).

Usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyelewengan dana infak Masjid Raya dan APBD Pemprov Sumbar, oknum ASN berinisial “YR” ditahan pihak Kejaksaan Tinggi Sumbar di Rutan Kelas IIB Anak Air Kota Padang.

Diberitakan padek.co sebelumnya, Kejaksaan Tinggi Sumbar menetapkan YR sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyelewengan dana infak Masjid Raya Sumbar dan APBD Biro Bina Mental dan Kesra Setdaprov Sumbar tahun 2019, Jumat (19/6/2020).

Pegang 3 Bendahara Sekaligus

Tersangka diketahui menjabat selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu pada Biro Bina Mental dan Kesra Setdaprov Sumbar tahun 2010-2019, Bendahara Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Tuah Sakato, sekaligus Bendahara Masjid Raya Sumbar tahun 2014-2019.

Dia diduga telah menyelewengkan empat item dana untuk kepentingan pribadi. Antara lain uang infak Masjid Raya Sumbar sekitar Rp 892,6 juta, uang UPZ Tuah Sakato tahun 2018 sebesar Rp 375 juta, dana APBD khususnya uang persediaan pada Biro Bina Mental dan Kesra Setdaprov Sumbar tahun 2019 sebesar Rp 718 juta.

Selain itu, YR juga diduga menyelewengkan uang sisa dana Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) tahun 2018 berupa infak dan uang anak yatim, senilai Rp 92 juta.

Tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat 1, Pasal 3, Pasal 8, Pasal 9, Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Berdasarkan surat perintah Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar Nomor P435/L.3/FD.1/06/2020 tanggal 19 Juni 2020, dilakukan upaya paksa penahanan terhadap YR di Rumah Tahanan (Rutan) Anak Air Padang, selama 20 hari terhitung mulai 19 Juni ini.

Alasan penahanan tersebut, setelah mempertimbangkan dua alasan, subjektif dan objektif. Alasan subjektif, tersangka dikhawatirkan melarikan diri, mengurangi, dan merusak barang bukti. Sedangkan alasan objektif, lantaran YR terancam pidana lima tahun penjara.

Kejaksaan Tinggi Sumbar akan segera melimpahkan kasus ini ke pengadilan. Pasalnya, kasus ini sangat menjadi perhatian karena terkait sumbangan masyarakat. (***)