Cegah Kerumunan, Ridwan Tewas Dikeroyok

Polisi mengamankan tiga pelaku penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia di Kelurahan ATTS, Kota Bukittinggi, Selasa (21/4) pukul 02.30 Wib. (IST)

Seorang buruh di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat tewas dikeroyok pemuda Selasa (21/4). Korban dihakimi hingga meregang nyawa setelah berusaha mengingatkan sekelompok orang tak dikenal yang berkumpul di jalanan. Korban yang diketahui bernama Ridwan, 32, itu sempat dilarikan ke IGD RSAM Bukittinggi, namun kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Kepala Satuan Reskrim Polres Bukittinggi, AKP Chairul Amri Nasution menyebut kejadian itu berlangsung sekitar pukul 02.30 WIB. Lokasi tepatnya berada di Jalan Syech Ibrahim Musa, RT 01/RW 01 atau tepatnya di depan SMKN 2 Bukittinggi.

Awal mula kejadian, korban serta sejumlah saksi sedang duduk di Balai Pemuda Tangahsawah, Kelurahan ATTS, Kecamatan Gugukpanjang. Selang beberapa saat, korban beserta saksi melihat ada sekelompok orang berkumpul di tepi jalan. “Karena mendengar kata-kata kasar dan ribut di tengah malam, korban dan saksi menghampiri kerumunan itu untuk mengingatkan. Alhasil kerumunan itu meminta maaf dan membubarkan diri,” jelasnya.

Chairul Amri mengatakan usai kejadian itu korban dan para saksi pun kembali ke balai pemuda. Namun selang beberapa saat, para pelaku yang tadinya membubarkan diri justru mendatangi balai pemuda dengan membawa balok kayu. “Para pelaku sempat dihadang oleh korban dan saksi. Namun korban terjatuh bersimbah darah karena dipukul dengan balok kayu. Para saksi mencoba melakukan perlawanan dengan melempari pot bunga agar pelaku membubarkan diri,” katanya.

Melihat korban sudah tergeletak tidak berdaya, sambung AKP Chairul, para pelaku langsung meninggalkan lokasi kejadian. Para saksi pun segera mengevakuasi korban ke IGD RSAM Bukittinggi. “Korban dinyatakan meninggal dunia di IGD. Kami langsung mendatangi TKP untuk mengumpulkan bukti dan meminta keterangan para saksi,” ujarnya.

Berdasarkan hasil olah TKP dan sejumlah bukti, mantan Kapolsek Kota Bukittinggi itu menyebut, pihaknya berhasil mengamankan tiga tersangka. Bahkan, total pelaku seluruhnya diperkirakan berjumlah 10 orang. “Kami amankan tiga orang. Identitas pelaku lainnya juga sudah kami kantongi dan kini sedang diburu petugas. Kami minta agar mereka pro aktif menyerahkan diri,” imbau Chairul.

Para pelaku terancam pidana berupa penganiayaan secara bersama-sama yang mengakibatkan meninggalnya korban. Pelaku akan dijerat Pasal 170 KUHP ayat (3) dengan maksimal penjara 12 tahun.

Sehari menjelang diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Sumbar, Chairul meminta tidak ada lagi warga di wilayah hukum Polres Bukittinggi yang berkumpul-kumpul. Agar tidak terulang lagi ketersinggungan dan aksi main hakim sendiri. Dia meminta warga untuk aktif melaporkan kepada petugas jika ditemui kerumunan. “Selama PSBB nanti, kami harap warga tidak keluar rumah jika tak urgen. Bila keluar rumah untuk urusan urgen, maka wajib menggunakan masker. Harus jaga jarak minimal 1,5 meter,” pesannya. (ryp/stg)