Effendi Ghazali Diperiksa Akibat Data Palsu

24
Effendi Ghazali usai menjalani pemeriksaan di KPK. (net)

Pakar komunikasi Effendi Ghazali tiba-tiba diperiksa tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kemarin (25/3). Itu lantaranya mencuatnya nama Effendi dalam perkara dugaan suap terkait bantuan sosial (bansos) Covid-19 wilayah Jabodetabek tahun 2020. Effendi dikaitkan dengan vendor yang mendapat jatah kuota bansos.

Effendi tiba di gedung Merah Putih KPK sekitar pukul 14.00. Sebelum masuk ruang pemeriksaan, dosen pascasarjana ilmu komunikasi di Universitas Indonesia (UI) itu mengaku mendapat panggilan dari KPK pada Rabu (24/3) malam pukul 19.41 melalui pesan WhatsApp (WA). ”Belum terima surat (panggilan) resminya. Tapi karena demi KPK, saya datang dulu saja,” ujarnya.

Mencuatnya nama Effendi bersamaan dengan menyebarnya berita acara pemeriksaan (BAP) Matheus Joko Santoso. Dalam BAP itu, nama Effendi tertulis sebagai salah satu pemilik kuota ’bina lingkungan’ bansos. Kuota tersebut dikerjakan CV Hasil Bumi Nusantara. ”Mengenai ada PT atau CV itu saya tidak kenal,” bantah Effendi.

Dia memastikan tidak ada kaitan dengan pengadaan bansos. Pun, Effendi minta untuk dikonfrontasi dengan pihak perusahaan penyedia bansos tersebut. ”Kalau mau lebih gampang, panggil saja PT atau CV itu. Konfrontasi ke saya. Apakah dia (CV) dapat segitu? Kapan dikasih? Dan apa urusannya dengan saya?,” terang penggagas acara Republik Mimpi tersebut.

Di luar konteks pemeriksaan KPK, Effendi mengungkapkan bahwa dirinya pada 16 Maret lalu sempat mendapat pesan dari salah seorang wartawan media online kata.id. Dalam pesan itu, wartawan tersebut mengaku memiliki BAP Matheus Joko yang menyebutkan bahwa Effendi mendapat kuota bansos sebanyak 162.250 dengan nilai kontrak Rp 48,6 miliar.

”Lalu saya bilang begini, saya datang dong ke kantor redaksi kata.id supaya bisa diklirkan,” ungkap Effendi. Namun, permintaan itu ditolak. Si wartawan meminta pertemuan dilakukan di luar kantor. ”Ketemu di dekat rumah saya di Taman Mini,” jelasnya. Dalam pertemuan itu, Effendi ditemui dua orang. ”Namanya Wahyu dan Nebi,” tuturnya.

Baca Juga:  Berdalih untuk THR, Oknum Pemnag Gunung Medan Lakukan Pungli

Yang menarik, kata Effendi, selain mengaku wartawan, dua orang tersebut juga mengaku bagian dari tim seleksi (timsel) pimpinan KPK. Dan sejak 2009 menyediakan jasa ’pengkondisian’ media bagi saksi yang akan diperiksa KPK. ”Mereka mempunyai jasa di mana kalau orang dipanggil KPK bisa ditutup bunga-bunganya,” imbuh dia.

Setelah pertemuan itu, Effendi kembali mendapat pesan dari wartawan tersebut. ”Mengatakan begini, bisa dibayangkan nggak beritanya adalah seorang pakar komunikasi ternyata mendapat kuota senilai puluhan miliar,” terang Effendi membacakan pesan wartawan. Wartawan tersebut kemudian menawarkan ’pencegahan’ agar berita yang dimaksud tidak menyebar luas.

”Saya melaporkan (Wahyu) itu kepada Agus Sudibyo, Dewan Pers. Satu lagi ke Pak Hendardi (mantan tim pansel pimpinan KPK),” imbuh dia. Setelah kurang lebih lima jam di ruang pemeriksaan, Effendi mengatakan bahwa BAP yang menyebutkan namanya sebagai pemilik kuota bansos tidak benar. ”Data yang (menyebar) itu adalah data yang palsu,” tegasnya.

Effendi pun menegaskan bahwa dirinya akan mempersoalkan pemalsuan data dan menindaklanjuti perbuatan Wahyu yang mengaku sebagai wartawan kata.id. ”Saya akan masih mempersoalkan namanya Wahyu ini,” kata pakar komunikasi yang kerap menjadi pembicara di stasiun televisi swasta nasional itu.

Di sisi lain, Plt Juru Bicara KPK Bidang Penindakan Ali Fikri mengapresiasi kehadiran Effendi. Ali menyebut, keterangan Effendi diperlukan oleh penyidik untuk memperjelas rangkaian perbuatan para tersangka. ”Seseorang dipanggil sebagai saksi tentu karena keterangan saksi dibutuhkan,” ujar Ali. (tyo/jpg)

Previous articleVaksinasi Anak Diuji Klinis
Next article14 Tahun Padang TV Menyiarkan Harapan