Ini Sikap KPI terkait Gugatan RCTI dan iNews ke MK

Stasiun televisi swasta Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dan iNews mengajukan gugatan terhadap Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Dalam gugatan tersebut, disebutkan adanya perlakuan berbeda antara penyelenggara siaran konvensional dengan layanan berbasis over the top (OTT) yang dinilai tidak tunduk kepada UU Penyiaran sesuai Pasal 1 angka 2.

OTT merupakan layanan dengan konten berupa data, informasi atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet.

Gugatan tersebut menuai kontroversi di jagat maya. Menyikapi itu, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis menyampaikan bahwa, KPI mendorong pengaturan media baru dalam konteks kesetaraan perlakuan kepada seluruh industri konten.

“KPI berkomitmen menjaga kepentingan publik untuk mendapat konten yang berkualitas sekaligus mendorong industri kreatif dalam memproduksi konten sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat,” tambah Presiden IBRAF 2017-2018 ini.

Di sisi lain, tokoh muda asal Sumbar itu juga mengajak seluruh pihak untuk menghargai proses hukum yang sedang berlangsung di MK, sekaligus menjadikan topik ini sebagai wacana publik yang didasarkan pada argumentasi yang proporsional.

Baca Juga:  Peluang Baru Dakwah Berbasis Digital, Pemuda mesti Berkolaborasi

“Kita harus proporsional menilai atau menanggapi suatu persoalan yang sedang diperdebatkan di publik dengan melihat juga pada realitas yang ada. Pahami benar apa substansinya. Jangan sampai hanya ingin ikut-ikutan,” ingatnya.

Terpenting sekali, kata Yuliandre, semua konten yang disiarkan ke publik termasuk yang menggunakan media baru (internet) haruslah sesuai dengan norma agama, sosial dan budaya serta aturan di Indonesia.

“Jika tidak sesuai, maka akan berbahaya bagi masa depan bangsa kita, dan moral anak-anak kita ke depan. Semua kita, tentu tidak ingin itu sampai terjadi. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama peduli. Apalagi konten-konten penyiaran di media konvensional dan media baru berbasis OTT, faktanya begitu mudah diakses remaja dan anak-anak lewat TV, smartphone dan warung-warung internet,” tukasnya.(idr)