Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengukir Nama di Peta Bulutangkis Dunia, Ucup: Tak Ada Kata Terlambat

G
Penulis: Ganda Cipta❯

GELAR PERDANA: Muhamad Yusuf (dua dari kiri) naik podium sebagai juara tunggal putra Yonex Czech Open International Challenge 2025 di Praha, Republik Ceko, Minggu (19/10) lalu.
GELAR PERDANA: Muhamad Yusuf (dua dari kiri) naik podium sebagai juara tunggal putra Yonex Czech Open International Challenge 2025 di Praha, Republik Ceko, Minggu (19/10) lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM-PADA 19 Oktober lalu, pebulu tangkis tunggal putra Indonesia keluar sebagai juara di Yonex Czech Open International Challenge 2025.


Advertisement

Bila mengingat capaian kejayaan yang telah ditorehkan sebelumnya, prestasi tersebut tidak begitu spesial. Sebab, hanya turnamen grade tiga.

Tapi beda cerita untuk Sumbar. Daerah yang dalam sejarah tepok bulu dunia, tak masuk peta perhitungan. Jangankan menjuarai turnamen internasional, untuk bisa tembus menjadi pemain pelatnas PBSI saja, atlet-atletnya nyaris tak terdengar.

Kini, lembaran untuk menuliskan nama baik itu mulai diisi Muhamad Yusuf. Seorang anak muda asal Padang. Dia lah sang juara pada ajang di Praha, Republik Ceko tersebut.

Advertisement

Ucup –sapaan akrabnya– baru delapan bulan masuk pelatnas PBSI. Ketika usianya sudah 19 tahun. Itu pun pada level Pratama. Belum Utama, di mana idolanya Anthony Sinisuka Ginting berada. Juga tunggal terbaik Indonesia saat ini Jonatan Christie.

Sejak menjadi pemain nasional, bungsu dari pasangan Hasan Basri dan Suherawati itu telah tampil pada enam kejuaraan internasional di bawah Badminton World Federation (BWF).

Memang, masih grade 3. Tapi dari hasil yang ia raih, ada potensi menjanjikan untuk masa datang. Turnamen internasional pertamanya, JE Wilson Ghana International 2025 pada 13-17 Agustus lalu.

Advertisement

Ucup pun langsung menembus semifinal dan berakhir di peringkat ketiga. Selang empat hari kemudian, dia turun di Cameroon Internasional 2025. Tapi hasilnya kurang memuaskan.

Hanya sampai perempat final. Begitu juga dengan dua ajang selanjutnya, Lagos International Classics 2025 dan Yonex Dutch Open 2025.

Namun, ia kembali bangkit pada Victor Turkiye International Challenge 2025, 18-12 Oktober lalu. Berhasil tembus hingga final.

Tapi harus mengakui keunggulan lawan untuk berada di peringkat dua. Ketika itu dia takluk rubber game dari pebulu tangkis Inggris Harry Huang dengan skor 19-21, 21-11, 16-21.

Kekalahan tersebut mampu dibayar tuntas Ucup di Yonex Czech Open International Challenge 2025, sepekan kemudian. Kembali bertemu di partai puncak, ia menang dalam dua game langsung, 21-14 dan 21-12.

Ucup pun kini berada di peringkat 120 dunia. Masih jauh dari impiannya yang terpatri sejak pertama kali memegang raket pada usia 7 tahun.

“Saya ingin jadi juara dunia,” sebut pemuda kelahiran 19 Februari 2006 itu kepada Padang Ekspres, Sabtu (25/10) lalu.

Pengorbanan

Jalan Ucup bisa sampai pada posisi sekarang, tidak mudah. Ia mesti mengorbankan masa mudanya. Tak bisa bersuka ria dan bergaul sebagaimana anak muda umumnya.

Sebagian besar hari ia habiskan untuk latihan, istirahat, juga menuntaskan pendidikan. Kalaupun ada waktu luang, ia manfaatkan untuk sekadar menyalurkan hobi, nonton film di bioskop dan main biliiar.

Bahkan ia pun tak sungkan mengorbankan pendidikan terbaik yang bisa ia dapati. Harus pindah dari salah satu sekolah favorit, SMA Negeri 2 Padang, ke sekolah swasta, SMA PGRI 2 Padang.

Itu semata-mata, agar bisa lebih leluasa untuk berlatih dan bertanding. Sebab, di SMA 2 Padang dia kurang mendapat dispensasi sebagaimana yang ia butuhkan.

Tak sampai di situ, bahkan Ucup, sempat diragukan saat ingin bersaing di tingkat nasional. Karena usianya ketika itu telah pada tahap remaja akhir.

Apalagi, berasal dari daerah yang tak punya kultur badminton yang kuat. Sebagai pebulu tangkis muda, ia baru mengikuti turnamen tingkat nasional pada tahun 2022, Cilegon Open.

Dari Jalan di Depan Rumah

Jalan di depan rumah orang tuanya di Berok Nipah, Kota Padang, saksi dari langkah pertama dia menjadi pemain bulu tangkis. Bermain dengan saudara-saudaranya, Hendri Hasan abang nomor dua, Dion Saputra ketiga, dan Randito abang keenam.

Dari jalanan, pada usia 8 tahun, Ucup masuk klub pertamanya, PB Hasta Yudha di Padang. Bertahun-tahun menimba ilmu, prestasi di tingkat daerah baru dikecap, setahun jelang mengikuti turnamen tingkat nasional.

Beruntung, tiga bulan jelang Cilegon Open 2022, ia bertemu dengan Albertus Danang, seorang pelatih dan pemilik klub Gading Jaya. Selama tiga bulan itu lah Albertus Danang melatihnya secara khusus di Gading Jaya Padang.

“Tidak tahu, kenapa dia mau melatih saya. Bahkan bela-belain libur dari pekerjaannya. Mungkin dia melihat saya mau bekerja keras,” sebut Ucup.

Muhamad Yusuf memang pekerja keras. Saat masih di Padang, dia tidak hanya berlatih di klub. Kerap pula menambah latihan sendiri. Pantai Padang salah satu tempat yang sering dia pakai untuk memperkuat kondisi fisiknya.

Di tengah-tengah kerja keras yang ia lakukan, Ucup bukan tak pernah frustasi mengejar impian. Juga saat diragukan para pemain senior bisa berprestasi di tingkat nasional dan menembus Pelatnas PBSI.

“Cilegon Open 2022 adalah turnamen nasional pertama saya. Banyak senior-senior yang meragukan saya bisa beprestasi. Karena sudah diakhir usia remaja. Sementara lawan-lawan saya (ketika itu dikelompok U-17) sudah banyak pengalaman dalam mengikuti turnamen nasional,” ceritanya.

Tapi dia punya seseorang yang selalu menjaga dan membangkitkan motivasinya kembali. Dion Saputra. “Waktu mental lagi down, Dion selalu mengingatkan impian yang ingin saya capai. Menjadi juara dunia. Itu membuat saya kembali bersemangat,” kata Ucup.

Sehingga, baginya tak ada yang kata terlambat. Lalu, terus melangkah menuju turnamen nasional pertamanya itu.

Berhasil. Runner up diraih. Peruntungan pun terus berlanjut. AIC Kota Bekasi melirik. Mengajaknya bergabung dan memberi beasiswa.

Tapi, jalan sulit kembali harus ia lalui. Setahun di klub tersebut, tak kunjung berprestasi. Ia sadar, dibanding teman-teman seklub maupun dari klub lain, masih banyak kekurangan yang harus diperbaikinya. Baik teknik maupun fisik.

Satu-satunya jalan untuk mengejer ketertinggalan, dengan menambah porsi latihan. Dasar anak pekerja keras yang punya cita-cita besar, Ucup pun memacu diri. Di luar jadwal latihan pagi, siang, dan sore, masing-masing selama dua jam, dia tambah saat malam hari.

Masuk pada tahun kedua di klub itu, hasilnya mulai terlihat. Di sejumlah turnamen nasional ia keluar sebagai juara. Juga di kejurnas. Sebagai pemain muda, dia pun berada pada rangking pertama dan mendapat kesempatan seleksi masuk pelatnas PBSI awal tahun 2025.

Sempat berada di peringkat kedua babak penyisihan grup, pada akhirnya dia keluar sebagai juara. Tiket ke pelatnas pun direngkuh.
Kini, setelah di Pelatnas PBSI dan juara di Republik Ceko, jalan Ucup menggapai cita-cita masih sangat panjang.

Mampukah ia? Selama masih tak lupa dengan quote favoritnya, ’Bukan kemampuan yang memutuskan kesuksesan hidup orang. Namun kesungguhan dan tekad berusaha’, cita-cita tersebut bukan mustahil ia wujudkan.

“Banyak yang mesti saya perkuat. Salah satunya, kemampuan yang dimiliki Ginting. Saya ingin mencuri kelebihannya saat bermain cepat di depan net,” tukasnya. (cip)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer