Fokus utama penanganan adalah keselamatan warga dan percepatan proses darurat.
“Prioritas kita adalah keselamatan warga. Sesuai arahan Gubernur, semua perangkat terkait seperti BPBD, Dinas Sosial, Dinas BMCKTR, Dinas SDA BK, Dinas Kesehatan, dan jajaran teknis sudah berada di lapangan,” ujar Sekdaprov Arry Yuswandi, Selasa siang (25/11/2025).
Bencana berupa banjir, angin kencang, dan tanah longsor terjadi di Kabupaten Padangpariaman, Kota Padang, Kabupaten Agam, dan Kota Solok. Ribuan warga terdampak, dengan kerusakan pada infrastruktur dasar dan fasilitas umum.
Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Erasukma Munaf, menyebut Kabupaten Padangpariaman menjadi wilayah paling parah terdampak. Per Selasa (25/11, pukul 03.00 WIB), tercatat:
- 3.076 unit rumah terendam, setara 3.076 KK atau 9.228 jiwa terdampak.
- 138 hektare sawah dan 26 hektare perkebunan rusak.
- 2 unit jembatan, 2 saluran irigasi, 2 titik jalan amblas, 1 SD, dan 2 rumah warga rusak akibat angin kencang.
“Perkiraan awal kerugian mencapai Rp4,88 miliar. Bupati Padangpariaman telah menetapkan status tanggap darurat sejak 23 November selama 14 hari,” jelas Erasukma.
Di Kota Padang, beberapa titik banjir dan pohon tumbang akibat angin kencang dilaporkan. Kejadian serupa terjadi di Kota Solok dan Kabupaten Agam, berdampak pada pemukiman dan akses jalan.
“Laporan kabupaten/kota masuk setiap jam ke BPBD Provinsi. Data ini kami himpun dan teruskan ke pimpinan sebagai dasar pengambilan kebijakan,” tambah Erasukma.
Saat ini, tim TRC BPBD bersama TNI/Polri, Basarnas, relawan, dan pemerintah nagari melakukan evakuasi dan pendataan kerusakan.
Dapur umum telah didirikan di beberapa titik, termasuk di Kecamatan Ulakan Tapakis, sementara jalan yang terputus sedang ditangani dengan alat berat.
Proses pemulihan infrastruktur akan dilakukan sesuai arahan Gubernur setelah kondisi aman dan cuaca memungkinkan.(*)
Editor : Hendra Efison