Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Awal Ramadhan Tak Serentak, Pemerintah dan NU Tetapkan 19 Februari, Muhammadiyah 18 Februari

Novitri Selvia • Rabu, 18 Februari 2026 | 11:14 WIB

PANTAU HILAL: Petugas Lembaga Falakiyah PWNU Jakarta memantau hilal dengan teropong di Masjid Hasyim Asyari, Jakarta, kemarin (17/2).
PANTAU HILAL: Petugas Lembaga Falakiyah PWNU Jakarta memantau hilal dengan teropong di Masjid Hasyim Asyari, Jakarta, kemarin (17/2).

PADEK.JAWAPOS.COM-Seperti sudah diperkirakan, awal Ramadhan tahun ini tidak serentak. Muhammadiyah mulai berpuasa hari ini (18/2). Sedangkan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Ramadhan jatuh besok (19/2).

Keputusan pemerintah itu diambil dalam sidang isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta tadi malam (17/2). Menag Nasaruddin Umar memimpin langsung pelaksanaan sidang isbat yang digelar tertutup.

“Dalam sidang ini kami melaksanakan musyawarah. Mengacu hasil hisab rukyah Kemenag dan ormas lain,” katanya.

Pembahasan dalam sidang isbat diperkuat dengan tim rukyat yang ada 96 titik. Data posisi hilal berdasarkan hisab ketinggian berkisar -2 derajat. “Belum hilal wujud. Karena di bawah ufuk,” katanya.

Jadi di seluruh wilayah Indonesia, bahkan di ASEAN, belum masuk imkanur rukyah. “Karena itu, pemerintah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari,” sebut dia.

Hampir bersamaan dengan sidang isbat, PBNU menggelar rukyatul hilal di sejumlah lokasi. Pelaksanaannya berada di bawah Lembaga Falakiyah NU. Hasilnya, tidak ada perukyat yang berhasil mengamati atau melihat hilal.

Ketua Falakiyah NU KH Sirril Wafa menyampaikan, tinggi hilal di Indonesia berada pada rentang -3 sampai -1 derajat atau masih di bawah ufuk.

Sehingga otomatis tidak ada perukyat yang bisa melihat hilal. Untuk diketahui hilal bisa terlihat jika tingginya di atas 2 derajat.

“Kedudukan hilal di seluruh Indonesia ada di bawah ufuk. Juga berada di bawah kriteria Imkan rukyah NU,” katanya.

Sehingga bulan sya’ban digenapkan (istimal) menjadi 30 hari. Dari hasil pengamatan tersebut, PBNU memastikan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada 19 Februari. Rencananya pengumuman resmi akan disampaikan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap masyarakat menyikapi perbedaan awal puasa itu dengan dewasa. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI M Cholil Nafis.

Dia menekankan, jangan sampai ada gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam). Kiai Cholil menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah menuju kedekatan umat Islam kepada Allah SWT.

Menurut dia, perbedaan awal puasa itu adalah masalah khilafiyah fikr atau masalah perbedaan pemikiran. Maka tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan.

“Jadikan (sebagai) ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak,” tegasnya.

Sementara itu, warga Muhammadiyah tadi malam sudah melaksanakan Shalat Tarawih. Sejumlah masjid di berbagai kota tampak penuh.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam menyikapi perbedaan itu dengan cerdas dan tasamuh.

“Di situlah ruang ijtihad, tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ujarnya Selasa (17/2).

Menurut dia, perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana. Terlebih, puasa itu tujuan utamanya adalah meningkatkan takwa, baik pribadi maupun kolektif.

“Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap muslim benar-benar menggapai ketakwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan hidup serba utama,” paparnya. (wan/idr/oni/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#sidang isbat #nasaruddin umar #yahya cholil staquf #NAHDLATUL ULAMA (NU) #mui #pbnu