“Ini bukan sekadar ekspor simbolik, tetapi sinyal bahwa produksi beras nasional sudah cukup kuat sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai menembus pasar global,” ujar Makky, Kamis (5/3/2026).
Makky menjelaskan, keberhasilan ekspor tersebut tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian.
Kebijakan tersebut meliputi peningkatan alokasi pupuk subsidi, perbaikan distribusi sarana produksi, hingga penguatan infrastruktur pertanian yang berdampak langsung pada peningkatan produktivitas petani.
“Ketika sarana produksi seperti pupuk tersedia dan distribusinya lancar, maka petani bisa bekerja lebih optimal. Ini yang kemudian mendorong lonjakan produksi nasional,” katanya.
Arab Saudi Pasar Strategis Beras Dunia
Makky menegaskan pasar yang dimasuki Indonesia bukanlah pasar kecil. Arab Saudi merupakan salah satu importir beras terbesar di dunia karena keterbatasan lahan pertanian dan kondisi iklim gurun yang membuat produksi beras domestik hampir tidak ada.
Data perdagangan internasional menunjukkan pada 2024 Arab Saudi mengimpor sekitar 1,85 juta ton beras dengan nilai lebih dari US$2 miliar dari berbagai negara pemasok.
Mayoritas pasokan beras Saudi berasal dari India dengan pangsa lebih dari 73 persen, disusul Pakistan sekitar 11 persen, serta Amerika Serikat dan beberapa negara Asia lainnya.
Dalam perdagangan global, Arab Saudi juga menyumbang sekitar 10 persen dari total impor beras dunia, menjadikannya salah satu pasar paling strategis bagi eksportir beras.
Peluang Besar Bagi Beras Indonesia
Menurut Makky, jenis beras yang paling diminati di pasar Saudi adalah beras premium aromatik seperti basmati yang banyak digunakan untuk hidangan khas Timur Tengah seperti kabsa, mandi, dan biryani.
Selain itu, terdapat pula permintaan besar untuk beras putih long grain dan medium grain yang digunakan oleh sektor rumah tangga, hotel, restoran, hingga industri katering.
Ia menilai ekspor 2.280 ton dari Indonesia memang masih relatif kecil dibanding total kebutuhan Arab Saudi yang mencapai hampir dua juta ton per tahun. Namun, langkah tersebut dinilai penting sebagai entry point untuk membuka pasar Timur Tengah.
“Kalau kita mampu menembus satu persen saja dari pasar Saudi, itu sudah sekitar 18 ribu ton per tahun. Jika bisa lima persen, volumenya sudah mendekati 100 ribu ton. Ini peluang yang sangat besar bagi petani dan industri beras nasional,” ujarnya.
Momentum Ekspansi Pasar Timur Tengah
Makky juga menilai momentum ini menjadi semakin strategis karena pasar beras Timur Tengah saat ini menghadapi ketidakpastian rantai pasok. Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk bahkan sempat mengganggu pengiriman beras dari India ke negara-negara Timur Tengah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang bagi negara pemasok baru untuk masuk ke pasar tersebut, termasuk Indonesia, jika mampu menjaga kualitas, kontinuitas pasokan, dan standar ekspor.
“Kalau produksi nasional terus meningkat dan kualitas beras kita konsisten, maka Indonesia bukan tidak mungkin menjadi pemain baru di pasar beras Timur Tengah,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan ekspor tersebut juga menjadi indikator bahwa ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi kuat.
“Kalau melihat stok yang ada sekarang, jelas ketersediaan beras kita sangat melimpah,” ujarnya.
Makky berharap pemerintah dapat menjaga momentum ini melalui kebijakan yang konsisten dalam memperkuat produksi, meningkatkan kualitas beras ekspor, serta memperluas akses pasar internasional.
“Jika momentum ini dijaga, Indonesia bukan hanya swasembada, tetapi juga bisa menjadi eksportir beras baru di pasar global,” jelas pakar yang masuk Top 100 Ilmuwan Versi AD Scientific, ini.(*)
Editor : Heri Sugiarto