Spanyol Catat 800 Kasus Kematian per Hari

Orang-orang berjalan di sekitar lapangan yang hampir kosong ketika Royal Palace ditutup untuk umum karena wabah koronavirus di Madrid pusat, Spanyol. (Reuters)

Spanyol menyalip Tiongkok dalam jumlah kasus terinfeksi positif virus korona pada Senin (30/3). Dalam sehari bahkan ada lebih dari 800 kasus kematian di Spanyol.

Jumlah total infeksi di Spanyol meningkat menjadi 85.195 kasus positif pada hari Senin (30/3). Lebih tinggi di atas Tiongkok yakni 81.470 kasus positif. Korban tewas dalam semalam mencapai 812 orang sehingga total kematian menjadi 7.340 jiwa.

Namun, peningkatan kasus baru setiap hari diklaim telah melambat sejak dilakukannya upaya penguncian. “Turun menjadi rata-rata 12 persen dalam lima hari terakhir dari sekitar 20 persen dalam 10 hari sebelumnya,” kata Juru Bicara Kesehatan Darurat Maria Jose Sierra.

Madrid mengadakan hening sejenak untuk para korban penyakit itu. Sementara bendera regional, Spanyol dan Uni Eropa berkibar setengah tiang. Pemerintah Spanyol juga memberlakukan batasan pada harga pemakaman, menyusul laporan bahwa pengurus mengambil keuntungan dari meningkatnya permintaan pemakaman.

Pemerintah juga memberi sektor bisnis tenggat waktu tambahan 24 jam untuk menghentikan operasinya. Sehingga penutupan harus dilakukan dan akan dimulai pada hari Selasa (31/3).

Namun, para pemimpin bisnis mengkritik tindakan Spanyol pada akhir pekan untuk melarang semua pekerjaan yang tidak penting hingga pertengahan April dan memperpanjang dua minggu lagi penutupan secara nasional. Sehingga melumpuhkan industri seperti manufaktur mobil dan pariwisata.

“Jika Anda menghentikan negara, kami akan memiliki masalah sosial besar dalam lima bulan,” kata Presiden Asosiasi Bisnis Spanyol, Antonio Garamendi, dalam sebuah wawancara televisi seperti dilansir dari Channel News Asia, Selasa (31/3).

Spanyol sendiri telah menggulirkan paket bantuan ekonomi 200 miliar euro (USD 220 miliar) untuk membantu pekerja. Dalam langkah-langkah lebih lanjut, pemerintah kemungkinan akan menyetujui penanganan pada kelompok rentan seperti orang-orang yang menganggur dengan tanggungan. Sementara pada sektor ritel, justru sudah mulai bergeser pada sektor belanja online. (*)