Klaim Korea Utara Tanpa Kasus Positif Virus Korona Dipertanyakan

Pekerja di Korea Utara tengah bekerja memproduksi disinfektan. Korea Utara mengklaim belum ada kasus positif virus korona. Namun, klaim tersebut dipertanyakan. (AFP)

Korea Utara hingga saat ini mengklaim tak ada satupun kasus positif virus Korona. Padahal para ahli berpendapat, Korea Utara menutupi hal itu. Bagaimana Korea Utara menyebut tidak memiliki satu kasus virus sementara negara lain di seluruh dunia kewalahan menghadapi pandemi tersebut?

Ini menjadi pertanyaan yang masih menjadi misteri. Korea Utara memang telah mengambil beberapa tindakan paling drastis terhadap virus itu dan melakukannya lebih cepat daripada kebanyakan negara lain. Korea Utara menutup perbatasannya pada akhir Januari, menutup bisnis dengan negara tetangganya yakni Tiongkok, yang menyumbang sembilan per sepuluh dari perdagangan eksternal. Sehingga menekan para penyelundup yang tidak resmi berkembang.

Dilansir dari New York Times, Selasa (31/3), Korea Utara juga mengkarantina semua diplomat di Pyongyang selama satu bulan. Kemampuan tunggal negara totaliter itu untuk mengendalikan pergerakan orang sebagai upaya pengendalian penyakit. Sebab beberapa isolasi dan sanksi internasional telah merusak sistem kesehatan publik Korea Utara. Jika terpukul wabah, ada kekhawatiran bahwa Korea Utara kekurangan pasokan medis untuk melawan wabah tersebut.

“Bayangkan apa yang akan terjadi jika di Korea Utara mendapatkan lonjakan pasien Covid-19 yang masuk,” kata seorang dosen di Harvard Medical School, Dr. Kee B Park, yang telah bekerja bersama dokter Korea Utara untuk membantu meningkatkan sistem kesehatan negara. “Ini akan membanjiri sistem dengan sangat cepat,” tukasnya.

Banyak pengamat Korea Utara meragukan klaim pemerintahnya tidak memiliki kasus virus Korona. Bisa jadi alasannya karena kurangnya peralatan pengujian di sana. “Itu karena mereka memiliki kasus tetapi mereka tidak tahu cara mendeteksinya. Jadi mereka bisa mengatakan, kami belum mengonfirmasinya,” kata dr Kee. “Itu kebohongan terang-terangan ketika mereka mengatakan mereka tidak memiliki kasus,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Korea Utara, Seo Jae-pyoung, yang berbasis di Seoul.

Dia mengatakan bahwa mendengar dari orang dalam di Korea Utara bahwa satu keluarga yang terdiri dari tiga orang dan satu pasangan lansia meninggal karena virus itu di kota pantai timur Chongjin pada pertengahan Maret. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, jelas menyadari ancaman virus itu terhadap sistem kesehatan negaranya yang lemah.

Dalam beberapa minggu terakhir, outlet media resmi Korea Utara telah membawa laporan yang mengkhawatirkan yang merinci jumlah korban virus korona di seluruh dunia. Ada beban bola salju di Korea Selatan. Dan ribuan kasus menumpuk di Italia. Belum lagi kepanikan di Amerika Serikat.

Media di Korea Utara membandingkan laporan-laporan tersebut dengan gambar-gambar pejabat pengontrol penyakit Korea Utara dengan alat pelindung penuh yang menyemprotkan desinfektan di bus, trem, taman bermain, dan pusat kebugaran hotel di Pyongyang. Pabrik garmen di sana juga beralih membuat masker.

Korea Utara telah mengkarantina 10 ribu orang. Pejabat internasional kagum bagaimana Korea Utara bisa melakukannya.

Bulan lalu, Daily NK, situs web berbasis di Seoul yang mempekerjakan informan anonim di Utara, melaporkan kematian 200 tentara, serta 23 lainnya, yang diduga tertular virus korona. Namun Kang Mi-jin, seorang jurnalis Korea Utara, belum dapat menemukan kematian yang secara resmi dianggap berasal dari Coronavirus.

Kepala Pusat Penelitian Kesehatan dan Kesejahteraan Korut yang berpusat di Seoul, Ahn Kyung-su, yang memantau sistem kesehatan Korea Utara mengatakan ada risiko virus menjadi tidak terkendali jika mulai menyebar di antara orang-orang yang kekurangan gizi. Ahn mengatakan kit pengujian dari Tiongkok tersedia di kota-kota besar seperti Pyongyang.

Pada bulan ini, beberapa bantuan mulai sampai ke Korea Utara dalam upayanya untuk menghadapi virus. Rusia menyumbangkan 1.500 alat tes. Tiongkok juga diyakini telah mengirim alat diagnostik. (*)