Tren Virus Korona di Malaysia Menurun

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah mengatakan bahwa lockdown di negaranya telah berhasil mencegah kenaikan penularan virus Korona. (The Star)

Malaysia mengklaim kebijakan Perintah Kawalan Pergerakan atau lockdown yang diterapkan di negaranya berhasil meratakan kurva kasus Covid-19. Tren kasus menurun dan kini sedang memasuki tahap pemulihan.

Wabah ini membuat Malaysia dan negara manapun mengalami masalah yakni warganya kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan mental, dan peningkatan kesengsaraan ekonomi.

Malaysia memberlakukan penguncian nasional sejak 18 Maret 2020. Sekolah-sekolah dan bisnis-bisnis yang tidak penting telah ditutup. Semua pertemuan sosial juga dilarang.

“Perintah Kawalan Pergerakan telah berhasil meratakan kurva dan negara kami sedang memasuki fase pemulihan,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah seperti dilansir dari South China Morning Post, Kamis (30/4).

Malaysia memiliki lebih dari 6.000 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi, dan telah melaporkan lebih dari 100 kematian. Status kuncian di Malaysia akan berlanjut hingga 12 Mei, dengan perpanjangan lebih lanjut diharapkan bisa mencegah pertemuan massa selama perayaan Idul Fitri pada akhir Mei.

Picu Gangguan Mental

Dalam sebuah survei yang dirilis oleh Think Tank The Center menemukan bahwa 50 persen responden melaporkan mengalami berbagai gangguan mental negatif selama masa lockdown. Dengan 22 persen mengatakan mereka mengalami kecemasan yang parah atau sangat parah.

Kelompok perempuan dan mereka yang berusia di bawah 35 tahun melaporkan tingkat emosi negatif yang lebih tinggi. Sebanyak 26 persen perempuan mengatakan mereka mengalami depresi, kecemasan, dan stres yang parah dan sangat parah.

Orang-orang yang tinggal di perumahan kelas bawah juga melaporkan tanda-tanda yang lebih ekstrem dari ketiga kondisi tersebut. “Ini mendorong agar mengevaluasi kembali bagaimana perumahan murah dirancang dan dibangun, untuk mempertimbangkan implikasi kesehatan mental,” kata The Center dalam sebuah pernyataan.

Ratanya kurva kasus Covid-19 jelas memperlambat laju kenaikan agar tidak terlalu membebani sistem perawatan kesehatan. “Malaysia telah melakukan dengan baik dalam mengelola wabah virus,” kata Ahli Penyakit Pernapasan Dr Helmy Haja Mydin dari Rumah Sakit Pantai Kuala Lumpur. “Setiap negara memiliki metrik sendiri, sebagian besar dipengaruhi oleh konsekuensi sosial ekonomi juga,” katanya.

Menurut Institute of Strategic and International Studies (ISIS), pandemi ini akan memiliki efek merusak ekonomi Malaysia dari faktor eksternal seperti guncangan permintaan dan penawaran global serta faktor domestik. Dalam sebuah laporan, lembaga Think Tank lokal mengatakan lockdown akan berdampak terhadap usaha kecil dan menengah dan kelompok rentan seperti individu dan pekerja berpenghasilan rendah.

Meski Perdana Menteri Muhyiddin Yassin telah mengumumkan bahwa beberapa pembatasan akan dicabut, tapi para ahli mengatakan strategi keluar dari kuncian harus dipikirkan dengan baik. “Hal-hal tertentu harus tetap dilarang, seperti perjalanan antarnegara sehingga orang tidak terburu-buru ke kota asal mereka untuk perayaan Idul Fitri,” kata dr. Helmy.

Lockdown memang menjaga tingkat kematian Malaysia di bawah 2 persen, namun pemerintah Malaysia pekan lalu mengatakan memperkirakan kerugian harian karena bisnis yang tutup mencapai USD 550 juta.

Institut Riset Ekonomi Malaysia pada 25 April memperkirakan sekitar 2,4 juta warga Malaysia bisa kehilangan pekerjaan jika penguncian diperpanjang lagi dua minggu setelah 12 Mei. Pemerintah Malaysia telah mengumumkan paket stimulus untuk membantu perekonomian. (jpg)