Demo Rusuh di AS, KBRI Washington Jamin 142.441 WNI Aman

31
Aksi unjuk rasa terkait kematian George Floyd akibat diperlakukan kasar oleh polisi (BRYAN R. SMITH/AFP)

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC bersama dengan seluruh Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Amerika Serikat terus memonitor dari dekat sekaligus memastikan keselamatan WNI yang tersebar di berbagai kota dan wilayah di AS.
Para WNI dipastikan aman menyusul merebaknya gelombang demonstrasi pascakematian George Floyd.

“Seluruh WNI di AS yang berjumlah 142.441 orang saat ini berada dalam kondisi aman dan baik-baik. Tidak ada laporan terkait WNI yang terdampak akibat demo,” ujar Kuasa Usaha Ad-Interim/Wakil Duta Besar RI untuk AS.

Iwan Freddy Hari Susanto, dalam keterangan tertulis, Selasa (2/6). Aksi unjuk rasa yang terjadi di berbagai negara bagian di AS, mulai dari wilayah Pantai Timur hingga Pantai Barat, telah memasuki hari ketujuh sejak 26 Mei 2030. Sebagian telah menerapkan peraturan jam malam dan status darurat.

“Keselamatan dan keamanan WNI di AS menjadi prioritas utama dan perhatian khusus KBRI Washington DC dan KJRI-KJRI se-AS. Sebagai salah bentuk perlindungan kepada WNI, semua perwakilan RI di AS telah mengeluarkan imbauan kepada WNI agar tetap tenang, hati-hati dan tidak keluar rumah kecuali untuk kepentingan atau kebutuhan yang mendesak, seperti membeli kebutuhan rumah tangga sehari-hari atau pergi ke dokter,” imbuhnya.

WNI juga diminta agar menjauhi tempat-tempat terjadinya aksi unjuk rasa karena akan membahayakan keselamatan dan keamanan mereka. Patuhi setiap instruksi, kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan oleh otoritas setempat.

Dia juga menambahkan bahwa seluruh Perwakilan RI di AS terus menjalin kontak dengan simpul-simpul masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa, di berbagai wilayah di AS untuk membantu memantau dari dekat dan memastikan keselamatan WNI dalam situasi saat ini. KBRI Washington DC dan KJRI-KJRI se-AS juga membuka layanan nomor hotline bagi masyarakat Indonesia di AS jika membutuhkan bantuan atau pertolongan.

Meutya Hafid Prihatin

Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid menyayangkan munculnya kerusuhan dampak dari aksi protes massa di sejumlah kota di Amerika Serikat (AS). Protes tersebut dipicu kematian warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi yang menangkapnya di Minneapolis, AS.

Meutya Hafid menilai, pemerintah AS perlu meredam gejolak chaos dengan memastikan tidak ada perbedaan perlakuan atau diskriminasi terhadap warga di sana. Apalagi negara Pam Sam itu memiliki Declaration of Independence, sebagai bagian dari sejarah terbentuknya negara AS.

Deklarasi kemerdekaan itu memuat poin-poin yang dijadikan dasar dari sebuah kekuatan bagi kebebasan umat manusia yaitu Hak Asasi Manusia (HAM).

“Ini penting karena unrest yang terjadi di AS tentu mendapat perhatian dunia, dan jika tidak ditangani secara cepat dan profesional melalui pendekatan-pendekatan persuasif, dikhawatirkan akan menjadi contoh kurang baik bagi negara lain,” kata Meutya Hafid dalam keterangan tertulisnya.

Pada kesempatan itu, Meutya Hafid juga meminta pemerintah dalam hal ini Perwakilan RI di AS untuk memastikan keselamatan para WNI di sana.

“Pemerintah Indonesia melalui Perwakilan Indonesia di AS harus memastikan dan mengikuti dari dekat perkembangan di AS menyusul aksi kerusuhan yang terjadi di sejumlah kota di AS. Apalagi ini punya potensi semakin meluas,” ujarnya.

Politikus Partai Golkar itu juga meminta dalam upaya perlindungan WNI di AS, Perwakilan Pemerintah RI di AS untuk menghubungi WNI secara acak untuk memastikan kondisi keamanan mereka.

“Terus berikan informasi melalui website resmi maupun hotline atau aplikasi yang dimiliki oleh Kemlu RI untuk memberikan kondisi dan informasi secara update. Sekaligus juga memberikan imbauan agar WNI di sana, sebisa mungkin untuk tidak keluar rumah hingga situasi aman terkendali,” katanya.

Sementara itu, hasil otopsi independen membuktikan George Floyd tewas di lokasi. Keluarga dan pengacara George Floyd tak percaya dengan hasil otopsi yang dilakukan oleh kantor Pemeriksa Medis Hennepin. Sebab hasil otopsi pendahuluan menyebutkan tak ada bekas cekikan pada leher George Floyd dan kematiannya dipicu serangan jantung atau hipertensi.

Ternyata, itu semua kini terbantahkan oleh versi otopsi independen. Bahkan Floyd diduga sudah tewas di tempat kejadian. Otopsi independen menyebut insiden itu sebagai pembunuhan. Dan detak jantung Floyd berhenti ketika polisi menekan lehernya seperti dilansir USA Today, Selasa (2/6).

Laporan pemeriksa medis yang dirilis Senin (1/6) mencantumkan hasil henti jantung-paru yang menyulitkan akibat penegakan hukum, penahanan, dan kompresi leher sebagai penyebab kematian. Itu muncul beberapa jam setelah pengacara keluarga Floyd Benjamin Crump mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan temuan otopsi yang ditugaskan keluarga. Otopsi independen menyatakan Floyd sesak napas akibat tekanan terus-menerus pada lehernya.

Tim otopsi independen Michael Baden dan Dr. Allecia Wilson mengatakan ada kompresi leher dan punggung yang menyebabkan kurangnya aliran darah ke otak. Mereka menambahkan bahwa berat di punggung, borgol, dan posisi adalah faktor yang berkontribusi karena mengganggu kemampuan diafragma Floyd untuk berfungsi.

Floyd meninggal pada Senin (25/5) setelah seorang perwira polisi Minneapolis menekan lehernya selama beberapa menit ketika dia diborgol di tanah. Floyd merintih bahwa dia tidak bisa bernapas dan memohon bantuan. Insiden ini memicu kemarahan, memicu protes dan kekerasan di seluruh AS.

Laporan pemeriksa medis dari Pemeriksa Medis Hennepin sebelumnya menemukan tidak ada temuan fisik yang mendukung diagnosis asfiksia atau pencekikan traumatis. Menurut dokumen itu, yang menunjukkan kondisi kesehatan Floyd saat ini karena penyakit arteri koroner dan penyakit jantung hipertensi.

Baden dan Wilson mengatakan tampaknya Floyd meninggal di tempat kejadian. Berdasar itu, Floyd dipastikan tak punya masalah kesehatan. “Apa yang kami temukan konsisten dengan apa yang dilihat orang, tidak ada masalah kesehatan lain yang dapat menyebabkan atau berkontribusi pada kematian,” tegas mereka.

Crump memiliki argumen yang kuat tentang kematian Floyd. Polisi Derek Chauvin didakwa melakukan pembunuhan dan pembunuhan tingkat tiga. Dia ditahan di penjara negara bagian. Tiga petugas lainnya yang berada di tempat kejadian belum ditahan atau didakwa dengan kejahatan apa pun. Keempat petugas dipecat sehari setelah kematian Floyd. (jpg)