AS-Tiongkok Berdebat Soal Efektivitas Remdesivir untuk Covid-19

 

Hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok dalam penanganan Covid-19 kerap berseberangan. Kali ini kedua negara beda pendapat soal hasil uji obat Remdesivir untuk pasien Covid-19. Menurut Tiongkok, obat itu tidak terbukti efektif bagi pasien Covid-19. Sebaliknya, bagi AS, justru obat itu mempercepat pemulihan pasien.

Sebuah uji coba klinis Tiongkok terhadap obat antiviral Remdesivir menunjukkan tidak ada manfaat yang signifikan bagi pasien dengan Covid-19. Tapi, bagi peneliti AS, obat itu memberi waktu pemulihan yang lebih cepat bagi mereka yang menderita penyakit Covid-19.

Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (30/4), kematian dan kasus positif yang terus bertambah membuat para ilmuwan berharap pada Remdesivir sebagai obat untuk mengobati penyakit pernapasan itu. Optimisme itu mendapat dorongan dari AS tentang efektivitas obat itu pada Rabu (29/4).

Sementara hasil berbeda terungkap pada penelitian Remdesivir pada pasien Covid-19 di Tiongkok, yang menemukan bahwa obat itu tidak secara signifikan mempercepat waktu untuk perbaikan klinis, pembersihan virus, atau menurunkan tingkat kematian pada pasien dengan gejala serius.

Kritikan pun datang. Obat itu dinilai tak efektif sebab ukuran sampel target pasien di Tiongkok tak terpenuhi. Tentu saja sebab tingkat infeksi di Tiongkok sudah menurun. Sehingga tak bisa ditarik kesimpulan.

Itu berbeda dengan penelitian yang dipimpin pemerintah AS. Kondisi pasien mengalami kemajuan pesat usai menerima Remdesivir. Pasien bisa pulih lebih cepat daripada pasien serupa yang menerima plasebo.

Temuan ini diumumkan oleh National Institutes of Health (NIH) pada Rabu, (29/4) dan diperlakukan dengan optimisme secara hati-hati oleh direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Anthony Fauci, yang duduk di gugus tugas Coronavirus Gedung Putih. Fauci menyebut hasil itu sangat signifikan tetapi memang masih perlu dianalisis dan ditinjau oleh rekan sejawatnya.

Dia menyebut hasil uji memberi bukti konsep bahwa obat itu dapat memblokir virus. Fauci mengatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS bekerja sama dengan pengembang obat Remdesivir, Gilead Sciences untuk mencari tahu mekanisme agar obat ini tersedia dengan mudah bagi mereka yang membutuhkannya.

Sementara itu, sebuah laporan dari The New York Times mengatakan bahwa FDA kemungkinan akan mengesahkan persetujuan darurat obat tersebut.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 1.063 pasien, NIH mengatakan pasien yang menerima Remdesivir memiliki waktu pemulihan 31 persen lebih cepat daripada mereka yang menerima plasebo. Waktu rata-rata untuk pemulihan adalah 11 hari untuk pasien yang diobati dengan remdesivir dibandingkan dengan 15 hari untuk mereka yang menerima plasebo. Artinya 4 hari pulih lebih cepat.

Sedangkan Tiongkok tidak menemukan indikasi bahwa Remdesivir menghasilkan penurunan yang signifikan pada beban RNA Sars-CoV-2 dalam saluran pernapasan atas. Remdesivir belum dilisensikan atau disetujui di mana pun secara global untuk pengobatan Covid-19.

Obat ini awalnya dikembangkan untuk digunakan pada penyakit virus menular. Tetapi memiliki beberapa hasil yang menjanjikan dalam uji coba hewan untuk mengobati sindrom pernapasan MERS dan sindrom pernapasan SARS, dua penyakit akibat Coronavirus lainnya.

Para ahli lain mengatakan hasil dari uji klinis awal membutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk dikonfirmasi dan mempertimbangkan efektivitasnya. (*)