Demonstrasi di AS masih Mengkhawatirkan

20
SITUASI PANAS: Donald Trump berjalan melintasi para polisi di Lafayette Park setelah mengunjungi Gereja St John, Washington DC (Patrick Semansky/AP)

Datang sudah jawaban dari Donald Trump terkait kerusuhan pasca kematian George Floyd. Presiden ke-45 AS itu memilih jalan kekerasan. Dia mengancam menerjunkan militer untuk meredam demonstrasi yang marak.

Senin (1/6) sore, Trump berjalan di Lafayette Park yang berada di seberang Gedung Putih. Dia terus melangkah menuju Gereja St John. Gereja tersebut rusak ringan akibat demonstrasi yang terjadi dalam beberapa hari ini. “Kita mempunyai negara yang hebat. Terhebat di seluruh dunia,” ungkap Trump seperti yang dilansir Associated Press.

Setelah beberapa sesi foto lainnya dengan pejabat lainnya, Trump kembali tanpa berbincang dengan pengurus gereja. Udara saat itu masih terasa pedas. Bekas gas air mata yang digunakan polisi untuk mengusir paksa demonstran.

Kunjungan Trump saat itu mendapat kritik dari banyak orang. Termasuk Uskup Gereja Episkopal Washington Mariann Budde. “Dia memanfaatkan simbol yang sangat sakral untuk kepentingannya sendiri,” ungkapnya.

Jelas Budde marah. Pasalnya, Trump mengerahkan aparat untuk memukul mundur massa yang sedang beraksi di depan Gedung Putih hanya untuk sekadar foto. Kabarnya, massa diberi tembakan gas air mata dan diancam akan dipenjara jika tak segera mengosongkan jalan.

Sebelum kunjungan tersebut, Trump sudah menegaskan sikapnya. Dia mengatakan bahwa pemerintah pusat bakal bertindak tegas jika pemerintah negara bagian tak becus. Salah satunya dengan memberlakukan Insurrection Act alias Undang-Undang Pemberontakan yang dibuat pada 1807.

”Kalian ini terlalu lemah. Ini sama seperti perang dan kalian harusnya mendominasi,” ungkap Trump kepada para gubernur dalam video conference yang dilakukan pagi harinya menurut CNN.

UU Pemberontakan dibuat untuk memberi wewenang presiden mengerahkan pasukan militer di wilayah dalam negeri. Tanpa undang-undang tersebut, pasukan militer aktif dilarang beroperasi di AS. Yang diperbolehkan hanyalah National Guard alias kelompok militer cadangan.

Menteri Pertahanan AS mengatakan, saat ini sudah ada 17 ribu personel National Guard yang diperbantukan ke-29 negara bagian dan ibu kota untuk mengatasi demo. Belum lagi 45 ribu personel yang sudah dikerahkan untuk mengatasi Covid-19. Total pengerahan jauh lebih besar dibanding saat badai Katrina muncul pada 2005. Saat itu, 51 ribu personel National Guard dikerahkan.

“Saya percaya bahwa tentara AS seharusnya tak dikerahkan untuk mengamankan saudara sebangsa mereka,” ujar Mayor Jenderal Thomas Carden, pemimpin Georgia National Guard, kepada CNN.

Protes anarkistis yang terjadi di AS memang makin mengkhawatirkan. Empat polisi di St Louis tertembak pada Senin malam. Di Las Vegas, seorang polisi juga terkena timah panas. “Beberapa pengecut menembaki petugas kami,” ujar Kepala Kepolisian St Louis John Hayden Junior.

Namun, sikap Trump bisa jadi malah memperparah keadaan. Pasalnya, sampai sekarang, dia belum menjawab tuntutan pendemo. Baik mengenai isu kebrutalan polisi maupun soal isu rasisme.

Padahal, sudah banyak tokoh yang membicarakan isu tersebut. Temasuk perwakilan Uni Eropa Josep Borrell. Dia mengatakan bahwa kasus George Floyd merupakan contoh nyata penggunaan kekerasan oleh aparat. “Kami di Eropa sama terkejutnya dengan kematian Floyd. Seluruh masyarakat harus mawas agar peristiwa ini tak terulang lagi,” ungkapnya. (bil/c17/dos/jpg)