Warga Belanda Enggan Pakai Masker

185
ilustrasi. (net)

Mayoritas negara menganggap, memakai masker jadi tindakan efektif mencegah penyebaran Covid-19. Tapi, tidak di Belanda. Sehari-hari, pemandangan di Amsterdam, Belanda seperti tak beda dari sebelum korona datang menghantam. Warga hilir mudik di jalanan. Sebagian dari mereka asik nongkrong di kafe. Beberapa yang lain, tampak sedang bercukur di tempat pangkas rambut.

Hal yang bisa bikin kening kita berkerut mungkin, tak ada satu pun dari mereka yang memakai masker.  Alasan mereka tidak ada rekomendasi dari pakar di negara itu. Soalnya, dari data dan penelitian dilakukan, para pakar menemukan, tak ada bukti kuat masker dapat mencegah penularan. Meski mereka mengakui, tidak mengenakan masker bisa menghambat perang melawan wabah.

“Dari semua bukti, masker tidak diperlukan. Tidak bermanfaat. Malah, mungkin bisa berdampak negatif,” ucap kata Coen Berends, juru bicara Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda, dikutip Daily Mail.

Sikap yang berani. Meski mengundang kontroversi. Terutama di tengah ancaman gelombang kedua wabah Covid-19 di Eropa. Sebelumnya, Inggris telah setuju pada gerakan protokol kesehatan. Terutama di tempat umum. Bersama Skotlandia, Spanyol dan Prancis, serta dua negara tetangga Belanda, Belgia dan Jerman.

”Masker penting untuk mencegah penyebaran droplet via udara,” kata Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Tapi Belanda tidak setuju. Bahkan, warga Belanda mengaku sangat tidak nyaman saat memakai masker. Seperti yang dikatakan Aicha Meziati. Menurutnya, orang-orang yang memakai masker, seperti meletakkan popok di wajah mereka. Aku tidak suka memakainya. Terlihat mengerikan,” ucap Meziati.

Margriet, karyawan di toko minuman menyebut, sulit membaca ekspresi wajah seseorang saat mereka memakai masker. Kata dia, berkomunikasi bisa lebih mudah tanpa menggunakan masker. Terutama bagi orang-orang yang belanja di tokonya.

Tim Manajemen Wabah, yang jadi penasehat pemerintah Belanda menjelaskan, ada tiga hal yang lebih penting dilakukan daripada masker. Dan, terbukti mengurangi tingkat penyebaran jika dibandingkan dengan di Inggris.

Tiga hal itu adalah, mencuci tangan secara teratur, menjaga jarak fisik minimal 1,5 meter dan tidak keluar rumah saat sakit. Satu-satunya pengecualian dalam pemakaian masker adalah saat berada di transportasi umum. Dimana menjaga jarak jadi lebih sulit. “Kami melihat pendekatan ini berhasil.

Masker bukanlah senjata utama penangkal penyebaran,” kata Christian Hoebe, profesor penyakit menular di Maastricht dan anggota tim penasihat. Hoebe, yang juga kepala pengendalian penyakit menular di Zuid-Limburg, wilayah yang paling terdampak saat pandemi melanda Belanda, merujuk sebuah studi di Norwegia. Di mana 200 ribu orang harus memakai masker bedah selama satu minggu untuk menghentikan satu kasus Covid-19.

Sayangnya, hanya sedikit yang memiliki masker medis. Sementara di Inggris, saat para pasien dirawat dengan benar oleh layanan kesehatan pemerintah, orang-orang malah melakukan yang salah. Terutama saat memasang dan membuka masker.

Hoebe menambahkan, dirinya baru saja berkunjung ke Belgia. Dia mengaku melihat sendiri bagaimana orang-orang salah memakai masker. Ada yang memakai di bawah hidung, terbalik atau di bawah dagu. Sedangkan yang lain, malah memasukkannya ke kantong.
”Efektivitasnya tergantung pada bahan yang tepat dan masker juga harus dipakai sangat dekat dengan hidung,” terangnya.

Hasil studi salah satu spesialis di Universitas Eindhoven menemukan bahwa partikel virus SARS-Cov2 penyebab Covid-19, bisa terjebak di lapisan elektrostatik dalam masker medis. Dan dapat menembus pori-pori seperti yang ditemukan di kapas dan bahkan penyedot debu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sebenarnya skeptis. Bahkan, mereka memperingatkan, penggunaan masker secara luas oleh orang sehat di lingkungan masyarakat belum didukung bukti ilmiah langsung. Meski akhirnya organisasi itu mengubah rekomendasinya pada Juni lalu. Dan meminta orang sehat pun memakai masker.

Seperti di beberapa negara Eropa lainnya, Belanda juga mengalami peningkatan infeksi beberapa pekan terakhir. Tercatat ada 1.329 kasus selama dua pekan terakhir. Dan jumlah yang dirawat dan yang meninggal pun cukup tinggi. Saat ini tercatat ada 6.147 kematian akibat Covid-19.

Namun, tim penasehat kabinet mengatakan, kenaikan itu karena warga yang berkumpul dalam pertemuan keluarga atau pesta. Dimana bisa dipastikan, mereka melepas masker dan melanggar beberapa peraturan soal pertemuan di tempat umum.

Klaster lainnya datang dari sebuah bar di Hillegom, dekat Amsterdam. Sebelumnya pemilik bar bilang, bahwa pelanggan bisa duduk berdekatan, berjabat tangan dan berpelukan. Dia yakin, virus itu tidak aktif. Bahkan, se-Sumbar di Facebook. Hingga akhirnya mereka salah. Dan ditemukan 39 kasus positif dari klaster itu.

Belanda yang berpenduduk 17 juta orang, tak melakukan karantina wilayah atauu lockdown total saat puncak wabah. Negeri Kincir Angin lebih mengandalkan kesadaran warganya, alih-alih melakukan pembatasan ketat.

Meskipun dalam jajak pendapat baru-baru ini menyebutkan dukungan pemakaian masker di tempat umum dan ruangan tertutup, ternyata sebagian warganya tak juga mematuhinya. “Saya lebih suka orang bisa memutuskan sendiri,” kata Jesus Garcia, pemilik pangkas rambut di Amsterdam.

Wali Kota Amsterdam dan Rotterdam, dua kota terbesar di negara itu, telah mendesak agar masyarakat memakai masker. Terutama di keramaian. Wali Kota Amsterdam Femke Halsema, mengaku khawatir, wisatawan dan pemuda membuat kota itu terlalu ramai. Dan dia meminta orang berusia 13 tahun wajib memakai masker. Terutama di kawasan terkenal Red Light District dan pusat-pusat perbelanjaan populer. (pyb/jpg)