Penggali Makam Sebut Korban Korona di Brasil Tiga Kali Lipat dari Data

Penggali kubur di pemakaman terbesar di Brasil, Vila Formosa, membersihkan liang lahat yang sudah disiapkan ketika jumlah kematian meningkat setelah wabah penyakit Coronavirus melanda Brasil. (Reuters)

Brasil adalah negara terparah terpapar virus Korona atau Covid-19 di Amerika Latin. Hingga Sabtu (4/4), Brasil melaporkan 9.216 kasus positif virus Korona dengan angka kematian 365 jiwa. Hanya saja, ada sejumlah pihak yang menyangsikan jumlah kematian yang dipublikasikan atau dirilis di sejumlah media tersebut. Mereka menilai jumlah kematian akibat Covid-19 di Brasil lebih dari data yang dirilis dan disebut tiga kali lipat dari data tersebut.

Salah satu pihak yang meyakini bahwa jumlah kematian lebih banyak dibanding data yang dirilis adalah para pekerja penggali makam atau kubur. Di pemakaman terbesar di Brasil, Vila Formosa, yang terletak di pinggiran Sao Paulo, penggali makam mengaku menghitung jumlah jenazah yang dikuburkan dan diyakini pasien Covid-19. Dan, mereka meyakini jumlahnya lebih dari data yang dipublikasikan.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh seorang warga yang bernama Oswaldo dos Santos. Kepada Reuters, dia bercerita melihat dari jauh kesibukan para penggali makam pada suatu hari saat pemakaman putranya yang berusia 37 tahun. Di pemakaman tersebut, tak hanya putranya yang dikuburkan, tapi ada banyak jenazah lainnya.

Dos Santos sependapat dengan para penggali makam bahwa jasad-jasad yang dikuburkan merupakan pasien virus Korona. Meski, ada yang belum dilakukan tes Coronavirus, seperti halnya jenazah anaknya. Dos Santos sendiri yakin putranya terinfeksi virus Korona lantaran sebelum meninggal mengalami permasalahan parah pada pernapasan. “Saya pikir dia (putra saya) menderita penyakit itu (Covid-19),” ungkap Dos Santos kepada Reuters.

Pemakan putranya tersebut tak lebih dari 10 menit. Itu sesuai protokal tetap pemakanan pasien Covid-19 untuk membatasi kerumunan dan tentunya penularan. Dari sinilah, Dos Santos yakin bahwa jasad-jasad lain yang dimakamkan di Vila Formosa dalam beberapa pekan ini sebagian besar pasien Covid-19 meski belum dites. Di satu sisi, data jumlah kematian yang dipublikasikan adalah korban yang telah dites dan dinyatakan positif virus Korona.

Vila Formosa adalah pemakaman terbesar di Brasil. Pemakaman tersebut memang sudah dibuat liang lahat dalam jumlah yang banyak. Itu memang disiapkan ketika ada orang yang meninggal. Namun, itu bukan dipersiapkan untuk memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal. Sebelum ada pandemi, Vila Formosa juga sudah menyiapkan liang lahat sehingga ketika ada orang meninggal, petugas makam tak perlu menggali lagi namun sekadar membersihkan dan kemudian menimbun.

Penggali makam di Vila Formosa dalam beberapa pekan terakhir mengaku mengalami kelelahan. Maklum saja, beban mereka meningkat dua kali lipat menjadi hampir 60 pemakaman per hari. Para pekerja yakin bahwa Coronavirus secara diam-diam membunuh jauh lebih banyak daripada yang ditunjukkan statistik resmi pemerintah. “Barisan liang lahat di Vila Formosa disiapkan untuk tiga bulan ke depan. Tetapi, semua liang lahat telah penuh hanya dalam satu bulan,” kata seorang pekerja makam seperti dilansir Reuters.

Para penggali kuburan mengatakan bahwa jumlah proses pemakaman telah membengkak yakni orang-orang yang meninggal sebelum mendapatkan hasil untuk tes Coronavirus. Kasus-kasus itu tidak segera dihitung dalam statistik resmi Brasil. “Angka-angka di surat kabar sangat salah,” kata seorang penggali kubur. “Angka aslinya dua kali lebih tinggi, mungkin bisa tiga kali lipat,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Brasil, Luiz Henrique Mandetta, mengakui bahwa kasus virus Korona kemungkinan ada yang tidak dilaporkan karena keterlambatan dalam pengujian. Di sisi lain, pihak pengelola pemakaman Kota Sao Paulo, yang mengawasi pemakaman Vila Formosa, tidak menanggapi pertanyaan dari Reuters soal jumlah pasti yang dikuburkan.

Staf di pemakaman meminta untuk tidak disebutkan namanya. Dia menunjukkan sertifikat kematian yang mengidentifikasi beberapa orang meninggal karena gejala mirip virus Korona. Jasad orang-orang yang diduga terpapar Coronavirus namun belum dikonfirmasi diperlakukan dengan cara yang sama seperti mereka yang dikonfirmasi positif. Jasad dibungkus plastik. Penggali kubur memakai alat pelindung. Tidak ada upacara formal. (*)