Plastik Tempat Sampah untuk APD

Di tengah pandemi virus korona jenis baru atau Covid-19, para tenaga medis ibarat tentara di medan perang. Mereka berada di garda depan menangani pasien. Sayang, persenjataan yang tidak lengkap membuat mereka tumbang satu per satu, tak terkecuali di negara maju.

Di lorong sebuah rumah sakit di Mount Sinai West, New York, Amerika Serikat (AS) tiga orang perawat tampak memakai sesuatu berwarna hitam. Bukan baju. Melainkan, plastik tempat sampah. Alat pelindung diri (APD) yang tidak memadai itu terpaksa dipakai karena stok di rumah sakit kosong.

“Tidak ada lagi masker dan menggunakan lagi masker yang seharusnya sekali pakai,” tulis Diana Torres yang menyertai unggahan fotonya itu. Foto tersebut langsung viral dan menjadi pembicaraan.

Di awal virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19, berkembang, Presiden AS Donald Trump cenderung menganggap enteng. Suami Melania itu harus menghadapi kenyataan pahit begitu virus mematikan tersebut sampai di negaranya. Persebarannya begitu cepat dan memakan banyak korban jiwa.

Salah seorang korban jiwa di AS adalah bayi yang masih berusia 6 pekan di Connecticut. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump mengakui bahwa stok sarung tangan, masker untuk respirator, dan berbagai peralatan medis lainnya mulai menipis.

“Itu karena kami mengirimkannya langsung ke rumah sakit,” kilah Trump seperti dikutip The Guardian. Dia meminta setiap negara bagian membeli langsung dari pabrik untuk didistribusikan ke rumah sakit di wilayahnya. Banyak pihak mengkritik Trump karena kurangnya perencanaan yang tersentral terkait penanganan Covid-19.

Lelah dan putus asa, para tenaga medis akhirnya menggunakan media sosial untuk berkeluh kesah, mengedukasi masyarakat, dan mencari bantuan. Mereka mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Mulai jam kerja yang bertambah panjang, minimnya alat, hingga para tenaga medis yang mulai tumbang satu per satu.

Dokter spesialis penyakit dalam di Rancho Mirage, California, Richard Loftus menegaskan bahwa situasi saat ini ibarat para dokter itu adalah tentara yang dikirim ke Perang Dunia II tanpa senjata memadai.

Di Italia setidaknya 41 petugas medis meninggal dunia sejak wabah korona melanda negara tersebut. Selain itu, lebih dari 5 ribu dokter, perawat, teknisi, dan petugas kesehatan lainnya tertular Covid-19. Mayoritas adalah mereka yang terjun di awal wabah. Kala itu APD belum tersedia banyak, sedangkan kasus penularan melejit dengan cepat.

Di Inggris empat dokter kenamaan meninggal dunia. Mereka adalah Alfa Sa’adu, Amged El Hawrani, Adil El Tayar, dan Habib Zaidi. Semuanya adalah dokter muslim keturunan Afrika, Asia, dan Timur Tengah.

Penelitian yang dilakukan para dokter di Tiongkok dan dipublikasikan di Lancet menunjukkan bahwa 70 persen pekerja medis yang bertugas di Hubei saat wabah Covid-19 berlangsung mengalami stres berat. Selain itu, 50 persen menunjukkan gejala depresi, 44 persen gangguan kecemasan, dan 34 persen mengalami insomnia. Belum ada penelitian di Italia maupun negara lain yang terdampak cukup parah. Tapi, sangat mungkin masalahnya serupa. (*)