Sakit Jantung dan Positif Korona, Eks PM Libya Mahmoud Jibril Meninggal

Mantan Perdana Menteri Libya Mahmoud Jibril meninggal dunia dalam usia 68 tahun di rumah sakit Kairo. (Foto: dok.reuters)

Mantan Perdana Menteri Libya Mahmoud Jibril meninggal dunia karena penyakit jantung dan positif terinfeksi virus korona (Covid-19).

Mahmoud Jibril memimpin sementara Libya hingga negara itu mengadakan pemilu bebas pertama pada 2012 setelah Muammar Gaddafi lengser.

Dia merupakan mantan pimpinan pemberontak Libya yang berhasil menggulingkan Muammar Gaddafi pada 2011.

“Mahmoud Jibril meninggal dalam usia 68 tahun pada Minggu (5/4) di Kairo, tempat ia dirawat di rumah sakit selama dua minggu,” kata Khaled al-Mrimi, sekretaris Aliansi Pasukan Nasional yang didirikan Jibril pada 2012, seperti dilansir Aljazeera, Minggu (5/4).

Mrimi mengatakan bahwa Mahmoud Jibril tampak dalam kondisi stabil dalam beberapa hari terakhir. Bahkan bersiap-siap meninggalkan rumah sakit sebelum kondisinya kembali memburuk.

Direktur rumah sakit Hisham Wagdy mengatakan, Mahmoud Jibril telah dirawat di Rumah Sakit Khusus Ganzouri di Kairo pada 21 Maret setelah menderita serangan jantung. Tiga hari kemudian dia dinyatakan positif memiliki virus korona.

“Dia mulai … pulih sehari sebelumnya, tapi kemudian kondisinya memburuk lagi,” kata Wagdy kepada kantor berita AFP. Hisham membenarkan bahwa Jibril meninggal pukul 14.00 waktu setempat.

Dia adalah penasihat ekonomi untuk pemerintahan Gaddafi di tahun-tahun terakhirnya sebelum bergabung dengan revolusi tahun 2011.

Jibril memimpin pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC), pemerintah sementara selama pemberontakan yang didukung NATO yang menggulingkan dan membunuh Gaddafi.

Pada hari-hari awal pemberontakan Libya, Jibril melakukan sejumlah perjalanan ke luar negeri untuk menggalang dukungan Eropa dan AS untuk pemberontak terhadap Gaddafi.

Dia adalah pemimpin sementara sampai negara itu mengadakan pemilu bebas pertama dalam empat dekade tahun 2012.

Jibril dan partainya memenangkan pemilihan, tapi gagal meraih mayoritas di parlemen, yang memilih kandidat independen untuk menjadi perdana menteri.

Di tengah kekacauan dan kekerasan yang meletus di tahun-tahun berikutnya, Jibril meninggalkan Libya dan tinggal di luar negeri.

Sebelum Jibril meninggal, pemerintah Libya yang diakui secara internasional di Tripoli telah mengkonfirmasi 18 kasus virus korona di negara itu dan satu orang meninggal.(aljazeera/esg)