Korut dan Korsel Terlibat Baku Tembak

Dua tentara Korea Selatan berpatroli di zona demiliterisasi (DMZ). Foto diambil pada 23 April. Pada Minggu (3/5), perbatasan Korsel dan Korut memanas (Ed JONES / AFP)

Tensi di perbatasan Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) meninggi, Minggu pagi (3/5/2020). Salah satu pos penjagaan Korsel di zona demiliterisasi (DMZ) baru saja dihantam peluru. Peluru tersebut datang dari arah utara.

Insiden tersebut berawal pukul 07.41 waktu setempat. Petugas yang berjaga mendengar rentetan tembakan. Setelah menyelidiki, mereka menemukan empat tanda bekas peluru di salah satu pos penjagaan.

Tentara Korsel merespons serangan tersebut dengan menembakkan sepuluh peluru sebanyak dua kali sebagai balasan. Mereka juga menyiarkan peringatan terhadap Korut untuk tak melanjutkan agresi.

“Tidak ada korban atau kerusakan dari sisi Korsel. Kami sudah mengirimkan nota kepada Korut untuk meminta penjelasan pada pukul 09.35,” tulis lembaga militer Korsel seperti dilansir CNN.

Sampai saat ini, kubu Korut belum memberikan jawaban. Militer Korsel pun membutuhkan waktu untuk menginvestigasi berdasar bukti yang sudah dikumpulkan. Untuk sementara, mereka meminta agar petani di dekat wilayah DMZ menghentikan kegiatan mereka.

Salah seorang petugas yang tak mau disebut identitasnya menduga, insiden tersebut bukan provokasi yang disengaja. Dia menyebutkan bahwa cuaca kemarin pagi di DMZ cukup berembun. Dia menduga salah seorang tentara tak sengaja menembakkan senjata saat melakukan pengecekan.

“Tentara Korut biasanya melakukan pergantian petugas sekitar waktu itu. Kalau serangan itu disengaja, mereka pasti mencari hari dengan cuaca cerah,” ungkapnya kepada The Guardian.

Itu adalah baku tembak pertama antardua negara tetangga setelah kesepakatan militer ditandatangani pada September 2018. Kesepakatan tersebut menghasilkan wilayah nonagresi, baik di darat, laut, maupun udara. Kedua negara juga sepakat untuk menghentikan semua kegiatan provokasi.

Sebelum itu, aksi penembakan terjadi di DMZ pada 2017. Saat itu, Korut menembakkan peluru setelah salah seorang tentaranya kabur ke Korsel.

Insiden tersebut terjadi saat politik Korut sedang mendapatkan perhatian lebih dari dunia. Terutama soal pemimpin Korut Kim Jong-un. Putra bungsu Kim Jong-il yang sempat dikabarkan meninggal itu baru saja muncul di publik setelah tiga minggu menghilang. “Tentu saya senang mendengar bahwa dia (Kim Jong-un) baik-baik saja,” ujar Presiden AS Donald Trump.

Kehadirannya di peresmian pabrik pupuk akhirnya menghentikan rumor mengenai pergantian pemimpin di Negeri Tirai Besi tersebut. Meski begitu, perdebatan tentang kondisi kesehatan Kim Jong-un masih berlanjut. Pasalnya, Yonhap News Agency melansir bahwa Jong-un tak menjalani operasi apa pun selama menghilang dari ranah publik. Padahal, beberapa media Tiongkok dan Jepang melaporkan sebaliknya.

“Apa yang diberitakan di media lain hanyalah spekulasi dari mengamati cara berjalan Kim Jong-un,” ungkap salah seorang pejabat Korsel yang dirahasiakan identitasnya.

Kim Jong-un terkena isu tersebut karena tak menghadiri peringatan hari lahir Kim Il-sung, kakeknya, pada 15 April. Padahal, dia sempat menghadiri rapat politbiro Partai Buruh pada 11 April. Selama memimpin, suami Ri Sol-ju itu tak pernah melewatkan peringatan tersebut. (jpg)