Kasus Baru Covid-19 di Korsel Turun, Di Kamboja tak Ada Pasien Baru

Setelah sempat berjuang menghadapi banyaknya pasien virus Korona, kini Korea Selatan memberikan kabar baik. Angka kasus baru berangsur turun. Negeri Ginseng itu melaporkan kurang dari 50 kasus virus Korona baru pada Senin (6/4). Itu untuk pertama kalinya sejak puncaknya pada 29 Februari setelah sempat menjadi negara di Asia dengan kasus tertinggi di luar Tiongkok.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 47 infeksi baru, dibandingkan dengan 81 yang tercatat sehari sebelumnya. Sehingga penghitungan kumulatif nasional menjadi 10.284 kasus positif. Korban meninggal bertambah tiga orang menjadi 186, sementara 135 orang lainnya telah pulih dari virus dengan total 6.598.

Korea Selatan selama beberapa pekan terakhir telah berhasil mengendalikan epidemi dengan sekitar 100 atau lebih sedikit kasus harian baru. Dan, kali ini adalah pertama kalinya tingkat kasus harian turun di bawah 50 sejak 909 kasus baru dilaporkan pada 29 Februari.

Akan tetapi, para pejabat Korea Selatan tetap mendesak kewaspadaan yang lebih besar lagi, dengan mengatakan epidemi yang besar dapat muncul kembali kapan saja. Dengan ancaman wabah bisa terjadi di gereja, rumah sakit, dan panti jompo, serta infeksi di antara para wisatawan yang terus meningkat.

Penurunan permintaan harian untuk tes juga terjadi hanya sekitar 6 ribu orang dari sebelumnya terdapat 10 ribu orang selama akhir pekan. “Kami sangat berhati-hati terhadap ekspektasi keyakinan terkait angka,” kata Wakil Menteri Kesehatan Kim Gang-lip seperti dilansir dari AsiaOne, Selasa (7/4).

Pada Sabtu (4/4), pemerintah memperpanjang kampanye jarak sosial intensif selama dua minggu. Warga Korea Selatan telah menahan diri untuk tidak bersosialisasi sejak Februari ketika jumlah pasien meningkat. Dan, kini banyak orang mulai berani keluar rumah karena cuaca menjadi lebih hangat. “Warga juga sudah jenuh dengan jarak sosial,” kata Kim.

Pergerakan warga melonjak sekitar 20 persen selama akhir pekan dibandingkan akhir Februari. Kim mengutip data dari badan statistik yang dikelola pemerintah dan operator seluler.

Mulai Minggu (5/4) pemerintah memperketat hukuman bagi mereka yang melanggar aturan karantina dengan denda menjadi 10 juta won atau satu tahun penjara. Pihak berwenang telah melaporkan beberapa kasus pelanggaran aturan karantina selama beberapa hari terakhir.

“Kami tidak bisa menjaga jarak sosial selamanya. Tapi, itu adalah langkah paling efektif untuk membantu melindungi orang lain dan dirimu sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, sampai saat ini untuk sementara, Kamboja tidak lagi menemukan kasus baru infeksi Covid-19 dalam tiga hari terakhir, jumlah pasien sembuh terus bertambah. Ada tiga pasien telah dinyatakan pulih seperti dilansir dari The Star, Selasa (7/4).

“Sehingga jumlah pasien yang berhasil disembuhkan menjadi 53,” kata seorang pejabat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kamboja dalam pernyataannya yang dirilis pada Senin (6/4).

Pasien yang baru pulih adalah penceramah Islam Malaysia. Masing-masing berusia 26 tahun, 39 tahun, dan 40 tahun. Mereka dirawat di rumah sakit yang terletak di provinsi Kampong Cham.

Kluster Malaysia itu datang ke distrik Kang Meas di provinsi tenggara Kampong Cham untuk berpartisipasi dalam pertemuan keagamaan berskala kecil. Mereka juga kelompok Tabligh Akbar di Kuala Lumpur pada akhir Februari. “Sampai saat ini ada 53, atau 46,49 persen dari 114 pasien positif Covid-19 di Kamboja telah pulih,” kata pernyataan otoritas Kamboja seperti dilaporkan Xinhua.

Dan, kini ada 61 pasien yang tersisa yang masih dalam perawatan di berbagai rumah sakit yang ditunjuk. Tentunya ini menjadi kabar baik dan harapan bagi pasien Covid-19 lainnya bahwa orang yang tertular virus Korona bisa disembuhkan. (*)