Warga Singapura Padati Pertokoan Sebelum Semi Lockdown Diberlakukan

Mulai Selasa (7/4) kemarin, Singapura memberlakukan kebijakan ketat untuk memutus rantai penularan wabah virus korona. Kebijakan itu disebut semi lockdown karena tidak seekstrem lockdown. Pemerintah Singapura menutup semua pusat bisnis, perkantoran, restoran, dan sekolah.

Sehari sebelumnya, warga Singapura memadati pertokoan. Mereka banyak yang masih berkeliaran di pusat perbelanjaan dan megastore. Warga berbelanja kebutuhan pokok dan lainnya untuk mengantisipasi pemberlakuan semi lockdown.

Hanya saja, tidak ada antrean panjang di mal-mal seperti dilaporkan The Straits Times, Senin (6/4). Antrean hanya terjadi di luar toko tertentu yang membatasi jumlah pelanggan yang diizinkan untuk berbelanja.

Penutupan berlangsung selama empat minggu hingga 4 Mei untuk mencegah peningkatan infeksi virus korona. Hanya sektor ekonomi utama dan layanan penting seperti perusahaan makanan, pasar dan supermarket, klinik, rumah sakit, utilitas, transportasi, dan layanan perbankan utama yang akan beroperasi.

Pembeli, termasuk sejumlah lansia dan beberapa anak dan bayi, sebagian besar mengenakan masker dan menjaga jarak yang relatif aman satu sama lain di dalam megastore. Salah satu warga, Ashwin Nair, 42, membeli kursi kantor untuk bekerja di rumah.

“Saya rasa saya harus melakukan cara lain. Dan meletakkan bantal di kursi makan atau membeli secara online tetapi ada ketidakpastian mengenai pengiriman,” kata Mr Nair, yang bekerja sebagai manajer dalam industri perkapalan.

Dia dan istrinya pergi ke mal untuk membeli kursi kantor tetapi memutuskan berbalik setelah melihat antrean panjang. Selama akhir pekan, antrean mengular di toko furniture.

Kesibukan juga terjadi di pusat kota, orang-orang berbelanja pada menit terakhir untuk mempersiapkan penutupan. Cheryl L, 29, meminjam 16 buku di Perpustakaan Umum Cheng San untuk mengisi waktu luang bagi putrinya yang berusia dua tahun selama beberapa minggu berada di rumah saja.

“Putri saya pasti butuh kegiatan selama di rumah karena masih sangat kecil. Jadi saya tidak ingin menempatkannya di depan layar terus. Pasti perpustakaan ditutup selama sebulan, saya harus memastikan mendapatkan sebanyak mungkin buku yang saya bisa,” katanya.

Di beberapa toko, pembeli tidak terhalang oleh antrean. Salah satu lansia, Teo, menunggu dalam antrean di pusat perbelanjaan Lot One di Choa Chu Kang untuk membeli buku dan alat tulis untuk putrinya yang berusia 11 tahun sebagai persiapan belajar berbasis rumah.

Mahasiswa Yishun Innova Junior College Andrey Soo, 18, dan temannya mengantre dengan berseragam sekolah, untuk memasuki cabang Muji di Jem, di Jurong. Mereka membeli isi ulang pulpen dan alat tulis lainnya. “Kami tidak panik membeli alat tulis. Ini persiapan untul belajar di rumah,” kata mereka. (*)