Italia Longgarkan Lockdown, Denyut Nadi Kehidupan Kembali Menggeliat

Seorang anak berlarian di salah satu taman di Milan, Italia, Senin (4/5). Kota tersebut berada di kawasan utara Italia yang sempat menjadi pusat persebaran Covid-19 (Antonio Calanni/AP)

Italia tak lagi diselimuti kesunyian. Setelah karantina nasional selama 8 pekan akibat pandemi Covid-19, penduduk akhirnya mulai bisa menghirup udara kebebasan. Senin (4/5) negara yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Giuseppe Conte itu mulai melonggarkan kebijakan yang telah diterapkan sejak 9 Maret tersebut.

Italia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan lockdown nasional. “Kini kami bisa mendengar lebih banyak suara. Itu lebih baik daripada keheningan yang menakutkan,” ujar Daniela, salah seorang pemilik toko di Roma, seperti dikutip Agence France-Presse.

Pabrik-pabrik dan area konstruksi dibuka kembali. Sekitar 4 juta penduduk kembali mengais rezeki. Sekitar 72 persennya adalah pria. Kafe dan restoran juga diizinkan untuk kembali membuka gerainya.

Namun, mereka tidak boleh melayani makan di tempat. Khusus untuk bar dan gerai es krim masih belum boleh buka. Transportasi publik juga belum kembali normal. Di area publik, penduduk diwajibkan memakai masker meski di dalam ruangan.

Italia berani melonggarkan karantina yang mereka ambil karena jumlah korban tertular dan meninggal terus turun. Negara yang pernah menjadi episentrum penularan di Eropa tersebut mulai membaik. Meski begitu, banyak juga penduduk yang waswas. Mereka takut kasus di Italia kembali melonjak.

Iran sebagai salah satu negara terdampak paling parah di Timur Tengah mulai mengambil kebijakan serupa. Presiden Iran Hassan Rouhani menjelaskan bahwa masjid di 132 kota akan kembali dibuka. Shalat Jumat juga diperbolehkan lagi. Kota-kota tersebut termasuk area dengan risiko dan tingkat penularan rendah.

Di beberapa negara lainnya, virus SARS-CoV-2 itu justru belum bisa dikendalikan. Afrika Selatan sedang menguji coba penggunaan vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) untuk mencegah penularan dan mengurangi tingkat keparahan Covid-19. Uji coba akan dilakukan ke sekitar 3 ribu pekerja medis di Cape Town. Mereka akan diteliti selama setahun ke depan. Percobaan serupa dilakukan Belanda, Australia, dan Prancis.

Rusia juga menjadi salah satu negara yang masih bergulat dengan kenaikan angka penularan Covid-19. Sekitar 2 persen penduduk Moskow diperkirakan tertular virus mematikan tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa negaranya belum tiba di titik puncak wabah. Dengan kata lain, lonjakan bakal terus terjadi.

Setali tiga uang, hal serupa terjadi di Jepang. PM Jepang Shizo Abe kemarin memutuskan untuk memperpanjang status darurat hingga akhir Mei. Keputusan itu tidak mutlak. Pemerintah akan meninjau ulang dua pekan mendatang. Jika terjadi penurunan penularan, bisa jadi status darurat tersebut dicabut sebelum akhir bulan.

”Saat ini penurunan jumlah orang yang terinfeksi belum mencapai level yang memadai,” ujar Abe. Jepang menerapkan status darurat di Tokyo dan enam wilayah lainnya mulai 7 April lalu. Seharusnya kebijakan itu berakhir pada 6 Mei. (sha/c10/dos/jpg)