147 Perawat Ekuador Positif Korona, 120 Resign Takut Tertular

Seorang petugas medis di Ekuador tengah memberikan penjelasan kepada pasien yang hendak melakukan tes Covid-19. Ekuador mulai kekurangan tenaga medis. (AFP)

Ekuador kewalahan menghadapi pandemi Covid-19. Selain jumlah kematian makin banyak, jenazah telantar, dan kamar mayat serta pemakaman penuh, kini masalah di negara itu adalah kurangnya tenaga medis.

Para perawat memutuskan untuk mengundurkan diri atau resign sebab rekan-rekan mereka banyak yang tertular.

Sejauh ini ada tujuh perawat meninggal dunia sesuai data Sekolah Tinggi Perawat Guayas. Dan selebihnya, sekitar 147 perawat telah terinfeksi. Kemudian 120 perawat mengundurkan diri karena takut tertular.

“Setiap hari jumlah staf medis menurun,” kata Presiden Organisasi Perawat Lilia Triana seperti dilansir dari Reuters, Rabu (8/4).

Dokter mengatakan lebih dari 1.000 pasien datang setiap hari di rumah sakit terbesar di kota Los Ceibos. Para petugas medis mengatakan menurunnya jumlah petugas medis sudah nyaris mencapai titik puncak.

Asosiasi perawat nasional Ekuador memberikan data yang berbeda. Mereka mengatakan 370 staf mereka telah terinfeksi virus korona dan lima orang meninggal.

Dan, di tengah semua ini, para pejabat kota telah dipaksa untuk membuat pemakaman darurat karena jenazah sudah tak tertampung lagi. Wali Kota Cynthia Viteri meminta pemerintah untuk maju dan membantu mengumpulkan dan mengurus mayat yang menumpuk di Guayaquil.

“Warga meninggalkan jenazah di desa-desa, mereka jatuh di depan rumah sakit. Tidak ada yang membantu,” kata Wali Kota Cynthia Viteri dalam laman The Sun. Dia pun dinyatakan positif mengidap Coronavirus.

Ekuador menjadi salah satu negara yang paling terpukul di Amerika Selatan. Pasukan keamanan telah ditempatkan dan berpatroli di jalan-jalan Guayaquil untuk memberlakukan kuncian yang ketat.

Ratusan orang juga telah ditangkap karena melanggar karantina termasuk jam malam antara jam 4 sore hingga 8 pagi. Foto-foto lain menunjukkan kerumunan orang tua berbondong-bondong ke bank pada Jumat lalu untuk menarik pensiun mereka sebelum jam malam.

Sebanyak 500 hingga 1.000 pasien per hari muncul dengan keluhan pernapasan di rumah sakit terbesar Guayaquil, Los Ceibos. Kasus Coronavirus pertama yang diketahui di negara itu dimulai sejak 29 Februari saat seorang lansia perempuan berusia 70 tahun tiba dari Italia dan tinggal di luar Guayaquil. Dia mengeluhkan sesak napas saat itu. (*)