Profesor Peneliti Covid-19 Tewas Tertembak di AS

Dr Bing Liu, peneliti asal Singapura, terbunuh dengan luka tembak di AS. (University of Pittsburgh)

Nasib tragis dialami seorang peneliti asal Singapura Dr Bing Liu. Dia ditemukan tewas dengan beberapa luka tembak di rumahnya di Amerika Serikat pada Sabtu (2/5) lalu.

Pihak University of Pittsburgh mengatakan, Dr Bing Liu adalah peneliti yang terikat pada departemen biologi sistem dan komputasi. Padahal dia hampir membuat temuan yang sangat signifikan soal Coronavirus baru sebelum kematiannya.

Kematiannya telah memicu spekulasi dia menjadi korban pembunuhan. Dan teori konspirasi pun muncul. Namun, petugas kepolisian telah menolak anggapan tersebut dan mengklasifikasikan kasus tersebut sebagai pembunuhan biasa atau bunuh diri.

Dalam sebuah pernyataan kepada The New Paper, Departemen Kepolisian mengatakan Dr Liu, 37, warga negara Tiongkok, ditemukan dengan luka tembak di kepala, leher, dan dada. Seorang teman sejawat, insinyur perangkat lunak Hao Gu, 46, diyakini telah menembak Dr Liu. Kemudian pelaku bunuh diri dengan luka tembak di kepala di mobilnya.

Penyelidik percaya bahwa Gu dan Dr Liu memiliki perselisihan yang panjang mengenai pasangan intim (hubungan sesama jenis) sebelum penembakan. Karena keduanya bukan warga negara AS, penyelidikan telah diserahkan kepada otoritas federal untuk ditinjau.

“Kami tidak menemukan bukti bahwa peristiwa tragis ini ada hubungannya dengan (Covid-19) atau pekerjaan apa pun yang dilakukan di Universitas Pittsburgh dan krisis kesehatan saat ini,” kata polisi seperti dilansir dari AsiaOne, Jumat (8/5).

The Pittsburgh Post-Gazette mengatakan istri Dr Liu tidak ada di rumah pada saat penembakan. Mereka tidak punya anak. Sebagai anak tunggal, Dr Liu pindah ke Pittsburgh sekitar enam tahun yang lalu. Dia memiliki gelar sarjana dan doktor dalam ilmu komputer dari National University of Singapore (NUS).

Dalam sebuah pernyataan di situs webnya, University of Pittsburgh mengatakan Dr Liu hampir membuat temuan yang sangat signifikan untuk memahami mekanisme seluler yang mendasari infeksi SARS-CoV-2 dan dasar seluler dari komplikasi. Penelitian itu akan dilanjutkan.

“Kami akan melakukan upaya untuk menyelesaikan apa yang dia mulai dalam upaya untuk memberi penghormatan kepada keunggulan ilmiahnya. Kehilangan pasti akan dirasakan di seluruh komunitas ilmiah,” kata pihak kampus.

Teori Konspirasi

Pembunuhan Dr Liu terjadi di tengah tuduhan pemerintah AS bahwa virus korona berasal dari laboratorium di Tiongkok. Tiongkok justru sebelumnya menuduh tentara AS membawa virus itu ke kota Wuhan, yang merupakan titik nol dari pandemi.

Jadi teori konspirasi tentang kematian Dr Liu membuat pengguna platform media sosial Weibo dan situs microblogging yang berbasis di AS, Twitter, menyindir bahwa itu adalah pembunuhan yang disengaja. “Ini sepertinya arahan Mission Impossible. Mungkin dia mengetahui bahwa virus itu berasal dari laboratorium Amerika,” kata netizen.

Yang lain menduga dia dibunuh oleh orang Tiongkok karena dia mengetahui bahwa virus itu dibuat di Tiongkok. Profesor ilmu komputer NUS David Hsu, yang mengawasi Dr Liu membantah hal itu. Prof Hsu mengatakan NUS bangga memiliki Dr Liu sebagai alumnus. Dia disebut sebagai seorang peneliti cerdas yang selalu siap membantu orang lain. Dia memiliki istri yang penuh kasih dan bahagia. (jpg)