Tangkapan Besar Meningkat di Tengah Pandemi, Kartel Sulit Pakai Kurir

16
Tentara Prancis berpose di atas kapal pengangkut helikopter amfibi Prancis (PHA) Dixmude di Teluk Guinea, setelah menangkap kapal berbendera Saint Kitts dan Nevis serta menemukan 6 ton kokain di dalamnya pada 21 Maret 2021. (CORENTIN CHARLES/MARINE NATIONALE/AFP)

Pandemi Covid-19 membuat peredaran narkoba kian menggila. Lockdown dan penghentian penerbangan internasional tak menghentikan kartel narkoba untuk menambah pundi kekayaannya.

Sepekan lalu, otoritas Hongkong menyita 700 kilogram kokain. Nilainya fantastis. Yaitu, mencapai HKD 930 juta atau setara Rp 1,7 triliun. Itulah sitaan narkoba terbesar di Hongkong selama satu dekade terakhir. Diduga, obat terlarang tersebut diselundupkan melalui kapal cepat.

Dilansir The Guardian, kepolisian Hongkong meyakini bahwa kartel narkoba saat ini lebih memilih mengirim narkoba dalam jumlah besar meski risikonya juga jauh lebih tinggi. Sebab, perjalanan antarwilayah kini sulit dilakukan.

Banyak negara dan wilayah yang menerapkan lockdown. Kalaupun ada penerbangan, jumlahnya terbatas dan ketat. Mereka tidak bisa lagi mengirim dalam jumlah kecil via kurir.
Sejak pandemi, tangkapan narkoba memang meningkat. Rata-rata tangkapan besar.

Pada April tahun lalu, misalnya, pemerintah Belgia menyita 350 kilogram kokain yang disembunyikan dalam penerbangan dari Republik Dominika ke Belgia. Pengiriman besar itu dilakukan ketika banyak informasi negara-negara di dunia akan menerapkan kuntara untuk mencegah persebaran Covid-19.

Kantor PBB untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan menyatakan, stok narkoba di tingkat ritel berkurang. Di pihak lain, permintaan justru melonjak. Karena itu, harganya naik dan tingkat kemurniannya berkurang.

“Di New York, harga metamfetamin naik tiga kali lipat,” ujar Martin Verrier dari lembaga Royal United Services Institute (RUSI). Hal serupa terjadi di London, Inggris. Dengan penurunan mobilitas global, harga obat terlarang naik 100–300 persen.

Produsen narkoba punya dua masalah utama. Yakni, pengiriman ke pedagang dan pemakai. Sebelum pandemi, kokain diangkut via udara. Terutama untuk daerah-daerah di Eropa. Kini hal itu sulit dilakukan. Sebagian akhirnya memilih jalur laut.

“Di satu sisi, menjadi lebih mudah menyelundupkan kokain ke pelabuhan, tetapi jauh lebih sulit mengirimkan obat-obatan kepada konsumen terakhir,” jelas mantan wakil menteri bidang penegakan narkoba di Argentina tersebut.

Baca Juga:  Mo Salah Minta Pemimpin Dunia Hentikan Pembunuhan di Gaza

Di sisi lain, ada juga produsen narkoba yang mampu eksis. Kartel di Venezuela dan Meksiko tetap menggunakan jalur udara untuk pengiriman ke Eropa. Mereka mampu membayar pesawat jet sewaan yang mahal demi menerbangkan langsung seribu kilogram kokain.

Itu juga menjadi alasan harga di pasar kini naik. Beberapa yang menggunakan jalur udara adalah kartel Sinaloa di Meksiko dan ’Ndrangheta di Italia. Itulah dua kartel raksasa yang cukup disegani. Mereka menyingkirkan perantara dan mengirimkan langsung narkoba ke konsumen.

Pesawat-pesawat kecil juga digunakan untuk pengiriman ke negara-negara yang berada jauh di bawah rantai logistik. Pesawat kecil dipakai karena bisa terbang rendah dan menghindari deteksi radar. Mereka hanya bisa dideteksi radar militer udara. Itu pun cukup sulit karena bobot pesawat yang ringan. Beberapa pesawat yang dipakai adalah Cessna 150/52/72 dan Piper J-3/12/18/24.

“Pilot andal di pesawat ringan memiliki peluang yang sangat baik untuk mengirimkan obat-obatan tanpa terdeteksi,” tegas Verrier.

Berdasar laporan Badan Penegak Hukum Narkoba (DEA) AS yang dirilis bulan ini, beberapa pedagang sengaja mengerem peredaran agar punya alasan untuk menaikkan harga hingga gila-gilaan. “Organisasi kriminal transnasional mungkin memanfaatkan pandemi untuk menaikkan harga metamfetamin yang umumnya rendah. Hasilnya adalah keuntungan untuk mereka,” bunyi laporan yang dikutip 9News.

Di beberapa negara, meningkatnya penjualan narkoba dan pandemi yang tak kunjung reda menjadi pukulan ganda. Irak, salah satunya. Otoritas di negara itu harus berjuang keras mengalahkan dua isu tersebut.

Mayoritas penduduk pengguna narkoba memakai kristal metamfetamin. Diperkirakan, 10 persen penduduk Baghdad adalah pemakai narkoba. Pengedar narkoba biasanya memberikan narkoba secara gratis kepada orang miskin dan penganggur agar mereka kecanduan. “Pecandu itu lalu mulai mencuri untuk membeli narkoba dan mulai jadi distributor,” terang Jenderal Amad Hussen dari tim penegak hukum narkoba Baghdad. (sha/c14/bay/jpg)

Previous articleProkes Ketat Harga Mati, Patuhi Aturan Pemerintah
Next article128 Botol Miras Disita, Pesta OT juga Dibubarkan