Filipina Isolasi Ribuan Pekerja di Kapal Pesiar Mewah

Beberapa minggu terakhir, Teluk Manila di Filipina telah diubah menjadi tempat parkir terbesar bagi kapal pesiar yang mengisolasi lebih dari 5.300 pekerja. (Reuters)

Dalam beberapa minggu terakhir, Teluk Manila di Filipina telah diubah menjadi tempat parkir terbesar bagi kapal pesiar. Lebih dari 20 kapal secara kolektif dengan berat sekitar 2 juta ton berkumpul di lepas pantai ibu kota. Kapal pesiar mewah itu menjadi tempat isolasi untuk mencegah penularan virus korona bagi lebih dari 5.300 pekerja di Filipina.

Sedikitnya, ada 4.991 tes yang sudah dilakukan pada awak kapal dan dikarantina selama 14 hari. Ini juga wajib dilakukan bagi repatriat. Tidak ada kasus yang dicurigai sejauh ini. Namun, meski dijamu dengan pelayanan mewah, mereka dibayangi tanpa jaminan pekerjaan di laut lagi.

Meski merasa beruntung dikurung di kabin meski dengan kondisi yang nyaman tapi para ABK merasa bosan, kesepian atau frustrasi. “Setiap orang tinggal di kamar suite. Kami merasa seperti para tamu sekarang,” canda Michael Torralba Martinez, seperti dilansir dari AsiaOne, Selasa (12/5). ”Kami merasa lebih aman di sini. Standar ketat di kapal semua terjamin menyangkut kebersihan dan sanitasi,” katanya.

Martinez, 33, dan ayah dua anak, memberikan tur virtual ke kamarnya, salah satu dari 1.011 di Sun Princess 15-deck. Ada 225 staf Filipina dikarantina sedang dilayani seperti dari negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Indonesia.

Dia memajang foto-foto makanan lezat, tempat tidur ganda, balkon dan televisi layar datar, ditambah kegiatan menyenangkan seperti origami dan bingo. “Jika seseorang kedapatan meninggalkan kamar, karantina kembali ke hari nol untuk semua orang. Jadi tidak ada yang berani,” katanya.

Setidaknya 15 kapal di armada Manila dimiliki oleh anak perusahaan raksasa pelayaran. Namun setelah itu, efek ancaman menganggur akan membayangi mereka.

“Ketika saya mengetahui bahwa kami akan dikirim pulang, saya bahagia dan sedih pada saat yang sama. Sedih karena saya akan kehilangan pekerjaan, tetapi bahagia karena saya bisa bersama keluarga saya,” kata salah satu pekerja yang di karantina, Jenison Herrera sebagai staf rumah tangga.

Ace Rodrin Catibayan, 34, seorang pelayan di Costa Venezia, sedang menunggu hasil tes di atas kapal. Meskipun dia yakin itu negatif, dia khawatir tentang pendapatannya. ”Ini akan menjadi penantian panjang bagi kami untuk mencari nafkah, saya akan mencoba mendaftar lagi atau memulai bisnis kecil. Tetapi saya benar-benar ingin kembali ke kapal karena saya mendapat lebih banyak di sini,” jelas Ace.

Kepala Asosiasi Maritim Internasional Filipina Jose Albar Kato tidak terkejut melihat kapal berkerumun di Manila. Masing-masing kapal sepanjang dua hingga tiga lapangan sepak bola. ”Rata-rata 30-40 persen kru adalah orang Filipina,” papar Jose. Pramugari prasmanan, Arnold Salarda, 31, telah bekerja di kapal selama enam tahun dan memulai karantina pada 3 Mei. Dia berharap akan dipekerjakan kembali ketika infeksi virus melambat dan pelayaran dilanjutkan. (jpg)