Singapura Temukan Hasil Positif Palsu pada Pasien Covid-19

Petugas medis Singapura tengah menguji sampel darah dari pasien Covid-19. Singapura menemukan 33 kasus positif palsu. (KEVIN LIM/ST)

Kementerian Kesehatan Singapura mengungkapkan sejumlah hasil uji pada pasien positif Covid-19 yang masih samar-samar. Hal itu menyusul adanya hasil positif palsu pada 33 pasien Covid-19. Kondisi itu disebabkan karena masalah kalibrasi peralatan untuk salah satu alat uji.

Pengujian ulang pun harus dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Nasional untuk mengonfirmasi ulang hasilnya. Dan, dua spesimen lainnya yang memiliki hasil samar-samar, sebenarnya hasilnya negatif seperti dilansir dari Straits Times, Senin (11/5).

Depkes Singapura menegaskan tindakan lebih lanjut telah diambil untuk memperbaiki situasi. Laboratorium juga telah menghentikan semua tes dan bekerja untuk menyelesaikan masalah kalibrasi.

Singapura baru-baru ini melaporkan kasus impor pertama sejak lebih dari dua minggu, terakhir dikonfirmasi pada 26 April. Lebih dari 20.961 pekerja dari asrama telah didiagnosis dengan Covid-19 sejauh ini, terhitung sekitar 6,5 persen dari 323.000 penduduk asrama.

Depkes Singapura juga mengidentifikasi lima klaster baru pada hari Minggu. Klaster itu yakni lokasi konstruksi di 15 Serangoon North Avenue 1 dan Tanah Merah Coast Road, 9 dan 11 Woodlands Industrial Park E1, dan 515 Yishun Industrial Park A.

Tiga kasus baru terakhir adalah warga Singapura dan penduduk tetap. Satu dikaitkan dengan kluster Mustafa Centre, sementara yang lain dikaitkan dengan Acacia Home di 30 Admiralty Street. Secara keseluruhan, 2.715 pasien telah pulih sepenuhnya dan ada 1.097 yang masih di rumah sakit, dengan 22 orang lainnya berada di unit perawatan intensif.

Sisanya 19.498 berada di fasilitas isolasi masyarakat, yang menampung pasien Covid-19. Sejauh ini, 20 orang telah meninggal akibat komplikasi Covid-19 dan 6 lainnya yang dinyatakan positif meninggal karena sebab lain. Lonjakan kasus di Singapura sebagian besar didorong oleh meningkatnya kasus pekerja migran yang tinggal di asrama. (jpg)