Pakistan Rekor 5 Ribu Kasus Sehari

42
Ilustrasi pandemi Covid-19. (Foto: IST)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak Pakistan agar memberlakukan kembali penguncian yang ketat (lockdown) untuk menekan penyebaran virus korona yang makin tak terbendung.

Sebab kasus Covid-19 di Pakistan meningkat secara drastis setelah kebijakan pembatasan sosial dicabut pada bulan lalu. Lewat surat, Kepala WHO Pakistan Palitha Mahipala mengatakan negara itu tidak memenuhi salah satu dari enam kriteria untuk melonggarkan penguncian. “Sampai hari ini, Pakistan tidak memenuhi persyaratan untuk membuka lockdown,” kata surat itu seperti dilansir dari Al Jazeera, Jumat (12/6).

Pemerintah Pakistan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Imran Khan, telah memberlakukan pembatasan penguncian di provinsi yang berbeda. Pakistan semakin melonggarkan penguncian pada Idul Fitri lalu.

Kasus positif harian di Pakistan meningkat dari sekitar 1.700 per hari sebelum relaksasi menjadi 5.385 kasus baru pada 9 Juni, rekor satu hari. Pakistan saat ini memiliki 113.702 kasus positif virus korona, dengan 2.312 kematian.

Dalam suratnya, WHO mengatakan tingkat pasien kasus positif di Pakistan terlalu tinggi (24 persen). WHO merekomendasikan agar Pakistan meningkatkan pengujian harian menjadi lebih dari 50 ribu per hari. WHO juga mengatakan sistem pengujian, deteksi, dan isolasi di Pakistan lemah.

Tolak Lockdown
Perdana Menteri Khan telah lama menolak menerapkan kembali tindakan lockdown. Salah satunya karena alasan ekonomi. ”Meski lockdown memperlambat penyebaran virus, tapi juga harus menyadari bahwa Pakistan adalah negara miskin dan bahwa Pakistan tidak punya pilihan selain membuka kembali penguncian,” katanya dalam pidato.
“Seluruh dunia mengerti bahwa kuncian bukanlah solusi,” tukasnya.

Dokter di rumah sakit besar di tiga kota besar Pakistan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa rumah sakit nyaris melebihi kapasitas untuk merawat pasien Covid-19 di ruang isolasi dan perawatan intensif. Sementata itu, Kepala Menteri Provinsi akan mengadakan pertemuan virtual dengan Komite Koordinasi Nasional Perdana Menteri mengenai tanggapan perkembangan Covid-19 untuk membahas rekomendasi WHO.

4 Kasus Baru Muncul lagi di Thailand
Selama 3 pekan terakhir Thailand sempat bernapas lega karena sudah tak ada lagi kasus positif Covid-19. Tapi, Jumat (12/6), Thailand kembali melaporkan 4 kasus baru.
Meski begitu, Thailand tidak melaporkan kasus kematian baru. Sehingga jumlah total infeksi yang dikonfirmasi saat ini menjadi 3.129. Hanya ada 58 kasus kematian.

Keempat kasus baru itu adalah kasus impor. Mereka adalah warga negara Thailand yang kembali dari India dan langsung menjalani karantina. ”Ada 2.987 pasien yang telah pulih,” kata Juru Bicara Pusat Administrasi Pemerintah Thailand untuk Covid-19, Taweesin Wisanuyothin, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (12/6).

Sebelumnya Kamis (11/6), Thailand melaporkan tidak ada kasus positif Covid-19 baru selama 3 pekan. Ini adalah pertama kalinya dalam hampir tiga minggu tidak ada kasus yang dilaporkan dan hari ke-17 tanpa transmisi lokal.

Semua kasus baru ditemukan di dalam karantina di antara orang Thailand yang kembali dari luar negeri. Semua wajib menjalani karantina selama 14 hari.

Sementara itu, setelah 10 hari mencabut kebijakan pembatasan semi lockdown atau pemutus sirkuit (circuit breaker) penyebaran virus korona, Singapura tetap konsisten menekan angka kasus Covid-19 dan angka kematian. Kasus baru tetap terkendali meski negara itu mulai melakukan pelonggaran semi lockdown tahap awal.

”Sepuluh hari sejak Singapura mulai membuka kembali sekolah-sekolah, dan beberapa kegiatan ekonomi dan layanan dilanjutkan, situasinya tetap terkendali,” kata Dekan Sekolah Nasional Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock, Profesor Teo Yik Ying, seperti dilansir dari AsiaOne, Jumat (12/6).

Pada tingkat ini Singapura berada pada posisi yang baik untuk pindah dari fase satu ke fase dua. Artinya Singapura siap untuk melonggarkan sejumlah layanan lebih fleksibel lagi.
”Kondisi ini memungkinkan Singapura lebih banyak lagi membuka bisnis dan kegiatan sosial,” kata Prof Teo yang diamini pakar lainnya.

Mereka tetap menekankan bahwa masyarakat tidak boleh lengah karena ”pertempuran” masih jauh dari kata selesai. Jumlah kasus baru sedikit meningkat meski dalam kewajaran yakni menjadi rata-rata 8 per hari dalam seminggu terakhir, dari 6 per hari pada minggu sebelumnya. ”Ini terutama disebabkan oleh uji agresif yang dilakukan di antara kelompok pekerja,” kata Prof Teo. (jpg)