Hubungan Dengan Taliban Mulai Mencair, AS Tawarkan Vaksin ke Afghanistan

8
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price.(NET)

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Taliban mulai mencair. Kedua belah pihak telah menjajaki kerja sama. Salah satunya, pemberian vaksinasi Covid-19 untuk rakyat Afghanistan.

Pertemuan AS dan Taliban, akhir pekan lalu di Doha, Qatar, membuat hubungan keduanya memasuki babak baru. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price mengatakan, pertemuan tersebut fokus membahas masalah keamanan dan terorisme.

Pihaknya meminta Taliban untuk memperhatikan hak asasi manusia (HAM), termasuk partisipasi perempuan dan anak perempuan di semua aspek masyarakat Afghanistan.

Selain itu, papar Price, kedua belah pihak juga membahas penyediaan bantuan kemanusiaan yang akan digelontorkan AS. Namun, ditegaskannya, pertemuan itu bukan berarti Washington mau mengakui pemerintahan Taliban.

Pemerintahan Joe Biden ingin mengamati da­hulu apakah Taliban serius menjalankan hal tersebut atau hanya bicara saja. “Diskusi itu jujur dan profesional namun kami tegaskan, Taliban akan diadili atas tindakannya, bukan hanya kata-katanya,” kata Price dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, kemarin.

Kendati demikian, tak disebutkan secara rinci kesepakatan yang tercapai antara kedua pihak. Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi, buka suara soal pertemuan dengan delegasi AS.

Baca Juga:  BIN Vaksin Ribuan Pelajar, Santri, dan Masyarakat di Kota Padang

Menurutnya, dalam pertemuan, perwakilan Taliban meminta AS untuk mencabut larangan cadangan bank sentral Afghanistan. Sementara, Washington akan menawarkan vaksin korona untuk rakyat Afghanistan.

”Kedua belah pihak membahas kemungkinan membuka halaman baru antara kedua negara,” terang Muttaqi.

Sehari sebelumnya, pejabat AS mengatakan, bahwa delegasi AS akan menekan Taliban untuk membebaskan Mark Frerichs, warga AS yang diculik. Prioritas utama lainnya adalah memegang teguh komitmen Taliban untuk tidak membiarkan Afghanistan kembali menjadi sarang al Qaeda atau ekstremis lainnya.

Seperti diketahui, Taliban merebut kembali kekuasaan di Afghanistan pada Agustus lalu, setelah hampir 20 tahun mereka digulingkan dalam invasi pimpinan AS.

Para pejabat AS mengatakan, pertemuan akhir pekan itu hanyalah hubungan pragmatis dengan Taliban. Bukan tentang memberikan pengakuan atau legitimasi kepada kelompok itu.

Kenyatannya, masih ada warga AS dan Afghanistan yang akan meninggalkan negeri itu. Washington dan negara-negara Barat lainnya mencoba mencari cara untuk terlibat dengan Taliban karena ada maunya. Bukan mau memberikan kelompok itu legitimasi. Negara barat ingin memastikan bantuan kemanusiaan mengalir ke negara itu. (pyb/jpg)