Karantina Longgar, Kasus Covid-19 Naik di Wuhan

Seorang siswi di Wuhan memeriksa suhu tubuh kawan-kawannya. Sejak Rabu (6/5) sekolah menengah atas di Wuhan kembali aktif. Namun, para siswa tetap diminta menjaga jarak aman. Sekolah juga dilengkapi monitor pengukur suhu. (Chinatopix via AP)

Virus korona jenis baru atau Covid-19 ibarat roller coaster. Kurvanya terus-menerus naik turun. Di beberapa negara kebijakan mulai dilonggarkan. Namun, di beberapa lainnya, virus mematikan tersebut justru sedang merajalela.

Wuhan, Hubei, Tiongkok, yang sebelumnya berhasil lepas dari virus kembali harus berjuang dengan SARS-CoV-2. Pada Minggu (10/5) ada lima kasus baru di kota yang menjadi awal mula munculnya Covid-19 itu. Kasus tersebut adalah yang pertama sejak 3 April.

Karantina di Wuhan mulai dilonggarkan baru-baru ini dan anak-anak mulai kembali ke sekolah. Penularan baru itu langsung membuat panik penduduk. Mereka takut gelombang penularan kedua bakal terjadi. ”Saya merasa sedikit relaks dan kini penularan itu mulai lagi. Saya mulai panik lagi,” ujar salah satu warganet di Wuhan sebagaimana dikutip The Guardian.

Klaster penularan baru juga ditemukan di tiga provinsi yang berbatasan dengan Rusia dan Korea Utara (Korut). Yaitu, tiga di Jilin dan masing-masing satu di Heilongjiang dan Liaoning. Penularan di Kota Shulan, Jilin, dianggap berisiko tinggi karena tidak terlacak dari mana penularannya.

Seorang perempuan 45 tahun telah tertular. Padahal, dia tidak memiliki riwayat bepergian ke luar provinsi ataupun kontak dengan orang yang baru kembali dari luar negeri dan daerah terjangkit.

Gara-gara kasus tersebut, Shulan ditutup. Sekolah online kembali diberlakukan. Semua transportasi umum dihentikan. Taksi tidak boleh keluar masuk. Fasilitas umum seperti bioskop, perpustakaan, gedung olahraga, dan taman ditutup.

Nasib tak jauh beda dialami Korsel. Rencana membuka kembali sekolah-sekolah pada pekan ini terpaksa diundur. Itu gara-gara pria 29 tahun terdeteksi positif. Padahal, pria tersebut berkunjung ke lima kelab malam di Itaewon, Seoul. Sebanyak 86 orang sudah tertular dan ribuan lainnya dalam pengawasan dan pelacakan.

Sementara itu, di Jepang, pemerintah justru berencana melonggarkan kebijakan terkait Covid-19. Status darurat di beberapa wilayah akan dicabut pekan ini. Tapi dengan catatan, jika penularan virus SARS-CoV-2 berhasil dikontrol. Jepang ingin secara bertahap aktivitas perekonomian kembali bergeliat.

Negara yang dipimpin Perdana Menteri Shinzo Abe itu menerapkan status darurat di 47 prefektur. Kebijakan tersebut seharusnya selesai akhir Mei. Namun, jika situasi memungkinkan, bisa dimajukan pada 14 Mei. (jpg)