Penduduk Gaza Alami Krisis Pangan

18
Seorang gadis Palestina menengok dari salah satu bagian rumah yang hancur di Kota Gaza (8/10). Warga Palestina di Gaza dan di sejumlah pengungsian saat ini mengalami krisis pangan. (jawapos.com)

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luar biasa bagi seluruh negara di dunia. Namun, dampak terbesar dialami negara yang lebih dulu mengalami krisis seperti Palestina.

United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) melaporkan bahwa penduduk Jalur Gaza sudah kesulitan untuk mencari sesuap nasi. Kepala UNRWA Philippe Lazzarini mendapati laporan dari pekerja yang menangani Palestina sangat mengerikan.

Warga Palestina yang terjebak di Tepi Barat dan Jalur Gaza maupun yang mengungsi di Lebanon, Syria, dan Jordania kesulitan untuk bertahan hidup. Mereka mengalami krisis kebutuhan pangan.

”Di Gaza warga sampai merogoh tempat sampah untuk mencari makanan. Makin banyak (warga Palestina, red) yang sulit menyediakan makanan bagi keluarga mereka,” ungkapnya dalam wawancara dengan The Guardian.

Pria yang baru ditunjuk sebagai komisioner di lembaga penyalur bantuan PBB untuk Palestina tersebut mengaku frustrasi melihat situasi yang terjadi. Semua itu bermula saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghentikan aliran dana bantuan ke lembaga tersebut pada 2018.

Padahal, dari anggaran UNRWA senilai USD 1,1 miliar (Rp 16 triliun) per tahun, AS adalah pendonor terbesar yang menanggung sepertiga dari anggaran itu. Sejak itu PBB berkali-kali menyampaikan bahwa UNRWA mengalami defisit besar.

Tahun lalu UNRWA bahkan terdampak skandal nepotisme. Pierre Krähenbühl, komisioner UNRWA tahun lalu, dituding melakukan berbagai penyelewengan, termasuk mempekerjakan kekasihnya sebagai penasihat organisasi.

“Di tengah ketidakpastian, kita perlu lembaga yang konsisten. Kita perlu UNRWA dengan pendanaan yang tetap,” ujar aktivis kemanusiaan yang sudah tiga dekade berkarya itu.
Pria asal Swiss tersebut mengatakan bahwa virus korona yang menyebar di titik pengungsian Timur Tengah jelas menambah beban organisasi.

Baca Juga:  Karyawan Rumah Makan Wajib Tes Swab

Mereka menangani 5,6 juta penduduk Palestina di berbagai kamp penampungan itu. Sedangkan operasi kemanusiaan mereka terhalangi rencana pendudukan Tepi Barat dan konflik senjata di Gaza.

Lazzarini pun tak bisa bebas mencari pendonor. Dia hanya bisa berkampanye melalui video call. Dengan begitu, dia berharap bisa menutupi defisit yang diperkirakan mencapai USD 130 miliar (Rp 1,9 triliun) per tahun.

Organisasi yang menampung 30 ribu karyawan itu berpotensi kehabisan dana dalam empat atau lima minggu ke depan. Lazzarini mengatakan, saat UNRWA berusaha kembali menjalin hubungan dengan Washington, dampak kehilangan USD 300 juta (Rp 4,4 triliun) dari AS diakui memang besar. Namun, dia menyebut langkah AS itu juga menjadi anugerah di balik musibah.

”Nyatanya, penggalangan dana pada 2018 merupakan yang tersukses selama lima tahun terakhir. Mundurnya AS justru memicu solidaritas negara lain,” ungkapnya.

Sementara itu, kabar positif datang dari Gaza. Media melaporkan bahwa Israel dan kelompok Hamas, penguasa Gaza, telah menyepakati gencatan senjata selama enam bulan. Kesepakatan tersebut dicapai dengan syarat Qatar bisa mentransfer USD 100 (Rp 1,4 triliun) sebagai bantuan kemanusiaan ke Hamas. (bil/c9/bay/jpg)