G20 Diminta Siapkan Rp 330 T, Untuk Tangani Covid-19

1
Penasehat Senior Direktur Jenderal WHO dr Bruce Aylward.(NET)

Presidensi Group of Twenty (G20) diharapkan mampu berkontribusi besar dalam mengatasi pandemi Covid-19. World Health Organization (WHO) menyatakan, penanganan pandemi Covid-19 masih membutuhkan dana 23 miliar dolar AS, atau setara Rp 330 triliun.

Penasehat Senior Direktur Jenderal WHO dr Bruce Aylward mengatakan, dana itu nantinya akan digunakan untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah di seluruh dunia. Mereka membutuhkan bantuan untuk meningkatkan testing, tracing, vaksinasi, dan pengobatan Covid-19 (treatment) dengan standar tinggi.

“Ini membutuhkan investasi 23 miliar dolar AS untuk akselerator tahun ini. Itu investasi krusial yang perlu ditangani G20 di bawah kepemimpinan Indonesia di masa presidensinya,” ujar Bruce, dalam keterangan persnya di pertemuan tingkat Deputi Keuangan dan Bank Sentral di Bali, kemarin.

Ia optimis, negara-negara yang tergabung dalam G20 memiliki kemampuan untuk menyediakan dana tersebut. G20 perlu menunjukkan kontribusi besar. Tidak hanya untuk perekonomian dunia tapi juga penanganan Covid-19.

”Kedengarannya seperti banyak uang 23 miliar dolar AS, tapi itu lebih sedikit di negara berpenghasilan tinggi,” bebernya.

Kesenjangan akibat pandemi ini perlu dibenahi. Soalnya, pemulihan ekonomi tidak akan terjadi selama dunia masih memiliki kesenjangan. Dalam capaian vaksinasi, misalnya, negara berpenghasilan rendah masih di bawah 40 persen.

Baca Juga:  Mendag Lutfi Bertemu Dubes USTR Bahas Pemberdayaan Ekonomi Digital

Sementara akhir tahun ini, WHO mengarahkan seluruh dunia agar vaksinasi dosis kedua harus mencapai 40 persen dari total penduduk. Tingkat vaksinasi yang rendah, menjadi salah satu penyebab munculnya varian baru. Termasuk, Omicron.

Kondisi ini, kata Bruce, menandakan pandemi belum akan berakhir di waktu dekat. Diperkirakan, akan berlanjut hingga tahun depan. “Kami benar-benar perlu mempercepatnya. Pandemi ini akan berlangsung selama satu tahun lebih lama dari yang seharusnya,” imbau Bruce.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, penanganan pandemi butuh kolaborasi global. Sebab, pandemi ini bersifat global. “Termasuk untuk menghadapi varian baru Covid-19 Omicron,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut salah satunya bisa dilakukan melalui G20. Forum kerja sama multilateral ini diharapkan bisa membuat terobosan dan langkah bersama yang lebih kuat dan konkret dalam menangani pandemi yang tak kunjung selesai.

“Selama ini kami menangani secara individual masing-masing negara. Padahal di sisi lain dampak pandemi masih berlangsung terus mengganggu kehidupan masyarakat dan pemulihan perekonomian,” bebernya. (jar/jpg)