Virus Korona Makin Misterius, Pasien Sembuh pun Bisa Kambuh

Sembuh bukan jaminan. Sebab, virus yang menginfeksi pasien Covid-19 bisa kembali aktif. Virus itu seperti tidur sesaat dan bisa terbangun tiap saat.

Anomali terjadi lagi di Korea Selatan (Korsel). Sebanyak 116 pasien yang sebelumnya dinyatakan sudah sembuh ternyata setelah dites ulang kembali positif. Jumlah itu jauh lebih tinggi daripada penularan baru pada Senin (13/4) yang hanya 25 orang.

“Mungkin saja virus itu kembali aktif. Bukan pasien terinfeksi lagi,” ujar Direktur Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Korsel Jeong Eun-kyeong seperti dikutip The Straits Times.

Tentu saja itu hanya dugaan sementara Jeong. Penelitian masih dilakukan untuk memastikan salah satunya. Yaitu, apakah virus yang ada di dalam tubuh pasien kembali aktif atau mereka tertular lagi. Jika opsi kedua yang terjadi, teori bahwa pasien yang sudah tertular bakal memiliki kekebalan pada virus SARS-CoV-2 terbantahkan.

Beberapa pakar lainnya memperkirakan bahwa kemungkinan ada kesalahan saat melakukan pengetesan. Atau, virus yang ditemukan kali kedua itu memang ada di tubuh pasien, tapi sudah lemah dan tidak menular maupun membahayakan inangnya.

Jumlah pasien sembuh yang kembali positif itu bukan terjadi kali ini saja. Senin (6/4) ada 51 pasien dan Jumat (10/4) 91 pasien dengan kasus serupa. Jepang juga pernah melaporkan hal serupa, tetapi hanya terjadi pada satu orang.

Pasien yang kembali positif itu bisa terdeteksi karena Korsel patuh pada rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Yaitu, mereka yang sudah dinyatakan sembuh harus dites lagi dengan rentang waktu minimal 24 jam dari uji pertama. Jika sudah dua kali tes hasilnya negatif, baru pasien boleh keluar dari rumah sakit.

Para pasien yang kembali positif itu sejatinya sudah akan keluar dari rumah sakit. Hasil tes pertama sudah negatif. Namun, mereka gagal di pemeriksaan kedua. Tes dilakukan dengan menggunakan polymerase chain reaction (PCR). WHO Sabtu (11/4) menyatakan akan menyelidiki kasus itu.

Banyak yang menyarankan Korsel agar tetap menerapkan kebijakan ketat mereka untuk mencegah penularan wabah Covid-19. Mulai menghindari acara sosial hingga seruan agar tetap tinggal di dalam rumah dan keluar untuk urusan penting saja. Namun, Korsel justru memilih untuk segera melonggarkan kebijakan tersebut.

“Akhir pekan ini kami berencana untuk meninjau ulang kampanye pembatasan sosial yang sudah dilakukan selama ini dan mendiskusikan apakah akan beralih ke langkah-langkah keselamatan rutin saja,” ujar Perdana Menteri Korsel Chung Sye-kyun.

Sejatinya aturan ketat itu berlaku hingga 19 April nanti. Namun, karena kasus penularan terus turun dan cuaca membaik, kian banyak penduduk yang melanggar. Meski demikian, Chung menegaskan bahwa pelonggaran aturan itu tidak akan membuat kehidupan di Korsel kembali normal seperti sebelum adanya virus. Kehati-hatian perlu terus diterapkan agar hal yang sama tidak terulang.

Sementara itu, di Singapura pasien yang sembuh masih diyakini memiliki antibodi untuk melawan virus penyebab Covid-19. Karena itu, Pusat Penyakit Menular Nasional (NCID) Singapura memeriksa 100 pasien yang sudah sehat kembali. Sebelas orang dipilih dan kini menjalani pemeriksaan.

Jika nanti lolos dan dirasa cocok, mereka diminta untuk mendonorkan darahnya. Darah tersebut akan dipakai untuk terapi plasma konvensional pada pasien Covid-19 yang kondisinya kritis.

Mereka yang bisa mendonorkan darahnya adalah pasien yang sudah sembuh minimal selama 28 hari. Selain itu, memiliki tingkat antibodi yang tinggi. Tes darah juga dilakukan untuk memastikan dia tidak memiliki penyakit seperti HIV, hepatitis B, atau hepatitis C. (*)