Cegah Gelombang Kedua, Wuhan Periksa 11 Juta Warga

Petugas keamanan berjalan di depan sebuah restoran di Tiongkok. Tiongkok mengantisipasi gelombang kedua Covid-19. Sebanyak 11 juta warga Wuhan diperiksa (Ng Han Guan/AP)

Perang melawan virus SARS-CoV-2 belum usai. Gelombang kedua bisa jadi lebih ganas. Karena itu, banyak negara yang melakukan hal ekstrem untuk mencegahnya. Namun, tak semua berjalan sesuai dengan rencana.

Zhang Yuxin, misalnya, harus kehilangan pekerjaan. Kepala Subdistrik Changqing, Distrik Dongxihu, Wuhan, Hubei, itu dipecat. Dia dinilai gagal mengontrol dan mencegah penularan virus SARS-CoV-2 di wilayahnya.

Enam kasus penularan baru di Wuhan pada Sabtu (9/5) itu menimpa warga permukiman Sanmin. Area tersebut berada dalam yurisdiksi Changqing yang dipimpin Zhang. Klaster baru itu membuat pemerintah Tiongkok waswas. Mereka takut gelombang penularan kedua terjadi di Wuhan.

Tak ingin mengambil risiko, pemerintah Tiongkok akhirnya mengetes semua penduduk Wuhan. Jumlahnya lebih dari 11 juta orang. Uji Covid-19 itu ditargetkan selesai dalam 10 hari.

”Sekitar 3–5 juta penduduk telah dites dan terbukti sehat,” ujar Wakil Direktur Departemen Biologi Patogen di Wuhan University Yang Zhanqiu seperti dikutip Global Times.

Dengan demikian, kurang 6–8 juta orang lagi yang belum dites. Yang mengungkapkan bahwa tes masal itu adalah penyelidikan epidemiologi untuk menentukan situasi terkini di Wuhan.

Wuhan sempat menjadi episentrum penularan Covid-19. Di kota itulah virus mematikan yang akhirnya menjadi pandemi tersebut ditemukan. Seluruh penduduk Wuhan dikarantina selama berbulan-bulan. Baru beberapa hari ini kebijakan tersebut dilonggarkan. Sayang, langsung disusul dengan temuan klaster baru.

“Kemunculan kembali klaster (penularan) menunjukkan bahwa langkah-langkah penanggulangan epidemi belum bisa dilonggarkan,” tegas Juru Bicara Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok Mi Feng seperti dikutip The New York Times.

Nasib serupa dialami Korea Selatan (Korsel). Otoritas Korsel mengungkap bahwa jumlah orang yang tertular Covid-19 dari klaster kelab malam menembus 101 orang. Jumlah tersebut bisa terus bertambah karena penelusuran masih dilakukan.

Klaster baru itu muncul setelah Korsel melonggarkan kebijakan terkait dengan Covid-19. Korsel tidak menerapkan lockdown, tapi membuat aturan yang ketat sebelumnya.

Petugas kesehatan berusaha melacak 5.500 orang yang berkunjung ke beberapa kelab malam di Seoul antara 24 April hingga 6 Mei. Tapi, lebih dari separonya sulit terlacak. Sebab, tempat-tempat hiburan yang masuk klaster itu kerap dikunjungi kaum gay. Homofobia di Korsel masih tinggi.

Para pengunjung bar itu takut dikucilkan sehingga mereka tidak muncul. Wali Kota Seoul Park Won-soon sampai membuat pengumuman bahwa mereka yang sengaja menghindari uji Covid-19 akan didenda KRW 2 juta atau setara dengan Rp 24,3 juta. (sha/c19/dos/jpg)