Umat Muslim Pakistan Tanpa Masker Padati Masjid

Mayoritas penduduk Pakistan memeluk agama Islam. Selama pandemi virus Korona, Pakistan sudah melaporkan lebih dari 5.300 orang positif dan lebih dari 93 meninggal dunia.

Sayangnya angka ini belum dianggap sebagai alarm bagi masyarakatnya. Sebab masih banyak orang memadati masjid untuk beribadah.

Salah satu warga Pakistan, Sabir Durrani mengatakan dia berdoa hampir setiap hari di sebuah masjid di pusat kota Multan. Dia mengatakan bahwa masih ada selusin atau lebih pria hadir dan tidak ada dari mereka yang mengenakan masker.

Durrani, 52, adalah di antara ribuan orang yang tak takut Covid-19 meski pemerintah Pakistan telah mengeluarkan kebijakan pada pekan lalu.

Pemerintah Pakistan melarang jamaah beribadah di luar rumah dengan lebih dari lima orang atau lebih. Kebijakan itu untuk membendung penyebaran virus Korona.

“Pemimpin doa kami memberi tahu kami bahwa virus tidak dapat menginfeksi kami seperti orang Barat. Dia berkata yang penting wudhu 5 kali sehari sebelum kita berdoa, jadi kita tidak perlu khawatir. Tuhan beserta kita,” katanya kepada Reuters, Selasa (14/4).

Islam memiliki pengaruh besar di Pakistan dengan lebih dari 200 juta orang. Lebih dari 60 persen kasus virus Korona di Pakistan sejauh ini dikaitkan dengan umat Muslim yang kembali dari ziarah di Timur Tengah dan pengikut jamaah tabligh seperti dilansir dari AsiaOne, Selasa (14/4).

Sikap warga tersebut memicu kekhawatiran terjadinya lonjakan besar kasus Covid-19 di Pakistan. Apalagi jumlah yang hadir untuk menunaikan salat cenderung meningkat dengan dimulainya bulan suci Ramadan sebentar lagi.

Sementara itu, Dewan Ideologi Islam, sebuah badan yang memberi nasihat kepada pemerintah tentang masalah agama, telah meminta ulama dan masyarakat untuk bekerja sama dengan mematuhi langkah-langkah pemerintah.

Di Karachi, kota terbesar di Pakistan, polisi diserang selama dua minggu berturut-turut ketika mereka berusaha untuk menghentikan salat di sebuah masjid pada Jumat lalu. Seorang polisi perempuan terluka dalam bentrokan itu, dan pada minggu sebelumnya, polisi melepaskan tembakan ke udara untuk memadamkan massa yang marah.

Di kota-kota lain, polisi tampaknya menutup mata terhadap beberapa pertemuan di masjid. Jumat lalu, salah satu tren muncul di Pakistan dengan kampanye ‘Para Muslim, masjid memanggil Anda’.

Di ibu kota Islamabad, ratusan orang berkumpul pada hari Jumat tanpa ada hambatan di salah satu masjid terbesar di kota itu, yang terletak hanya dua mil (tiga km) dari pusat pemerintahan Pakistan. Pada 27 Maret, pihak berwenang menangkap 38 orang karena menentang pembatasan pada jamaah tetapi dakwaan dicabut sehari kemudian dan orang-orang dibebaskan.

Akbar, asisten khusus perdana menteri, mengatakan sebagian besar masjid bekerja sama dengan pemerintah. Namun dia mengakui ini adalah masalah sensitif. “Ini adalah masalah sensitif, kami tidak ingin memaksakan dengan kekerasan,” ujarnya. (*)