Ekonomi Inggris Terjun Bebas

Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak. Inggris dilanda kondisi ekonomi yang buruk akibat pandemi Covid-19 (Southern Daily Echo)

Badan statistik milik pemerintah Inggris baru saja memaparkan kenyataan pahit tentang ekonomi negara mereka. Office for National Statistics melaporkan bahwa ekonomi negara kerajaan tersebut menyusut 2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penyusutan itu juga dialami banyak negara lain di wilayah Eropa.

Ekonomi Inggris memang seret mulai tahun lalu. Pada kuartal IV 2019, laju produksi domestik bruto (PDB) mereka seakan masuk ke gigi netral. Nol persen. Namun, pemerintah masih memasang target pertumbuhan ekonomi 2020 sebelum wabah Covid-19 muncul. ”Pandemi kali ini mengubah segala aspek ekonomi dan menjatuhkannya,” ujar Jonathan Athow, pakar statistik ekonomi dari Office for National Statistics, kepada CNN.

Catatan PDB kuartal pertama terkena pukulan berat oleh capaian Maret. Bulan itu, PDB Inggris turun 5,8 persen bila dibandingkan dengan Maret 2019. Penyusutan bulanan terbesar sejak krisis moneter pada 2008.

Rekor tersebut bisa pecah dalam laporan PDB April. Sebab, kegiatan bisnis belum tutup pada awal Maret. Kondisi ekonomi Inggris pada dua bulan terakhir ini hampir lumpuh. ”Dampak dari dua minggu lockdown pada Maret saja sudah luar biasa. April akan menjadi yang terburuk karena Mei sudah dibarengi pembukaan bisnis,” kata Ruth Gregory, pakar ekonomi dari Capital Economics, kepada BBC.

Meski membaik, pakar mengingatkan bahwa keadaan tidak bakal kembali seketika. Capaian PDB pada kuartal kedua diperkirakan bisa mencapai angka dua digit. Bahkan, Bank of England mengestimasi PDB Inggris tahun ini turun 14 persen. Pada saat yang sama, bank sentral kerajaan itu menyatakan bahwa tingkat ekonomi bisa kembali seperti semula pada 2021. Prediksi PDB tahun depan adalah 15 persen.

Pemerintah Inggris sudah buru-buru ingin kembali menggerakkan roda ekonomi. Perdana Menteri Boris Johnson sudah meminta bisnis yang diperbolehkan buka segera beroperasi. Menteri Keuangan Rishi Sunak memperpanjang subsidi gaji sampai Oktober. ”Kami tahu skema ini menghabiskan banyak dana. Namun, dampak di masyarakat lebih besar jika kebijakan ini dicabut,” ungkapnya.

Sementara Prancis dan Italia mencatat hasil yang lebih buruk. Prancis mencatat penurunan PDB 5,8 persen. Penyusutan ekonomi Italia mencapai 4,7 persen. Penyebabnya, dua negara itu memberlakukan kebijakan karantina lebih awal daripada Inggris.
Tahun ini Uni Eropa memperkirakan rata-rata ekonomi dari 27 negara anggota mereka turun 7,4 persen.

”Yang menjadi masalah adalah dampak dan pemulihan yang tidak merata di antara anggota. Akibatnya, sistem pasar tunggal yang dibangun selama ini bisa hancur,” papar Paolo Gentiloni, salah seorang pejabat senior UE sebagaimana yang dilansir Washington Post.

Pada saat yang sama, krisis tersebut bisa menjadi momentum untuk menyatukan negara yang selama ini belum sepenuhnya sepakat. Pandemi bisa dipandang sebagai musuh bersama yang akhirnya memperkuat hubungan negara di Benua Biru. (bil/c14/dos/jpg)